My Possessive Bad Boy

My Possessive Bad Boy
Bab 28. MPBB


__ADS_3

Menerima tantangan dari Toni, artinya Regan telah siap dengan segala sesuatu yang akan terjadi nantinya.


Siap kehilangan Acha jika kalah, dan siap menghajar Toni ketika memenangkan balapan liar yang sedang terjadi saat ini.


Seiring laju motor yang kian menggila, jatung Regan pun berdetak tidak normal. Pikiran pria itu hanya menang dan menang sebab sampai kapanpun tidak akan rela jika Achanya menjadi milik Toni, yang merupakan musuh abadinya.


Teriakan para anggota dari beberapa geng motor memekakkan telingga ketika salah satu motor melintasi garis finis. Tepuk tangan bergemuruh di pinggir jalan.


Anggota Atlantis yang berjumblah kurang lebih 20 orang berlari ke tengah jalan untuk memberi ketua mereka selamat. Berbeda dengan anggota The Moge yang sangat kesal, terutama Toni yang lagi-lagi kalah jika berhadapan dengan Regan.


Pria dengan bulu-bulu halus di rahangnya tersebut hendak meninggalkan area balapan, tapi tubuhnya terhuyung ketika sebuah helm mendarat di punggungnya.


"Ban*gsat!" geram Toni mengepalkan tangannya.


Sementara sang pelaku senyum simpul sambil bersedekap dada. Pria itu adalah Regan, berjalan mendekati Toni dengan wajah angkuhnya. Menyenggol pundak Toni menggunakan pundaknya.


"Lain kali kalau mau tanding belajar dulu gih. Kalau perlu satu tahun sebelumnya," ejek Regan.


Roy, Alex dan Marvin tertawa terpingkal-pingkal mendapati wajah memerah Toni.

__ADS_1


"Anjir wajahnya kek nahan boker!" teriak Roy sangat jujur, membuat emosi Toni membuncah.


Namun, baru saja akan melayangkan pukulan, Regan telah lebih dulu mendaratkan sehingga pria itu tersungkur ke tanah.


"Jangan sentuh anggota gue, dasar pengecut!"


Cih


Regan berdecih tepat di samping Toni, mempermalukan ketua The Moge di depan geng motor lainnya yang terdapat di barisan. Salah satunya Geng Avegas yang merupakan partner baik Atlantis jika menyelasaikan masalah dalam penyerangan.


Toni meninggalkan area balapan bersama anggotanya karena tidak sanggup menahan malu. Namun, berjanji akan membalas semua perlakuan Regan padanya.


***


Jam 7 kurang 10 menit, Regan telah berada di depan rumah Acha. Menyugar rambutnya agar terlihat lebih rapi. Berjalan menuju pintu rumah yang tertutup rapat. Namun, penghuninya sudah bangun sebab gerobak jualan ayah Acha telah hilang.


Senyuman Regan mengembang setelah Acha membuka pintu. Namun, senyuman itu tidak bertahan lama ketika sebuah tamparan mendarat di pipinya.


"Pergi!" Usir Acha dengan tatapan kebencian.

__ADS_1


Regan yang tidak mengerti apapun memaksakan senyumnya. Pipinya yang ditampar, tapi hatinya yang sakit. Mungkin karena yang melakukan hal demikian adalah gadis yang dia cintai.


"Sayang, ayolah jangan drama pagi-pagi. Ayo ntar kita telat lagi." Menarik punggung tangan Acha tapi disentak begitu saja.


"Aku bilang pergi Regan! Aku nggak mau kenal kamu lagi!" bentak Acha.


"Kenapa?"


"Karena kamu tega jadiin aku taruhan di arena balapan! Aku di matamu itu sebenarnya apa? Barang yang bisa diserahin gitu aja, iya?" Acha memukul dada Regan membabi buta.


Sejak semalam gadis itu tidak bisa tidur nyenyak setelah mendapatkan foto dan video dari nomor tidak di kenal.


Video berisi pembicaraan Regan dan Toni yang menjadikannya taruhan. Acha tidak habis pikir Regan akan melakukan hal sehina itu padanya.


"Tapi aku menang, Acha. Nggak ada yang berubah, kamu tetap milik ...."


Lagi Regan mendapatkan tamparan untuk kedua kalinya.


"Gimana kalau kamu kalah? Apa kamu bakal nyerahin aku sama dia? Brengsek kamu, Regan!" umpat Acha dengan penuh emosi dan menutup pintu rumahnya.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2