
Beno telah pulang, dirinya tersenyum di depan pintu rumah. Mengapa Beno tersenyum? Karena dirinya ingin disambut oleh kekasih hati, siapa lagi kalau bukan Arventa.
Beno menekan bel, menunggu beberapa detik dan pintu tetap tertutup. Masih tersenyum, Beno menekan bel sekali lagi, dan hasilnya sama.
Beno pun memutar kenop pintu dan ternyata pintu rumah tidak terkunci. Perasaan Beno tidak enak, dirinya mencari keberadaan Arventa, pria itu pun masuk ke kamar dan tidak ada Arventa di sana.
"Arventa," panggil Beno.
"Arventa!" kali ini panggilannya menjadi sebuah teriakan.
Beno mencari kekasihnya di seluruh ruangan, tapi, Beno tidak menemukannya. Beno menelepon Arventa, sayangnya ponsel Arventa non-aktif.
Beno menghubungi Mona, dan panggilannya terjawab.
"Di mana Arventa?"
"Jawab, di mana?!"
"Jawab!"
__ADS_1
Tutt...
Sambungan diputuskan, Beno melempar ponselnya hingga rusak. Beno rasa ada yang tidak beres, saat dirinya bertanya di mana keberadaan Arventa, Mona enggan menjawab.
"Ada masalah apa sebenarnya?!" frustasi Beno.
"Huft, tenangkan dirimu. Jika ada masalah, hadapi dengan kepala dingin. Emosi hanya dapat merusak segalanya, tunggu hingga Arventa tenang," Beno menenangkan diri.
Pria itu frustasi saat ini, padahal dirinya ingin melamar Arventa sebentar lagi. Beno tahu dirinya tidak romantis seperti pria lain, tapi, Beno tahu juga bahwa romantis itu tidak cukup, percuma romantis jika tidak dibuktikan dengan kepastian.
Menurut Beno, pacaran anak sekarang pada umumnya terlihat norak. Deretan kalimat manis terlisan di mulut mereka, namun kepastian tak kunjung bertindak.
"Beri waktu Kekasihmu tiga hari, jika lebih dari itu, detik itu pula aku akan mencarinya hingga ketemu. Jangan egois, Beno! Kau tidak boleh egois, ada kalanya seseorang butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri daripada mendengar ocehan orang yang tidak berguna."
"Duh, gimana yah dengan nilai gue? Apakah aman? Tapi, ini semua demi Arventa, sahabat gue! Jadi gue harus berkorban demi dia, namanya juga sahabat sejati," ucap Mona menyemangatkan diri.
Mereka ada men-carter mobil, perjalanan yang lama membuat bokong mereka terasa pegal karena terus duduk.
"Bang cepetin dong, pantatku sakit," suruh Mona.
__ADS_1
"Kalau pantatnya sakit, sini Neng. Duduk di pangkuan Abang," balas sang supir.
"Duduk di pangkuan Abang, fokus nyetir aja deh, Bang," balas Mona sebal.
Supir pun hanya cengengesan dan kembali fokus menyetir, pantat yang terus duduk membuat Mona, Cici, dan Arventa tidak tahan. Mereka pun mengangkat sedikit demi sedikit bokong mereka agar bernapas sejenak dari rasa sakit.
"Sekarang tangan gue yang pegal," ujar Cici.
"Semenit angkat, semenit duduk lagi. Gitu aja terus hingga sampai di tujuan," balas Arventa.
Mereka pun melakukannya, dan ternyata berhasil. Pantat yang pegal kini hilang dan mereka kembali duduk dengan nyaman.
Namun, perjalanan menghabiskan waktu selama delapan jam, dan pantat mereka harus tersiksa lagi.
Berjam-jam kemudian, akhirnya mereka sampai di rumah Arventa. Bersamaan dengan hal itu, Arventa menepuk jidat.
"Kok gue lupa sih? Kalau gue punya mobil?" tanya Arventa.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
LANGSUNG BACA KE PART 41!!!
PART INI TELAH DIHAPUS!!