My Lecturer Husband

My Lecturer Husband
Chapter 40 END


__ADS_3

Ke esokan harinya, Beno akan pergi ke rumah calon mertuanya, tentu bersama Arventa. Beno akan memberitahu ke ayah Arventa jika dirinya akan menikahi sang anak.


Selama delapan jam perjalanan yang mereka tempuh, tidak ada pembicaraan yang terjadi, entah kenapa mereka merasa canggung.


Sampainya di rumah Arventa, para tetangga berbondong-bondong datang dan membicarakan Arventa.


"Tetangga seribu bibir," gumam Arventa.


Beno tidak peduli dengan pembicaraan para tetangga tersebut, dirinya hanya fokus ke Arventa dan calon mertuanya.


Beno mengetuk pintu, tak lama kemudian, Rahmi yang merupakan Ibu Arventa membuka pintu dan langsung memeluk Arventa dengan erat.


"Akhirnya kamu pulang juga, Nak," ucap Rahmi dengan isak tangis. Arventa tak kalah memeluk ibunya dengan erat.


Satu hal yang dilihat oleh Beno, pria itu tidak percaya dengan ibunya Arventa yang juga tak kalah cantik dari anaknya.


Pria itu pun tersenyum dan membatin bahwa tidak salah jika Arventa sangat cantik.

__ADS_1


"Eh, dia siapa, Nak?" tanya Rahmi.


"Kenalin, Buk. Dia Beno, Pacar Venta," jawab Arventa.


Mendengar kata 'pacar' dari Arventa membuat senyum Rahmi menjadi luntur, Rahmi terdiam sejenak. Dalam pikiran, Rahmi menjadi khawatir, bukan masalah tentang anaknya yang telah dimiliki oleh Beno, namun dengan Jaya, suaminya.


"Nak, Beno. Sini masuk, gak baik di luar, tetangga pada liatin," ucap Rahmi. Arventa dan Beno masuk dalam rumah, Rahmi pun menutup pintu agar tetangga tidak semakin kepo dengan urusan keluarga mereka.


Jaya, yang ada di dalam kamar akhirnya keluar juga dan melihat Arventa bersama Beno yang masuk di dalam rumah.


Beno tentu terkejut, begitupun Rahmi dan Arventa. Jaya menatap Beno dengan pandangan yang tajam, apalagi tangan Jaya sudah mengepal kuat, ayah mana yang rela jika anaknya telah dipersunting oleh seorang pria? Padahal mereka belum menikah.


"Saya akan menikahi, anak anda," balas Beno tegas.


Jaya menatap mata Beno, beberapa menit kemudian. Wajah yang semulanya tidak bersahabat itu mulai tersenyum.


"Ada pesan yang ingin aku sampaikan kepadamu," ucap Jaya pelan.

__ADS_1


"Pesan Bapak, akan saya taati," balas Beno.


"Jangan pernah engkau sakiti hati anakku, jika engkau tidak mencintainya lagi, jangan engkau beritahukan kepadanya. Tapi, cukup membawanya kepadaku dan aku akan membawanya pulang," ucap Jaya yang begitu berat mengatakannya.


Arventa yang mendengar kalimat itu, langsung memeluk ayahnya dengan erat juga menangis.


"Hiks, maafin Arventa. Arventa membuat Bapak dan Ibu malu, Arventa hanya aib di keluarga Valencia."


Jaya membalas pelukan anaknya, saat kalimat itu terdengar, sebagai seorang ayah Jaya pun tertohok hatinya. Apalagi, mengingat perkataannya kemarin yang begitu kejam sampai kelepasan mengecap anaknya sendiri sebagai pelacur.


"Maaf," Jaya tidak dapat melanjutkan kalimatnya, hanya kata maaf yang terdengar begitu lirih juga menyesal.


Beno yang melihat itu, tak kalah tertohok hatinya. Dirinya telah merusak anak gadis orang, melihat ayah dan ibunya yang menangis, cukup melukai hati Beno begitu dalam.


"Tidak akan pernah, ketika Arventa sudah menikah dengan saya. Ucapan tidak mencintai, tidak akan pernah terucap dan terdengar sekalipun. Itu adalah sumpah saya."


Lanjutan cerita telah dihapus......

__ADS_1


__ADS_2