
Setelah drama bucin membucin di bawah pohon, akhirnya Regan, Acha, Roy, Marvin dan Alex pergi dari lokasi yang tidak jauh dari balapan.
Matahari yang sangat panas sebab jarum jam baru menunjukkan angka 11 pagi membuat kening ke limanya mengkerut padahal sudah memakai helm masing-masing.
"Peluk Cha, peluk! Kalau lo nggak mau peluk gue yang bakal peluk!" teriak Roy yang mensejajarkan laju motornya dengan sang ketua.
Acha yang sejak tadi melamun menjadi tersentak. Gadis itu tengah memikirkan nasibnya besok di sekolah sebab bolos hari ini demi menyelamatkan Regan dari The moge.
"Ayo peluk, Sayang," cetus Regan tapi Acha urung mengulurkan tangannya karena terlalu banyak pikiran. Bahkan ketika ke empat motor tersebut berhenti di lampu merah.
"Takut banget meluk pacar sendiri." Regan membimbing tangan Acha agar melingkar di pinggangnya, sesekali mengelus sambil menunggu lampu merah berubah menjadi hijau.
"Ekhem, iri nggak sih Lex? Apa kita harus buru-buru nyari pacar juga?" tanya Roy yang selalu merusak suasana romantis ketuanya.
"Kita? Lo aja kali!" Alex mendelik, lalu bertos ria dengan Marvin sambil tertawa. Mereka tidak peduli sekarang telah menjadi pusat perhatian semua orang.
Tepat ketika lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, ke empat pria tersebut melajukan motornya dengan kecepatan tinggi menuju markas.
Ya Regan membawa Acha ke markas sebab tidak mungkin mengantarnya pulang kerumah maupun sekolah. Jika itu terjadi, maka Acha akan mendapatkan pertanyaan dari ayahnya.
__ADS_1
Acha bergeming, menatap rumah kecil tapi terlihat sangat bersih. Gadis itu baru melangkah ketika Regan menarik tangannya untuk masuk ke markas.
"Duduk dulu Cha, nanti gue antar pulang kalau udah sore," ucap Regan.
Meski ragu dan banyak pertanyaan di benaknya Acha tetap saja duduk di kursi. Di dinding banyak poster geng motor yang sangat menyeramkan, bahkan coreran-coretan tangan seperti sengaja dibuat ada di dinding tepat di hadapan Acha.
Senyuman gadis itu terbit ketika tidak sengaja melihat namanya di antara tulisan tangan yang saling bertumpuk satu sama lain.
Achanya Regan
Hanya kalimat itu yang tetulis dengan bentuk love di akhirannya tapi mampu membuat suasan hati Acha yang tadinya takut menjadi tenang.
"Bos!" bisik Marvin.
"Hm."
"Ternyata bukan geng The Moge yang ngirim video itu ke Acha," ucap Marvin.
Pergerakan tangan Regan lantas berhenti, menatap ke tiga sahabatnya penuh tanda tanya. "Terus siapa?"
__ADS_1
Kini yang saling memandang adalah Marvin, Roy dan Alex. Takut kalau saja memberitahukan pelaku yang sebenarnya, Regan akan lebih murka.
"Jawab!" desak Regan.
"Om Martin, Bos. Dia nyuruh orang semalam buat ngikutin bos. Kayaknya dia nggak suka deh lo dekat-dekat sama Acha," cetus Roy tanpa basi-basi membuatnya mendapatkan tatapan tajam dari Marvin dan Alex.
Roy memang aneh dan lemot, selalu tidak bisa diajak kerjasama apalagi harus menyimpan rahasia. Ganteng-genteng lemot! Sungguh Alex dan Marvin sangat ingin melempar Roy ke laut dan membiarkannya dimakan ikan hiu.
"Papa gue?" Tangan Regan terkepal, amarah yang sempat meredam kembali tersulut di dadanya. Pria itu berjalan cepat keluar dari dapur dan hendak pergi. Namun, langkahnya berhenti karena berpapasan dengan Acha.
"Baru juga aku mau nyusul udah keluar," ucap Acha.
Marvin buru-buru mengirim pesan pada Acha ketika melihat gadis itu memegang ponsel, sementara Alex memberi kode pada Acha agar segera memeriksa ponselnya. Sementara Roy hanya mengerjap tidak tahu akan melakukan apa.
Acha lantas memeriksa pesan dari Marvin.
"Jagain Regan jangan sampai ngamuk. Jangan biarin dia pergi sendiri hari ini!"
...****************...
__ADS_1