
"Haduh, haduh, sahabat gue yang paling ganteng kok keliatan lemes? Patah hati? Jantung?" tanya Japra ke Rejav.
Japra khawatir melihat Rejav yang terlihat murung, jawabannya sudah pasti karena Arventa.
Arventa merupakan kesenangan bagi Rejav, namun sayang sekali Rejav telah dilambung cepat oleh sang Dosen killer dan tertampan di kampus.
"Cari yang lain, kalau perlu lo mau balik ke Glady?" tanya Japra.
"Ogah!"
"Weh, kaget gue, bahas Glady langsung ngegas padahal udah dienakin juga, hahaha," ledek Japra kemudian pergi.
Rejav hanya menahan kekesalannya, bukannya membantu Japra hanya dapat menambah amarahnya.
Rejav bergumam, "Ck, jomlo aja dulu."
Aksa yang datang sambil membawa minuman mendengar gumaman Rejav.
"Banyak cewek selain Arventa, cari lagi yang baru," ucap Aksa memberi segelas minuman ke Rejav.
"Perasaan gak mudah berubah, butuh waktu," balas Rejav.
"Sampai kapan? Kenapa butuh waktu lagi? Lo kan udah tau Arventa milik Pak Beno, gak ada kata butuh waktu lagi buat hilangin perasaan, langsung buang aja, bro," ucap Aksa, gemas kepada Rejav yang gagal move on.
Apa yang dikatakan Aksa menurut Rejav sangat mudah diutarakan, namun ketika mencobanya begitu sulit untuk dilupakan.
Rejav diam, tak membalas perkataan Aksa, pria itu lebih menikmati minuman yang dipegangnya, berharap minuman tersebut ikut berlarut bersama perasaannya.
"Bengong aja lu pada sampai gak sadar kalau Rega gak ada di kampus tadi, gak biasanya tu cowok gak ada, Glady juga gak gue liat kayaknya," ucap Japra datang tiba-tiba.
"Ngapain mikirin mereka? Gak penting, kek lo gak tau aja Jap, yah pasti mereka lagi ena-ena, kompak gitu gak ada di kampus," balas Aksa.
"Mungkin, kenapa gue gak kepikiran yah?" tanya Japra.
"Kan lo goblok, Jap," jawab Aksa.
"Kampret!" balas Japra.
__ADS_1
Apa kabar dengan Glady? Cewek ada di rumahnya sambil berteriak kesakitan karena dipukul oleh ayahnya.
"Glady, Glady! Bapak gak pernah ngajarin kamu buat berzina, jangankan zina, nakal pun tidak!"
"Maafin Glady, Pah," ucap Glady memohon ke ayahnya.
"Pergi dari rumah! Anak Bapak bukan pelacur, pergi dari rumah!" bentak ayah Glady.
Glady menahan tangan Ayahnya namun ditepis secara kasar bersama dengan itu Glady mendapat tamparan keras.
"Kalau kamu hamil, cari pria itu! Jika dia mau tanggung jawab, oke, Bapak terima kamu di sini, kalau tidak? Jangan harap menghirup udara di rumah ini, sekalipun," usir ayah Glady mendorong anak perempuannya keluar dari rumah.
"Pah, buka pintunya, buka!" teriak Glady menggedor pintu rumah, tapi percuma karena pintu tidak akan pernah terbuka.
Sedangkan di dalam rumah, ayah Glady menangis karena tidak menyangka anaknya melakukan perbuatan maksiat itu, dia sebagai ayah gagal mendidik anak perempuannya.
"Maafin ayah, kamu harus sadar terlebih dahulu," ujarnya kemudian menuju kamar untuk menangkan diri.
Glady menyeka air mata dan menguatkan diri untuk mencari Rega, untuk saat ini Glady belum mencarinya, tapi esok, karena dirinya harus mencari tempat tinggal terlebih dahulu dan Glady sudah tahu rumah siapa yang ia tujui.
Rumah Rejav, Glady mengetuk pintu rumah tersebut dalam beberapa detik pintu dibuka oleh Aksa.
"Gue mau tinggal di sini, boleh?" tanya Glady.
"Gak boleh! Ntar lo grepe-grepein Rejav lagi, kalau gue sih mau," jawab Aksa.
"Please, sekarang ini gue gak punya tempat tinggal lagi, gue diusir sama ayah," mohon Glady.
Aksa memicingkan matanya, lalu, "Oke! Boleh, mumpung gue baik walaupun bukan rumah gue," balas Aksa dan Glady tersenyum lega.
Saat masuk, Glady melihat Rejav dan Japra tengah menonton Tv sampai mereka diganggu dengan teriakan Aksa.
"Woi, ada tamu!"
"Gak teriak juga kali, siapa?" tanya Rejav tetap fokus dengan layar di depannya.
"Coba lo balik," suruh Aksa.
__ADS_1
Saat berbalik, pandangan mata mereka bertemu, yang satunya merasa bersalah dan satunya lagi menatap dengan penuh benci.
"Usir dia," perintah Rejav dingin.
"Dia gak punya tempat tinggal, Jav," balas Aksa.
"Gue gak peduli, pelacur gak pantes nginjak rumah gue," kalimat penuh penekanan itu membuat Glady sakit hati.
Glady menghampiri Rejav kemudian meminta maaf, "Sorry, gue minta maaf banget, gue nyesel tapi tolong biarin gue nginep di sini sampa nemuin Rega," pinta Glady sambil terisak.
"Rega, bukannya dia sama lo?" tanya Rejav sinis.
"Setelah gue main sama dia malam itu, dia udah menghilang sampai sekarang, bahkan karena ini gue diusir sama bokap gue," jawab Glady.
'Rasain lo!" batin Rejav.
Tapi, Rejav masih dapat bersifat baik dan menerima Glady untuk menginap di rumahnya.
"Lo boleh tinggal di sini, tapi satu syarat," ucap Rejav.
"Apa syaratnya, gue bakal lakuin apa pun itu," balas Glady.
"Kalau Aksa minta dipuasin lo mau gak?" tanya Rejav dengan seringai liciknya.
Rejav memang baik, tapi jangan salah sangka, pria itu tidak mudah memberi kebaikannya ke orang lain. Yang pastinya sifat iblis dari pria tersebut juga ada di sela kebaikannya.
"Gu-gue, mau," jawab Glady.
"Oke, lo boleh tinggal di sini walau dengan tubuh yang terjual gratis," balas Rejav.
Glady ingin menolak, tapi tidak ada cara lain selain menyanggupi syarat tersebut. Toh, Glady merasa dirinya sudah terhina dan penuh dosa.
"Kamar lo ada di sana, berseblahan dengan kamar gue," beritahu Rejav.
"Makasih," ucap Glady tak mendapat balasan dari Rejav.
Glady rasa dirinya harus bersyukur jika mantan kekasih masih berbaik hati ketika mengingat perbuatannya yang begitu merugikan untuk Rejav.
__ADS_1
Bagaimana dengan Japra? Pria itu masa bodoh dengan kehadiran Glady pria itu lebih asik melihat layar di depannya.