
Arventa memeluk Beno, Beno sama sekali tidak membalas pelukan kekasihnya, pria itu masih tidak percaya apa yang dilihatnya.
Arventa melepas pelukannya kemudian berkata, "maaf."
Ketika pelukan tersebut lepas, Beno merasa hampa. Pria itu memeluk kekasihnya dengan erat. "Jangan pergi lagi tanpa memberitahuku, jika aku punya salah, tolong sampaikan agar aku dapat menebusnya," ucap Beno lirih.
"Maaf, aku cuman takut," balas Arventa.
"Ekhem. Mau hujan nih," celetuk Mona. Cici berdecak kesal, sahabatnya yang satu ini sangat menjengkelkan.
"Diem!"
Mona mendengus, mengembungkan pipinya.
"Masuk," suara berat itu menyuruh, mereka bertiga pun masuk ke rumah. Tiga-tiganya duduk di sofa ruang tamu sedangkan Beno meninggalkan mereka terlebih dahulu.
"Pak Beno yah, wajah kusut tapi aroma tubuhnya tetap menenangkan," Mona menghirup udara sebanyak-banyaknya, parfum yang terserap di pakaian Beno begitu bersarang di hidungnya dan Mona suka itu.
"Gue mau tanya Pak Beno, parfum yang dia pakai apa, yah?"
__ADS_1
"Parfumnya mahal, rakyat misqueen kek kita gak bisa beli," balas Arventa.
Mona memasang wajah sedih. "Ngena banget sih."
Tak lama kemudian, Beno kembali. Mona dan Cici mengharapkan sebuah sirup, namun, melainkan hanya air putih.
"Jangan manja, minum apa yang ada," ucap Beno, tetap dengan nada dinginnya.
"Makasih, Pak," ujar mereka bertiga.
Beno menatap Mona dan Cici bergantian. Kedua orang yang ditatap bukannya peka, malah memperlihatkan wajah bengong mereka, hasilnya, membuat Beno berdecak sebal.
Setelah Mona dan Cici pergi, tinggal Arventa dan Beno yang ada di ruang tamu.
Beno menunggu kesalahan apa yang sebenarnya ia lakukan sehingga Arventa pergi meninggalkannya? Arventa tetap diam, dirinya masih berpikir untuk menyusun kalimat yang baik agar hati Beno tidak tersinggung.
"Pak, kita kan sudah melakukan hubungan, eum... Itu," ucap Arventa ambigu, tapi, seorang Beno memiliki tingkat kepekaan yang sangat tinggi.
"Minta dihalalin?" tanya Beno to the point.
__ADS_1
Arventa mengangguk pelan.
"Hanya itu? Sehingga kamu pergi tanpa mengabari saya?" tanya Beno dingin.
Kata 'saya' pertanda Beno sangat serius.
"Maaf, aku hanya takut. Aku ini seperti Wanita murahan yang begitu mudahnya memberikan tubuhku kepada orang yang belum lama ini aku kenal dan saat aku pulang ke rumah, Orang tua mengusirku dari rumah dan tidak akan pernah memaafkanku sampai Bapak menghadap ke Ayahku," jawab Arventa.
Beno tertawa, tawanya terdengar mengerikan.
"Jika saya tidak ingin bertanggung jawab? Apa respon kamu, dan Orang tua kamu?" tanya Beno.
Arventa memejamkan mata, hatinya langsung sakit mendengar pertanyaan tersebut, pertanyaan itu seolah-olah menghina dirinya dan juga sudah menjadi pernyataan bahwa Beno 50% ingin bertanggungjawab, juga 50% tidak.
"Respon saya, saya hanya dapat meratapi diri dan juga menyesal. Bukan hanya itu, kedepannya akan lebih buruk lagi. Apalagi jika Ayah saya tahu, saya tidak perlu menjelaskan responnya lagi dan saya tidak akan pernah pulang ke mereka," jawab Arventa.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
LANJUTAN CERITA TELAH DIHAPUS!!!!
__ADS_1
LANGSUNG MENUJU TAMAT!!!