My Possessive Bad Boy

My Possessive Bad Boy
Bab 22. MPBB


__ADS_3

"Pulang beneran nih?" tanya Regan seperti enggan meninggalkan Acha di depan rumah gadis itu.


Regan masih ingin berlama-lama dengan Acha, tidak peduli tentang rumah dan teman-temannya.


Acha mengangguk sambil tersenyum, tidak lupa melambaikan tangan untuk mengusir Regan secara halus dari rumahnya.


"Dah Regan, sampai ketemu besok," ucap Acha.


"Sayang!" Rengek Regan menarik tangan Acha tanpa turun dari motor. Pria itu menekuk wajahnya dengan bibir manyun sehingga tampak mengemaskan.


Ada ya makhluk sesempurna Regan? Wajah sagar tapi terkadang lucu, membuat siapa yang memandangnya tidak akan bosan untuk memuja, termasuk Acha. Namun, enggan untuk mengakui di depan sang pacar.


"Sana pulang Regan! Lo harus belajar gue juga gitu!" Melotot, berharap Regan takut padanya.


"Cantik banget sih," puji Regan.


Sial, sepertinya Regan memang sudah gila. Apapun yang Acha lakukan selalu menggemaskan di mata pria itu.


"Regan!" ucap Acha sedikit keras.


"Ya udah iya, tapi sun dulu."


"Lo ...."


"Tangan aja Acha, masa nggak boleh." menyatukan kelima jari tangannya lalu menjulurkan pada Acha.


Awalnya gadis itu bingung, tapi tidak berlangsung lama. Acha membentuk tangan yang sama lalu menempelkan pada tangan Regan seakan tangan tersebut sedang berciuman.

__ADS_1


"Bilang apa?" tanya Regan mengulum senyum.


"Pulang!" Acha tetap pada pendiriannya.


"Oke gue bakal pulang, tapi ada syaratnya."


Acha mengerutkan kening, menunggu syarat apa yang akan dilayangkan pria pemaksa seperti Regan.


"Mulai besok Gue-Lo nya diganti aku-sayang," ucap Regan akhirnya.


Acha lantas melotot, Regan jika diberi hati semakin melunjak di luar nalar.


"Aku-kamu. Buruan pergi Regan!" usir Acha.


Regan menghela nafas panjang, dengan terpaksa pria itu meninggalkan halaman rumah Acha. Namun, sebelum pergi Regan mencuri kecupan di pipi sehingga membuat pipi Acha merona merah, belum lagi jantung yang berdetak tidak karuan.


Regan memarkirkan motor dengan aman, bersiul memasuki rumah berharap orang tuanya tidak pulang dan sibuk pada urusan masing-masing. Karena jika orang tuanya bertemu, hanya pertengkaran yang terus terjadi di rumah.


Langkah Regan memelan melihat ayahnya duduk di sofa sambil bersedekap dada. Belum lagi kaki menyilang saling bertumpu.


"Eh Papa, napa liatin Regan sampai segitunya?" tanya Regan seolah tidak terjadi apa-apa. Ini semua demi kesehatan mentalnya yang perlahan-lahan rusak.


"Bagus, yang kau lakukan hanya membuat malu papa setiap harinya!" ucap Papa Regan dengan ketus.


"Makasih Pa pujiannya, tapi Regan mau ke kamar dulu."


"Regan!" bentak Martin lantas berdiri. "Apa kamu nggak punya sopan santun dan etika pada orang tua?"

__ADS_1


Regan senyum sinis. "Gimana Regan mau punya sopan santun dan etika, kalau Papa nggak pernah ngajarin? Harusnya sebelum bertanya, Papa berpikir dulu ...."


Plak


Suara tamparan mengema di dalam rumah tersebut. Kepala Regan tertoleh ke samping, rasa kebas menjalari pipi pria tersebut.


Regan menji*lat sudut bibirnya yang berdarah karena tamparan Papanya begitu keras.


"Pipi kiri belum," ucap Regan menunjuk pipinya.


Martin memejamkan matanya, menyesal telah menampar putra satu-satunya karena sangat emosi.


"Kenapa Papa datang? Cuma mau mukul Regan atau kangen?" tanya Rsgan dengan senyuman sinisnya.


"Siapa gadis itu?" tanya Martin.


Tujuan pria itu datang untuk menemui putranya, karena mendapatkan kabar dari sekolah bahwa Regan meminta dipindahkan karena seorang gadis.


Selama ini Regan jauh dari gadis-gadis di luar sana, itulah yang membuat papanya sangat terkejut.


"Bukan urusan Papa!" jawab Regan dengan penuh penekanan.


"Namanya Acha, dia gadis miskin dengan dua bersaudara. Ayahnya pedagang kaki lima, ibunya mengalami depresi setelah kematian putranya dua tahun yang lalu. Acha berhasil masuk ke sekolah ternama karena beasiswa." Martin terus memaparkan apa yang dia ketahui tentang Acha dari anak buahnya, membuat Regan sangat geram.


Tahu betul Papa-nya tidak akan segan-segan menyakiti orang yang tidak disukainya.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2