My Lecturer Husband

My Lecturer Husband
Chapter 29


__ADS_3

Rega hilang tanpa kabar, meninggalkan Glady menangis seorang diri, wanita itu kini menderita serta takut jika dirinya mengandung anak Rega.


"Rega brengsek!" teriak Glady.


Saat ini, wanita itu berada di depan rumah Rega. Saat Glady bertanya ke mana pria itu, tetangga menjawab bahwa Rega telah pindah rumah.


"Rega sialan, dia sengaja buat hamilin gue terus pergi seenaknya."


"Sekarang gue harus apa?!"




Arventa berpapasan dengan Rejav, wanita itu ingin menyapa namun Rejav dengan cepat melewatinya. Arventa merasa, Rejav seperti orang asing.



"Eh, kok Rejav gitu?" bingung Arventa.



Arventa mengejar Rejav lalu menepuk pundak cowok itu, "Rejav."



Rejav berbalik menatap tajam Arventa, walau di dalam hati pria itu ingin memeluk wanita di depannya.



"Jauhin gue!" ucap Rejav sinis.



Arventa mendadak bingung, wanita itu berpikir mengapa Rejav terlihat membencinya?



Selangkah Rejav berjalan, Arventa menahan pria itu namun tangan Arventa ditepis secara kasar.



"Gue udah bilang, menjauh! Jangan deket-deket," bentak Rejav.



"Ih, kok bisa? Jelasin dulu, Jav. Gue salah apa?" tanya Arventa.



"Murahan," balas Rejav memandang rendah wanita di hadapannya.



"Maksud lo apa sih, Jav? Ngejek gue murahan, lo pasti bercanda, kan?" tanya Arventa berusaha tersenyum.



Ingin sekali Rejav menyubit pipi Arventa yang mengembung itu, tapi, dirinya terpaksa membenci Arventa.



"Seorang wanita tidak akan mudah menyerahkan harga dirinya hanya untuk kenikmatan sementara," ujar Rejav lalu meninggalkan Arventa yang terdiam.



"Bagaimana bisa Rejav tahu?" panik Arventa.



Arventa takut dan khawatir, jika Rejav menyebarkan berita itu maka hancurlah dirinya sudah. Berbagai hinaan, cacian dan tatapan benci akan ia lahap setiap harinya.



Arventa kembali mengejar Rejav, dirinya memang murahan. Dengan alasan nilai E dia merelakan kesuciannya kepada Beno.


__ADS_1


"Rejav!" teriak Arventa.



Rejav tak berhenti, pria itu semakin kesal dengan Arventa. Jika Rejav berbalik pria itu akan mengeluarkan kalimat yang lebih menyakitkan lagi dari sebelumnya.



Namun bukan Arventa namanya jika cepat menyerah, langkah cewek itu berhasil menyusul Rejav sehingga Rejav harus berhenti dikarenakan Arventa tiba-tiba ada di depan cowok itu sambil merentangkan tangan.



"Gak boleh pergi sebelum minta maaf ke aku!"



Rejav memejamkan mata, berusaha tenang dan selalu mengontrol diri.



"Huft, minggir Venta!" bentak Rejav lagi.



Mereka disaksikan oleh banyak mahasiswa dan Dosen, bahkan para Dosen yang melihatnya geleng-geleng kepala terutama kepada Arventa.



"Venta, kalau lo gak minggir, rahasia lo gue umbar di depan banyak orang!" ancam Rejav.



"Dari mana lo tau?!" tanya Arventa.



"Lo gak perlu tau!" balas Rejav.



"Gimana kalau aku umbar juga, kalau kamu udah nyium anu aku," tantang Arventa membuat mata Rejav melotot.




Sontak Rejav menutup mulut Arventa, "Ssshh, jangan besar-besar, goblok!" kesal Rejav.



"Makanya minta maaf!" paksa Arventa.



Rejav kesal sendiri, seharusnya Arventa yang meminta maaf kepadanya karena telah melukai hati pria tersebut, bahkan mengkhianati peringatannya.



"Argh, oke-oke. Gue minta maaf, puas?!" tanya Rejav.



"Puas dong, makasih Rejav sayang," jawab Arventa, tanpa malu Arventa mencium pipi Rejav kemudian pergi.



Di sisi lain, Beno mengepal tangan lantaran cemburu melihat Arventa mencium pipi Rejav.



"Sepertinya aku harus menghukum Venta," gumam Beno.



Dengan wajah yang ceria Arventa masuk di dalam kelas, tapi wajah cerianya hanya sementara ketika Beno ada di depannya sambil melipat tangan di depan dada.


__ADS_1


"Ow, ow. Gue lupa kalau bapak pasti ngeliat apa yang gue lakuin," ucap Arventa menjitak dahi sendiri.



"Kelas ini sengaja saya kosongkan, kamu tahu kan alasannya?" tanya Beno dingin.



"Pasti mau ngasih saya hukuman, kan?" tanya Arventa.



"Benar sekali, dan hukumannya-" ujar Beno menggantung ucapannya membuat Arventa penasaran, "teriak di tengah lapangan bahwa kamu adalah milik saya," lanjut Beno dengan senyum miringnya.



Arventa melongo, mulutnya terasa akan jatuh di lantai jika dirinya tidak sadar saat ini.



Tatapan itu membuat Arventa bergidik ngeri, seakan dapat membaca bahwa jika dirinya tidak menuruti hukuman tersebut, maka hukuman akan lebih sulit lagi bahkan aneh.



"Pak, gak ada hukuman lain? Yang lebih memudahkan," pinta Arventa.



"Ada, cukup bercinta di kelas ini," jawab Beno dengan senyuman iblisnya.



"Erghh, baiklah Bapak tersayang, kali ini Anda menang," kata Arventa.



"Lakukan sayang," balas Beno.



Arventa keluar kelas dengan cepat kemudian berlari menuju lapangan, tak seberapa lamanya Arventa telah sampai di lapangan.



Arventa mulai menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan-pelan kemudian berteriak, "Namaku Arventa, kekasih dari Redian Beno Agriata! Tak ada yang boleh merebutku dari Bapak Beno, Dosen tertampan di kampus ini."



Arventa merasa lega, sekaligus malu. Wajahnya memerah saat semua orang menatapnya tak percaya.



Karena tak percayanya, para mahasiswa meledek Arventa dengan perkataan 'halu'



"Woi, jangan halu, lu!"



"Mimpi kali!"



"Segitunya yah?! Lo gak level."



Beno menggeram marah mendengar ujaran makian tersebut kepada wanitanya, untuk membutikan kalimat Arventa, pria itu menyusul Arventa dan mencium bibirnya di tengah lapangan serta kerumunan para mahasiswa yang berteriak histeris.



"Aaa! Sialan, dia bener!" pekik para mahasiswi.



Sedangkan Rejav melihat pemandangan tersebut dengan napas yang memburu, semakin memburunya pria itu langsung pergi.

__ADS_1



Bukan hanya Rejav, Geo juga ikut merasakan. Patah hati? Lebih dari itu, hatinya terasa mati ketika melihat sang pujaan hati yang begitu romantisnya di hadapan orang-orang, terbesit di pikiran Geo bahwa dirinyalah yang memeluk Arventa sambil mengecup bibir merah delima itu dengan lama. Namun sayang, itu hanyalah sebatas imajinasinya saja dan harapan yang tak akan pernah terkabulkan, miris sekali.


__ADS_2