My Lecturer Husband

My Lecturer Husband
Chapter 19


__ADS_3

"Aksa, Rejav, Japra! Apa yang kalian lakuin?!"


Mereka bertiga sontak berbalik dan melihat Pak Beno berkacak pinggang sambil membawa pegangan sekop sampah.


Dosen yang terkenal menyeramkan itu mulai mendekat dan menjewer telinga Rejav.


"Astagfirullah, Rejav. Kamu mau perkosain anak orang?!" tanya Pak Beno.


"Nggak, Pak. Kami la-"


"Kalian berani membohongi Bapak? Jangan mengelak lagi, dengan kalian yang bertelanjang dada sudah menjadi bukti," ucap Pak Beno memotong perkataan Rejav.


Selanjutnya, Pak Beno mengalihkan pandangannya ke arah Japra dan Aksa yang memeluk tubuh Mona dan Cici.


"Loh, loh, Mona sama Cici pasti pingsan karena kalian mau grepein?! Ck, ck, ck. Bawa mereka berdua ke ruang kesehatan terus menghadap ke saya," ujar Pak Beno marah, kemudian pergi dari tempat kumuh tersebut.


Setelah Pak Beno pergi, ketiga cowok tersebut menggeram kesal, mereka kompak menatap Arventa.


"Eh, kok liatin gue, sih?" tanya Arventa.


"Semuanya gara-gara, lo!" bentak mereka bersama.


Arventa meneguk saling saat Rejav semakin mendekati dirinya dengan tatapan elangnya.


"Lo bakalan terima hukuman dari gue, tunggu aja," bisik Rejav kemudian pergi.


Tak lupa dengan Aksa dan Japra yang menggendong sahabat Arventa menuju ruang kesehatan.


Rejav terlebih dahulu menghadap ke Pak Beno, cowok tersebut mendengar omelan dosennya terus-menerus.


"Rejav, kamu gak mikir? Daripada hamilin anak orang mending nikahin aja langsung," ucap Pak Beno mengakhiri penceramahannya.


Tak lama kemudian, Aksa dan Japra datang menyusul. Pak Beno sendiri menghela napas panjang kemudian menatap Rejav tajam, "Bapak malas menegur, kamu sampaikan apa yang telah saya katakan semuanya kepada kamu. Silahkan pergi."


Aksa dan Japra yang baru masuk langsung ber-tos ria, mereka bersyukur datang terlambat jadi Rejav yang menjadi pelampiasan utama Pak Beno.


Rejav dengan dengusan sebalnya keluar dari ruangan mengabaikan Aksa dan Japra yang ingin bertanya.


"Njir, ngambek tuh Rejav," terka Aksa.


"Jelas, mukanya kusut gitu," balas Japra kemudian menyusul Rejav bersama Aksa.

__ADS_1


Rejav kesal, sangat kesal kepada satu gadis yang telah membuatnya sial di pagi hari. Cowok tersebut berjalan dengan buru-buru menuju kelas Arventa.


Sampai di tujuan, dengan kasarnya Rejav menggedor pintu dan meneriaki nama Arventa.


"Arventa, keluar lo sekarang!" dengan nada membentak, tak peduli dengan dosen yang mengajar di kelas.


"Hei, kamu siapa?! Beraninya mengganggu ketenangan di kelas ini, menghadap sama Ibu, segera!"


Rejav acuh, malahan cowok tersebut berjalan dengan angkuhnya menghampiri Arventa dan menarik gadis tersebut keluar kelas lalu membawanya ke suatu tempat.


"Lo harus ikut gue!" dingin Rejav.


"Eh, lo mau bawa gue ke mana?" tanya Arventa.


"Bacot."


Mereka keluar dari area kampus, dengan nada memaksa Rejav menyuruh Arventa masuk ke mobil.


"Ish, sabar dong," kesal Arventa, dengan pasrah gadis tersebut masuk dalam mobil karena takut melihat wajah Rejav yang menyeramkan ketika marah.


Setelah masuk, Rejav langsung melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, membuat jantung Arventa berdegup dua kali lipat dari biasanya.


Hanya beberapa menit saja, Rejav membawa Arventa ke rumahnya. Cowok tersebut turun dari mobil dan menyuruh Arventa keluar.


"Siapa juga yang berharap? Kan cowok pemberi harapan palsu," balas Arventa.


Arventa keluar dari mobil dan menutup pintunya dengan kasar dan tampak tidak peduli dengan Rejav yang selalu menggerutu.


"Ini rumah siapa?"


"Rumah gue, sekali lo nanya lagi bakalan gue perkosa," jawab Rejav kemudian mengancam Arventa.


Jujur, Rejav sangat kesal kepada Arventa. Bahkan dirinya rela membolos dan meninggalkan dua sahabatnya untuk memberi hukuman kepada Arventa.


Arventa jelas takut setelah mendapat ancaman tersebut, dengan keheningan dirinya masuk dalam rumah Rejav.


"Bersihin rumah gue! Gue kasih waktu sampai sore," perintah Rejav membuat Arventa melototkan mata.


"Enak aj-"


"Enak kalau kita ngeue di sini. Bacot lagi gue beneran perkosa lu," potong Rejav.

__ADS_1


Arventa menahan kesalnya mati-matian, dirinya hanya dapat mengikhlaskan diri untuk membersihkan rumah yang layaknya kapal pecah.


Saking kapal pecahnya, berbagai macam celana dalam pria berserakan di lantai, detik kemudian Arventa berpikir.


Gue harus mungut sempak satu per satu?


Arventa langsung jijik.


"Ngapain lu diem? Pengen gue perkosa beneran?!"


Arventa langsung mengambil sapu dan menyapu lantai hingga bersih, selanjutnya Arventa memungut pakaian Rejav dan dua sahabatnya lalu membawa pakaian tersebut ke mesin cuci.


"Celana dalam lo masa gue sih yang mungutin, ambil sendiri yah," ucap Arventa.


"Gak, lo yang harus ambil. Kalau perlu cium sempak gue, hahaha," balas Rejav dengan seringaian jahilnya.


"Ogah!" tolak Arventa mentah-mentah.


Gadis tersebut mengabaikan Rejav yang memanggilnya berulang kali, Arventa memilih untuk ke dapur dan mulai memasak.


4 jam telah berlalu, isi rumah yang awalnya bagaikan kapal pecah berubah menjadi rumah yang bersih, bahkan pakaian kotor semuanya telah terlipat rapi di dalam lemari.


"Syukurlah, semuanya udah selesai," lega Arventa kemudian mengusap keringat di pelipisnya.


Rejav mengangguk kemudian bertepuk tangan melihat hasil kerja Arventa.


"Memuaskan, hukuman lo tinggal satu lagi," ucap Rejav.


"Apa lagi, sih?!" sebal Arventa.


Cewek itu sangat kelelahan setelah membersihkan selama 4 jam, dan hasilnya? Zonk di mata Rejav.


"Sini," ucap Rejav.


Arventa menghampiri Rejav, saat berada di depan cowok itu. Rejav langsung menarik Arventa dan mengecup bibirnya.


"Hukuman lo udah selesai," ujar Rejav.


Pipi Arventa memerah, seketika rasa lelahnya ditarik kemudian dihempaskan jauh-jauh.


Hanya sebuah kecupan di bibir dan itu pertama kali untuk Arventa.

__ADS_1


"Lo mau lebih gak? Mumpung gue jago main ranjang," goda Rejav.


"Main aja sama, Ayam!" ogah Arventa.


__ADS_2