
Regan dan ketiga sahabatnya beserta anggota Atlantis lainnya berkumpul di markas. Regan ingin tahu kejadian dua tahun lalu di tempat dan waktu yang Acha katakan.
"Menurut Doni, saat itu kita juga ikutan balapan, Regan," ucap Marvin.
"Kapan dan di mana kita balapan saat itu?" tanya Regan.
"Itu saat pertama lo melawan Toni. Gue ingat sekarang," ucap Alex.
Regan mencoba mengingat semua kejadian hari itu. Berarti benar yang Acha katakan jika geng Atlantis, malam itu terlibat.
"Terus siapa saja yang melewati jalan itu?" tanya Regan lagi.
"Toni dan kawan-kawanlah! Waktu itu mereka kalah, dan membubarkan diri semuanya menuju jalan X. Gue masih ingat," ucap Roy.
Semua mata memandang ke arah Roy. Banyak yang meragukan ucapan cowok itu. Semua juga tahu kemampuan otaknya yang hanya seperempat otak orang normal.
Roy hanya beruntung terlahir dari keluarga yang cukup mampu sehingga setiap kenaikan kelas, dia bisa ikut naik atas usaha orang tuanya menemui kepala yayasan.
"Kenapa kalian memandangi aku begitu? Kalian tak percaya?" tanya Roy. Dia melihat semua temannya memandangi dirinya curiga.
__ADS_1
"Lo yakin dengan apa yang lo katakan itu?" tanya Regan akhirnya.
"Dihh, jadi kalian pikir gue bego banget, ya? Dengar ya, gue ini sebenarnya bukan bego, tapi hanya tidak pintar saja," ucap Roy dengan bangganya.
Serempak ketiga sahabatnya mengeplak kepala Roy. Cowok itu meringis kesakitan.
"Gue rasa apa yang Roy katakan itu benar. Gue ingat mereka bubar menuju jalan X malam itu," ujar Marvin.
Semua anggota mencoba mengingat kejadian malam itu. Ingin memastikan semua yang Roy katakan.
"Aku rasa ucapan Roy kali ini benar. The Moge yang malam itu melewati jalan X," ucap salah seorang anggota Atlantis lainnya.
Setelah rapat darurat itu selesai, Regan pamit ingin kembali ke rumah. Dia ingin menemui Papa-nya dulu.
"Gue cabut, jangan lupa selidiki siapa yang menabrak abangnya Acha malam itu," ucap Regan sebelum beranjak pergi.
Dalam hatinya Regan merasa lega. Walau malam itu geng Atlantis juga ikutan balapan, tapi semua anggota tidak ada yang melewati jalan X malam itu.
Dengan kecepatan tinggi, Regan melajukan motornya menuju rumah kediaman milik orang tuanya. Sepuluh menit waktu yang ditempuh hingga sampai ke halaman rumah.
__ADS_1
Setelah memarkirkan motornya Regan masuk dengan tergesa. Bertanya dengan bibi di mana Papanya berada saat ini.
Regan berjalan menuju ruang kerja setelah mendapat kepastian jika Papa-nya berada di sana. Tanpa mengetuk pintu Regan masuk.
Martin yang sedang berhadapan dengan laptop, menjadi terkejut. Dia semakin emosi melihat siapa yang masuk tanpa permisi.
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu sebelum masuk? Belajarlah sopan santun!" ucap Papa dengan nada cukup tinggi.
"Maaf, orang tuaku lupa mengajari aku sopan santun. Mereka hanya sibuk dengan diri sendiri. Tidak ada waktu buat mengajariku.Mereka lupa memiliki seorang anak yang butuh perhatian juga," ucap Regan.
Wajah Martin memerah mendengar ucapan putranya itu. Dia tahu ucapan itu untuk menyindir dirinya. Jari tangan Martin mengepal menahan emosi.
"Jangan menyindir. Apa kau lupa jika kami sibuk juga untukmu. Demi memenuhi kebutuhan hidupmu," ucap Martin dengan emosi.
"Aku tidak butuh kemewahan jika harus dibayar dengan kehilangan kasih sayang kedua orang tuaku. Aku lebih mau hidup apa adanya tapi Papa dan mama selalu ada untukku. Apa kalian pikir uang yang kalian beri bisa membuat aku bahagia?" tanya Regan dengan suara tinggi.
...****************...
__ADS_1