
Keberadaan Glady benar-benar membuat Rejav risih, Rejav rasa Glady tidak tahu jika dirinya sadar terus dilihat oleh cewek tersebut.
"Ck," Rejav hanya berdecak kemudian meninggalkan makanan yang masih hangat dan belum ia sentuh.
"Jav, kok gak makan?" tanya Glady.
"Gue kenyang, juga muak!" jawab Rejav dengan sinis.
Glady menghembus napas pelan, cewek itu kemudian melanjutkan makannya hingga habis.
Di ruang tamu, Rejav terangsang. Mengapa? Bayangan tentang dirinya yang melucuti pakaian Arventa begitu membekas dan selalu terbayang.
"Gue pengen, njir," ucap Rejav tak tahan.
Namun rasa tak tahan tersebut hanya dapat Rejav pendam, Rejav tidak mungkin melakukan hal melakukan itu walau dirinya sebagai laki-laki yang sudah wajar semestinya.
Aksa dan Japra tertawa di balik gorden, mereka melihat Rejav tengah gerah menahan nafsu bejatnya. Dua sahabat itu tentu tahu apa yang dirasakan Rejav, terlihat jelas dari gerak gerik Rejav.
"Rejav bangke, kalau gue mah langsung main solo, hahaha," bisik Japra.
"Rejav gak kayak lo, disentuh dikit langsung keluar, payah!" balas Aksa dengan ledekan.
Mereka terus berdebat hingga Rejav tersadar akan suara yang awalnya tak ia dengar menjadi besar.
"Gue kuat, gak kayak lo, lembek!" ledek Japra pula.
Aksa yang tak mau kalah membalas pula, "Stamina gue kuat! Lo yang lembek!"
Dua sepatu terlempar mengenai gorden serta orang yang bersembunyi di balik benda tersebut.
"Aw, sakit beb!" teriak Aksa dan Japra bersamaan.
Mereka sambil cengengesan keluar di balik gorden dan menghampiri Rejav yang memandang tajam.
"Eh, Rejav. ***** yah bro?" tanya Japra terkikik pelan kemudian.
"Eits, ngembung tuh, hahaha," ledek Aksa.
__ADS_1
Rejav menghembuskan napas, miris melihat burungnya tak terurus sama sekali karena membutuhkan kasih sayang berupa sangkar.
"Lo kok *****, sih? Lagi bayangin apa sih?" tanya Japra yang akhirnya penasaran.
"Gue lagi butuh pelampiasan, ini semua gara-gara Arventa yang penuhin pikiran gue," jawab Rejav frustasi tak kuasa menahan dirinya yang sudah berada di ujung-ujung.
"Ya elah, tahan dong, bos! Kalau mau ena-ena yah nikah," balas Aksa.
"Gue mau nikah sama Arventa," ucap Rejav dengan nada meresah.
Meresah karena pria itu tahu bahwa dirinya tak dapat memiliki Arventa karena cewek itu sudah ada pemiliknya yaitu Redian Beno Adriata.
Jelas Rejav tidak ingin berurusan dengan pria pshycopath itu, sudah cukup Rejav dibuatnya ketakutan.
"Tuh Glady lagi nganggur di kamar, yah gas aja, bung," celetuk Japra.
"Hahaha, bangke! Rejav gak bakalan mau," ujar Aksa tertawa.
Rejav pusing mendengar ocehan mereka berdua yang tidak berguna, di sisi lain dirinya dipenuhi oleh nafsu yang tak tertahankan. Maka dari itu Rejav putuskan untuk masuk kamar menyendiri.
"Wow, akhirnya main solo juga."
"Ish, ish, kasian pintu," ucap Japra kasihan.
"Eh Jap, jangan ganggu gue, yah. Gue mau main sama Glady," kata Aksa kemudian meninggalkan Japra sendirian di ruang tamu.
"Asu, gue main sama siapa?!" tanya Japra.
"Tuh guling lagi nganggur, hahaha," jawab Aksa sebelum masuk ke kamar Glady.
"Nasib, nasib," kata Japra disertai gelengan kepala, dikarenakan pria itu merasa miris dengan dirinya sendiri.
Keesokan harinya, Beno telah tetapkan mangsanya kepada siapa.
Mangsa tersebut merupakan mahasiswanya sendiri yang terang-terangan menyukai kekasihnya.
(Author harap kalian gak lupa, ada di chapter 28)
__ADS_1
Beno menyusun rencana dengan matang-matang walau sederhana namun Dosen itu tidak ingin adanya kegagalan walau kecil sekalipun.
"Ada apa, Pak?" tanya Geo.
"Silahkan duduk, Geo," balas Beno menyuruh mahasiswanya duduk di depan mejanya.
Setelah Geo duduk, Beno malah beranjak untuk menuju pintu dan menguncinya.
Geo mengerutkan kening, memandang Dosen tersebut dengan tatapan tanya.
Beno menaruh kunci pintu di saku celananya, tanpa berlama lagi sebuah kapak Beno keluarkan dan hampir menebas tangan Geo.
Kali ini bukan mainan, tapi kapak sungguhan.
"Geo, kau memancing kemarahanku," ucap Beno dingin.
"Kemarahan apa, Pak? Saya tidak mengerti, jika saya ada salah baik secara sengaja ataupun tidak mohon dimaafkan, saya tidak tahu apa-apa," ucap Geo dengan badan yang bergetar.
Melihat kapak yang dipenuhi oleh darah yang berceceran siapa pula yang tidak merinding melihatnya? Apalagi kapak tersebut dipegang oleh Beno dengan ekspresi wajah pshycopath.
"Kau mendekati kekasihku! Dengan lancangnya kau menatapnya penuh dengan pujaan, dan kau tahu? Saya sangat benci orang yang menatap Arventa seperti itu," bentakan dan nada kalimat yang terucap dari mulut Beno sangat menyeramkan.
Kini, Geo mulai sadar siapa kekasih yang dimaksud Dosennya tersebut dia adalah Arventa.
"Saya tidak akan mendekati Ar-Arventa lagi, tidak akan pernah!" lantang Geo di akhir kalimat.
Beno tersenyum puas dan menatap Geo menyeringai yang berarti menerorkan sebuah ancaman, "Jika kau melakukannya lagi, kedua tanganmu akan kutebas dengan menggunakan kapak ini," ucap Beno dengan bisikan iblis andalannya.
Geo tak dapat berkilah, hanya anggukan yang ia tunjukan lantaran begitu takut untuk berkata, juga takut salah bertingkah.
Beno mengambil kunci pintu di saku celananya kemudian memberikan benda tersebut ke Geo.
"Buka pintunya sendiri, ketika kau keluar dari ruanganku. Selalu ingat bahwa ancamanku tidak pernah main-main," peringat Beno.
Geo mengangguk-angguk sembari mengambil kunci dari tangan Beno kemudian membuka pintu.
Sama halnya dengan Rejav, Geo keluar dengan wajah yang pucat pasi dan mengabaikan tatapan-tatapan dari mahasiswa lainnya.
__ADS_1
Ada juga yang terang-terangan bertanya dengan keadaan Geo, namun pria itu enggan membalas dan memilih untuk pergi dengan ekspresi yang kaku.