
"Regan!" bentak Martin.
"Cukup Pah! Biarkan Regan bicara!" sanggah Regan, menatap papahnya dengan mata memerah.
Sekarang emosi Ragan semakin tersulut karena tidak disambut baik oleh papahnya. Mungkin jika papahnya bisa bersikap baik, Regan bisa membicarakan tentang Acha baik-baik pula.
"Apa Papah kira uang bisa menyelesaikan segalanya? Kalian terlalu sibuk mencari uang dengan dalih demi Regan, tapi apa kalian pernah berpikir Regan bukan cuma butuh uang?"
Pria itu menarik nafas dalam-dalam, sementara Martin terpaku ditempatnya mendengar penuturan sang putra yang dia kira hidup bahagia dengan leluasa dan dilimpahi banyak uang.
"Regan butuh kasih sayang kalian. Regan butuh perhatian kalian! Tapi sejak kecil mamah dan papah cuma sibuk dengan pekerjaan dan kehidupan kalian sendiri. Kalau kalian benci sama kehadiran Regan, kenapa nggak bunuh Regan sejak kecil?"
"Regan?" panggil Martin, suaranya mulai melembut.
"Berapa yang harus Regan bayar buat dapat kasih sayang kalian? Satu jam aja." Regan mengeleng. "Nggak usah satu jam, satu menit aja Regan pengen banget gerasain pelukan seorang papah." Suara Regan semakin melirih.
Pria itu menunduk sambil memejamkan matanya. Dia terkejut bukan main ketika sebuah pelukan hangat dirasai oleh tubuhnya.
__ADS_1
Regan terpaku, rasanya seperti mimpi ketika papahnya memeluknya begitu erat seperti enggang untuk melepaskan.
"Maafin papah kalau sibuk bekerja dan nggak peduliin kamu Nak. Kamu nggak perlu bayar waktu papah meski harus tinggal seharian di rumah," lirih Martin.
Pria paruh baya itu baru menyadari kesalahannya setelah melihat pancaran mata kekecewaan dari sang putra. Belum lagi semua penuturan Regan.
"Maafin Regan juga karena nggak bisa jadi anak yang baik buat, Papah. Nggak bisa buat papah bangga dengan prestasi Regan."
"Bukan kamu yang salah Nak tapi papah." Martin menepuk pundak putranya beberapa kali sebelum melerai pelukan.
"Kamu ketemu papah mau ngomong apa?" tanya Martin, mengalihkan perhatiannya pada arah lain karena tidak ingin Regan melihat matanya yang memerah.
"Mau bicarain tentang Acha."
"Duduk dulu Nak!"
Regan mengangguk, segera duduk di hadapan papahnya yang jauh lebih manusiawi. Sekarang pria itu sangat bahagia karena baru saja mendapatkan pelukan dari pria yang telah membuatnya hadir di muka bumi ini.
__ADS_1
Seingat Regan, ini adalah pelukan pertama yang dia dapatkan dari usia 6 tahun.
"Apa benar Papah yang ngirim video taruhan Regan ke Acha? Kenapa Papah tega melakukan itu semua?"
Martin menghela nafas panjang. "Itu semua ulah papah karena mengira Acha bukanlah gadis yang baik buat kamu Nak. Papah takut dia membawa dampak buruk untukmu," ungkap Martin, mengakui apa yang telah dia perbuatnya dulu.
"Tapi sepertinya papah salah, setelah diselidiki lebih jauh dia gadis baik-baik. Setelah mengenalkan kamu mengalami banyak perubahan." Martin tersenyum, berbeda dengan Regan yang menampilkan wajah datarnya.
Sebenarnya Regan juga ingin berekspresi tapi tidak tahu bagaimana. Apa harus tersenyum karena untuk pertama kalinya bisa bicara baik-baik dengan sang papah, atau kesal karena papahnya yang hampir memisahkan dia dan Acha.
"Regan ke kamar dulu," imbuh Regan lantas meninggalkan ruangan kerja papahnya.
Otak pria itu tiba-tiba blank. Bahkan tujuan awalnya yang ingin memberi pelajaran pada papahnya dia lupakan begitu saja.
Regan membaringkan tubuhnya di atas ranjang setelah sampai di kamar. Mengirim emot ketawa di grup Altantis tanpa kalimat apapun, sehingga para anggota tentu saja heran dengan tingkah ketua mereka yang aneh.
...****************...
__ADS_1