My Possessive Bad Boy

My Possessive Bad Boy
Bab 37. MPBB


__ADS_3

Setelah Acha menceritakan di mana dan kapan tepat terjadi kecelakaan itu, Regan lantas mengantar Acha pulang. Terlebih matahari mulai tenggelam karena keasikan bercerita satu sama lain.


Sepanjang jalan Regan terus melafalkan berbagai doa sebagai pelindung dari amukan ayah Acha yang mungkin marah karena membawa anak gadisnya berkeliaran hingga malam hari.


Doa makan, doa tidur sudah Regan gumamkan berulang kali sebab pria itu hanya tahu doa tersebut.


Dengan jantung berdegup kencang, Regan memarkirkan motornya tepat di halaman rumah Acha. Di sana, di depan rumah, ayah Acha tengah berdiri sambil bersedekap dada.


"Kalian ...."


"Maafin saya om, saya yang membawa Acha jalan-jalan. Jangan marahin Acha apalagi melarang dia ketemu saya. Maafin saya om," ucap Regan menyatukan kedua tangannya sambil memejamkan mata.


Berbeda dengan Acha yang mati-matian menahan tawanya agar tidak meledak melihat pria yang ditakuti banyak orang ciut di depan ayahnya.


Ayah Acha tidak mungkin marah, sebab gadis itu telah menghubunginya siang tadi. Mengatakan akan pulang terlambat sebab ada urusan dengan Regan.


Kebetulan hari ini mereka libur jualan sehingga Acha tidak kuatir tadi, jika harus pulang telat.


Sebenarnya ayah Acha ingin bertanya. "Kenapa kalian pulang padahal gerimis?" uTapi Regan sudah terlanjur overthingkhing.


"Regan!" panggil ayah Acha.

__ADS_1


"Saya ...."


"Masuk dulu nak, di luar gerimis. Pulangnya setelah hujan reda, soalnya bakal hujan lebat," ucap ayah Acha dan masuk ke rumah lebih dulu.


Regan melonggo, menatap Acha yang tawanya sudah pecah.


"Kenapa ketawa?" tanya Regan.


"Karena kamu lucu! Ayah aku nggak marah sama kamu Regan," jawab Acha dan berlalu pergi.


Regan mengaruk tengkuknya salah tingkah, sungguh sekarang dia sangat malu jika mengingat tingkahnya beberapa menit yang lalu.


"Pulang apa masuk ya?" tanya Regan pada dirinya sendiri.


Regan mengedarkan pandangannya untuk mencari sang kekasih.


"Acha lagi buat teh hangat, tunggu aja. Ah iya, makasih ya nak udah buat Acha senyum lagi."


"Senyum?" Kening Regang mengkerut.


"Sejak kepergian abangnya dia nggak pernah senyum apalagi tertawa lepas. Tapi akhir-akhir ini setelah dia kenal kamu, semuanya berubah," ucap Ayah.

__ADS_1


Senyuman Regan mengembang sempurna. Ada rasa bangga di hatinya sebab menjadi penyelamat seorang Acha. Pria itu berjanji akan membahagiakan Acha sebisa yang dia mampu.


Tidak lupa akan mengungkap ketidakadilan yang telah terjadi beberapa tahun silam tentang kecelakaan yang diderita oleh abang kekasihnya.


Waktu dan tempat kejadian sangatlah jauh dari geng Atlantis. Karena saat kecelakaan itu terjadi, Regan dan teman-temannya sedang berpesta di markas hingga pagi hari.


Ketika ayah Acha beranjak dari hadapannya, Regan lantas mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Marvin tentang lokasi dan waktu kejadian.


Cari siapa aja yang ikut balapan di hari yang sama selain The moge!


Itulah perintah yang Regan kirimkan lewat pesan. Pria itu memasukkan kembali ponselnya ke saku celana ketika melihat Acha datang membawa dua canggir teh hangat.


"Minum dulu," ucap Acha.


"Disuapin boleh nggak sih? Kayaknya ayah kamu udah masuk ke kamar deh." Regan tersenyum tanpa dosa. Meski begitu Acha tetap saja mengangguk dan menyendok teh hangat tersebut sedikit demi sedikit untuk dia suapkan pada Regan.


"Ekhem!" Suara deheman lumahan nyaring dari arah kamar membuat Regan tersedak teh hangat yang baru masuk ke mulutnya.


"Jangan aneh-aneh di luar, ayah bisa liat!" teriak ayah Acha dari dalam kamar.


"Iya Yah," jawab Acha.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2