My Lecturer Husband

My Lecturer Husband
Chapter 6


__ADS_3

"Aduh, hati abang panas nih liat mantan dengan bahagianya nyapa kita," goda Aksa.


Rejav menggeram kesal dan berbalik arah, malas menatap wajah munafik itu, suasanana hati yang telah buruk semakin memburuk.


Berhati-hatilah, mantan bagaikan kanker yang selalu menggrogoti dan mengakibatkan luka yang fatal.


"Tenang aja, Jav. Lama-lama pasangan itu putus juga, gue yakin," ucap Japra.


"Kita putus!"


Rejav dan Japra kompak berbalik mengira suara tersebut berasal dari mulut Glady, sayangnya bukan, melainkan dari ponsel Aksa yang sengaja diputar oleh sang pemilik, hal tersebut berhasil membangkitkan hawa jahat yang berasal dari tubuh Rejav.


"Putus atau enggaknya, terserah mereka!"


"Oke, jadi lo gak peduli gitu, terus kenapa lu nengok tadi bambang?" tanya Aksa dan skakmat, bibir Rejav terasa kelu untuk berbicara, lebih tepatnya kehabisan kata-kata.


Mona dan Cici mengipas wajah Arventa yang terlihat memerah karena kesal, kesal kepada Rega yang menyapanya seolah tidak ada rasa bersalah sama sekali.


"Kipas yang kenceng, Ci. Biar setannya kehempas bersama mantan," ucap Mona.


Cici tertawa pelan mendengar ucapan Mona, Cici rasa Rega merupakan mantan yang tidak tahu malu, dengan bangganya mempamerkan hubungan mesra mereka yang ujung-ujungnya belum tentu lurus, siapa tahu karma terjadi dan sambaran tikungan balasan menimpa ke Rega.


"Katanya, move on, kok masih kesel sih liat mantan bersama pelakor?" tanya Cici.


"Kesel lah, dia nyapa gue seolah gak ada salah sama sekali yang berarti dia lupain semua hal yang pernah dia lakuin ke gue, otomatis gak ada niatan minta maaf gitu?" tanya balik Arventa.


Cici dan Mona kompak mengangkat tangan menyerah, urusan barisan sakit hati memang suli disembuhkan, apalagi luka yang dideritanya menganga lebar, perlu ada obat yang dapat merangsang daging hingga menyatu kembali.


Mona berpikir, siapa yang dapat merangsangnya? Apakah Cici? Tidak mungkin, lebih-lebih dirinya, pasti seorang laki-laki yang dapat menutupi luka itu dan Mona langsung yakin siapa laki-laki itu.


"Makan ketan buru-buru, lupakan mantan cari yang baru," timpal Cici dan mendapat dua jempol dari Mona.

__ADS_1


"Tau dari mana lu pantun?" tanya Mona,


"Di google dong," jawab Cici.


Jarak antara, Arventa dan Rejav tidak terlalu jauh, masing-masing kubu terlihat kompak dari berapa lama mereka dapat bertahan di tempat tersebut sambil memandang mangsa yang akan diterkam, tapi, dua sahabat penyelamat tentunya tidak tinggal diam, dari pada mereka kepanasan berdiri dan terlihat seperti orang bodoh, mereka menarik ketua kubu untuk pergi dari tempat itu.


"Gue pusing liat lu, Jav. Perasaan lu ke dia hilang atau belum?" tanya Aksa.


"Belum atau masih?!" timpal Japra ikut-ikutan.


"Hilang," jawab Rejav.


"Kalau udah gak ada, ngapain emosi tadi? Untuk memastikan lo udah move on atau belum, lo harus pacaran! Bisa gak?" tantang Aksa.


"Bisa, dalam berapa hari gue kudu dapetin pacar?" tanya Rejav.


"Secepatnya lah, kan udah bangkit," jawab Aksa.


"Fine!"


Mereka tidak langsung pulang, melainkan menuju sebuah tempat yang dimana para cewek-cewek berkumpul yaitu di taman bunga, Aksa dan Japra mendorong tubuh Rejav ke perkumpulan para cewek.


"Njir, apa nih? Cabe semuanya," tolak Rejav kemudian ingin berbalik tapi ditahan oleh Japra.


"Sekali-kali main cabe, ntar lu dapat bonusnya, enak lo main sama cabe," tahan Japra dan menggoda Rejav.


Rejav menghela napas pasrah kemudian berjalan mendatangi para cewek liar itu, Rejav tidak langsung menyapa mereka, hanya duduk saja tapi tidak berjauhan juga, hanya sebatas tiga langkah.


Kumpulan cabe memandang Rejav tertarik, bisik-bisik mulai terdengar, dimulai dari mereka yang memperhatikan lengan Rejav yang kekar, sedangkan Rejav mulai keringat dingin saat salah satu dari kumpulan tersebut perlahan mendekat dan menatapnya mesum.


"Serasa mau diperkosa, gue," ucap Rejav dalam hati.

__ADS_1


Aksa dan Japra menahan tawanya melihat Rejav yang digoda para cabe, bahkan mereka saling cubit-cubitan saking lucunya melihat ekspresi Rejav saat ini.


"Siapa namanya? Kok ganteng?" tanya salah satu dari mereka.


Rejav sedikit bergeser, merasa risih dengan cabe di sampingnya yang terang-terangan menggodanya, "Aksa," jawab Rejav berbohong.


"Aksa, yah?"


"Udah tau, Aksa ngapain nanya lagi?!" bentak Rejav dan semuanya langsung kabur.


Entah kenapa, kali ini Rejav yang tertawa, "Njir, cuman gue bentak doang malah kabur semuanya.'


Aksa dan Rejav berdecak sebal melihat sahabatnya yang begitu senang ketika menggagalkan rencana mereka bertiga sendiri.


"Hadeh, payah lo, Jav. Main dulu bentar kek, baru kasih penutup kek tadi," ucap Japra.


"Sama aja gue bunuh diri dipelukan cabe, bego," balas Rejav.


Aksa dan Japra menggeleng kepalanya kemudian menunjukan video hasil rekaman mereka tadi yang dimana berjudul 'Rejav digodain cabe-cabean, { TIPS MOVE ON PART 1 }'


"Bangke!" teriak Rejav saat melihat banyaknya orang yang telah menonton video tersebut.


"Gak punya harga diri," ucap Aksa membaca salah satu dari komentar yang tertera.


"Gak laku," lanjut Japra.


"Miris."


Rejav menjitak dahi Aksa dan Japra berulang kali karena menyesal telah menuruti tantangan dari kedua sahabatnya, bukan mendapat pacar melainkan nasib sial menimpanya berulang kali, dan Rejav yakin keesokan harinya video tersebut beredar luas seantero kampus.


"Hapus cepet, sebelum ada yang save!" garang Rejav dan sekali klik, video tersebut musnah.

__ADS_1


__ADS_2