My Lecturer Husband

My Lecturer Husband
Chapter 22


__ADS_3

Biasanya, Rejav berangkat bertiga bersama dua sahabatnya. Tapi, kali ini tidak karena Arventa ikut dengan mereka.


Jika ditanya mengenai mau, tentu Arventa menjawab tidak! Karena Venta sudah muak terjebak dengan tiga pria miring.


Namun, lagi-lagi dia diancam oleh Rejav.


"Gak mau ikut? Gue perkosa di rumah," ancam Rejav.


Dengan pasrah, Arventa harus ikut dengan mereka daripada harus berurusan dengan Rejav.


Sampainya di kampus, banyak yang melihat mereka terutama, Glady dan Rega.


Dua orang itu menatap lekat mantan mereka sambil mengepal tangan dengan kuat.


Rega, tentu tidak tahan melihat tangan Arventa yang digenggam erat oleh Rejav, begitupula dengan Glady tidak terima jika Rejav begitu romantis kepada Arventa.


"Rejav, lepasin tangan lo!" ucap Arventa sambil menarik tangannya.


Rejav menggeleng tegas, tak ingin melepas genggaman tangannya terlebih lagi saat ia melihat Rega menatap Arventa terus-menerus.


Di sisi lain, ada Geo yang melihat mereka dengan pandangan cemburu. Perasaannya kepada Arventa belum luntur walau kejadian hari yang lalu masih membekas diingatannya.


"Ck, jangan jadi bucin, njir!" kesal Geo.


Genggaman tangan Rejav tidak akan terlepas jika Arventa belum sampai ke kelasnya, mereka terus berjalan berdampingan disusul oleh Aksa dan Japra di belakang.


"Duh, romantis banget sih bos sama Arventa, padahal belum pacaran juga," ucap Japra.


"He'em, padahal Arventa milik bersama yah, bro?" tanya Aksa.


Rejav menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap mereka dengan tajam.


"Venta udah jadi milik gue, njir!"


"Eh, serius?" tanya Aksa ke Arventa.


Arventa diam, tak ingin menjawabnya. Untung saja Japra berucap sebelum Aksa bertanya lagi.


"Hadeh, Arventa itu tipe cewek yang gak mau ngumbar hubungan mereka, kunyuk!" ucap Japra.


Aksa mengangguk-angguk, kemudian membalas dengan kata 'oh' pertanda dirinya sudah mengerti dan tidak ingin membahasnya lebih jauh.

__ADS_1


Begitupula dengan Arventa, merasa lega jika kedua pria itu berhenti mempersalahkan hubungannya dengan Rejav.


Akhirnya mereka sampai di depan kelas Arventa, sebelum pergi Rejav kembali mengancam.


"Jangan deket-deket sama cowok lain, ancaman tetap sama waktu di rumah tadi," peringat Rejav kemudian pergi.


Sedangkan Arventa menyentak kaki berulang kali karena merasa sebal dengan Rejav yang selalu mengaturnya padahal bukan siapa-siapa.


"Ish, dasar! Mentang-mentang udah anuin gue malah jadi seenaknya!"


"Arventa? Siapa yang anuin kamu?" tanya Pak Beno tiba-tiba membuat Arventa terkesiap.


"Eh, anu loh, Pak. Itu, cubitin saya," jawab Arventa salah tingkah.


Pak Beno memicingkan mata, curiga dengan Arventa yang menjawab begitu gugup.


"Hem, kamu gak bohongin saya, kan?" tanya Pak Beno.


Arventa mengangguk mantap.


"Baiklah, masuk kelas!" perintah Pak Beno.


Yang dirasakan Arventa saat Dosen menjelaskan? Membosankan, 30% materi yang dijelaskan hanya 1% kemungkinan yang ia serap.


Arventa terus memikirkan Rejav dan ancaman dari pria tersebut, hingga sebuah spidol mendarat di dahinya.


"Arventa! Jelaskan materi apa yang saya jelaskan," ucap Pak Beno dengan marah.


"Saya gak tau apa-apa, Pak. Maaf, melamun saya," balas Arventa.


Dirinya harus jujur, daripada berbohong? Satu kebohongan akan menimbulkan kebohongan lain bukan? Lebih baik ia jujur dan menerima segala resikonya nanti.


"Baiklah, dikarenakan satu mahasiswa yang tidak memperhatikan materi yang saya jelaskan. Mahasiswa yang bernama Arventa harus ikut dengan saya!" ujar Pak Beno.


Seisi kelas merasa lega, biasanya Pak Beno akan menghukum semuanya walau satu yang bersalah, namun kali ini Dosen tersebut baik hati untuk menghukum Arventa seorang diri.


Tanpa mengucapkan salam, Pak Beno keluar dari kelas dan disusul oleh Arventa dari belakang.


Pak Beno menuju ruang pribadinya, saat masuk tatapan intimidasi begitu menelanjangi mata Arventa.


Sangat tajam dan siap untuk memangsa.

__ADS_1


"Ada yang ingin Bapak beritahu," ucap Pak Beno.


"Apa, Pak?" tanya Arventa.


"Saya malas menghukum kamu di sini, nanti malam kamu harus ke rumah saya. Tidak ada penolakan sama sekali atau nilai semester kamu saya kasih E," ancam Pak Beno.


Arventa harus pasrah dengan Dosennya kali ini walau dirinya sudah lelah dengan berbagai ancaman dari Rejav.


"Baik, Pak. Tapi, saya tidak tahu di mana rumah Bapak," balas Arventa.


"Ini alamat saya," balas Pak Beno pula dengan memberi secarik kertas berupa alamat rumahnya ke Arventa.


"Pukul 7 malam, tak lebih dari itu. Jika lebih, hukuman akan bertambah," peringat Pak Beno.


Arventa hanya mengangguk kemudian keluar dari ruangan Dosen tersebut sambil menghembus napas gusar, dirinya harus berurusan dengan Pak Beno.


Entah mengapa firasat yang dirasakan Arventa tentang malam nanti sedikit tak enak.


Kembali ke kelas, semua menatap Arventa dengan pensaran, terutama Cici dan Mona.


Mereka berdua langsung menghampiri Arventa dan meminta penjelasan sahabat mereka.


"Nanti malam anter gue yah ke rumah Pak Beno, jam 7, gak boleh telat. Kalau telat hukuman yang dikasih bakalan bertambah," ucap Arventa.


"What?!" tanya Mona dan Cici tidak percaya, bukan hanya mereka, bahkan semua teman kelasnya yang cewek juga tidak percaya.


Soalnya, selama ini Pak Beno belum pernah memberi alamat tempat tinggalnya ke siapa pun, baik Dosen maupun mahasiswa.


Mengingat Pak Beno sangat tampan apalagi dengan tubuh yang atletis tak jarang sama sekali baik Dosen wanita maupun para mahasiswi tergila-gila padanya, bertambah lagi dengan sifatnya yang begitu tertutup.


"Lo beruntung banget! Gue juga mau dapat hukuman di rumahnya, err gak kebayang dia bakalan grepe-grepein gue terus hamilin gue dan nikahin gue, arghhh! Gue pengen banget!" ujar Mona histeris.


"Sangean lo!" balas Cici kesal dengan Mona yang terlalu memuja Pak Beno padahal di mata Cici, Dosennya itu biasa-biasa saja tidak seperti anu.


Yah, anu. Doi Cici.


"Please, temenin gue, yah?" pinta Arventa.


Cici mengangguk, Mona? Jangan ditanyakan lagi, tentu gadis itu sangat mau.


"Mau banget!"

__ADS_1


__ADS_2