
Marvin memandangi wajah Acha tanpa kedip. Itu membuat Acha menjadi salah tingkah. Gadis itu menunduk dengan berpura-pura menuliskan sesuatu.
"Ternyata gue salah menilai lo selama ini. Gue pikir Lo berbeda dari gadis lain. Bisa membuat Regan bahagia. Tapi ternyata semua gadis itu sama. Egois. Hanya mau menang sendiri. Apa lo nggak tahu bagaimana Regan mempertahankan kemenangan hanya agar lo tetap menjadi miliknya. Dia terlalu mencintai Lo. Tidak peduli nyawanya yang akan melayang, dengan kecepatan paling tinggi dia mengusahakan kemenangan," ucap Marvin dengan penuh penekanan.
Acha menghentikan kegiatannya. Menarik tangan Marvin untuk keluar dari kelas. Gadis itu tidak ingin ada yang mendengar perdebatan mereka.
Sampai di samping kantin, Acha menghentikan langkahnya. Marvin juga melakukan hal sama.
"Dengar Tuan Marvin terhormat. Lo bilang Regan rela bertaruh nyawa hanya untuk memenangkan balapan tadi malam, semua demi membela gue. Tapi apa Lo pernah tahu, bagaimana gue harus melawan trauma melihat orang yang sedang balapan?" tanya Acha dengan sedikit emosi.
Air mata mulai jatuh membasahi pipi mulus gadis itu. Teringat bagaimana dia melawan trauma setiap melihat pengendara motor yang melaju dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Masih melekat diingatannya saat Abangnya merenggang nyawa setelah ditabrak seorang pembalap liar. Keadilan tidak bisa dia dan keluarga dapatkan hanya karena mereka miskin.
"Aku harus kehilangan abang untuk selamanya karena pembalap liar seperti kalian. Dan aku juga harus menerima kenyataan jika ibuku menjadi gila karena kehilangan putranya. Apakah aku egois jika aku membenci para pembalap?" tanya Acha dengan suara terbata karena harus menahan tangisnya.
"Abang Lo meninggal karena ditabrak seorang pembalap?" tanya Marvin. Acha hanya menjawab dengan anggukan kepalanya saja. Tangisnya pecah mengingat kepergian abangnya.
"Di mana kejadiannya?" tanya Marvin. Dia merasa geng Atlantis tidak pernah menabrak seseorang hingga tewas.
"Lo atau bukan, tidak ada gunanya. Gue miskin, kasusnya akan tetap tenggelam. Seperti dulu, tidak ada yang mendengar tuntutan kami. Penabrak dibebaskan dengan alasan masih di bawah umur. Saat kami ingin bertemu, identitas disembunyikan, dengan alasan keselamatan. Apa mereka tidak pikir jika perbuatan mereka telah merenggut satu nyawa, dan satu nyawa lagi berada di antara hidup dan mati!" ucap Acha.
Saat Marvin ingin bertanya lagi, ponselnya berdering. Marvin mengangkatnya setelah melihat nama Alex yang menghubungi.
__ADS_1
Alex mengatakan jika Regan mengajak Toni balapan lagi. Dia akan melawan semua geng The Moge seorang diri. Dengan taruhan dirinya sendiri. Jika siapa yang kalah harus bersedia menerima setiap pukulan dan tendangan dari seluruh anggota geng lawan.
"Gue harus cabut. Regan mengajak geng The Moge balapan lagi. Gue nggak yakin Regan menang karena dia sedang emosi. Gue hadap lo tak akan menyesal karena mengabaikan Regan. Asal lo tahu, gue bersumpah atas nama seluruh geng Atlantis, jika kami tidak pernah menabrak orang hingga tewas," ucap Marvin.
Sebelum melangkah lebih jauh, pria itu membalikan tubuhnya menghadap Acha kembali. "Jika lo berubah pikiran, bisa datang ke alamat yang telah gue kirim ke ponsel Lo," ucap Marvin.
Dia berjalan tergesa menuju parkiran. Mengambil motor dan melaju kencang menuju markas The Moge.
...****************...
__ADS_1