
Sejak berbaikan dengan sang papa, hari-hari Regan lebih berwarna. Martin sering kali ada di rumah jika waktu sarapan dan makan malam, membuat Regan mempunyai alasan untuk pulang tepat waktu kerumah.
Tidak seperti sebelumnya yang selalu pulang seenaknya, makan seingatnya sebab tahu tidak ada yang menantikan dirinya di rumah.
Namun, kebahagian Regan semakin bertambah ketika melihat wanita paruh baya sedang duduk di meja makan bersama papanya.
"Mama?" tanya Regan tidak percaya, duduk di hadapan kedua orang tuanya.
"Kata papa kamu punya pacar? Kenapa nggak pernah cerita sama mama?" tanya mama dengan semyum semringah.
"Huh?" Regan lantas tergugu, tidak tahu harus merespon apa pertanyaan mamanya.
Selama ini wanita paruh baya itu tidak pernah bertanya apapun tentang hidup dan dunianya. Itulah mengapa Regan merasa aneh dan gugup.
"Regan?" Mama Regan kembali bicara.
Wanita paruh baya itu sudah bertemu dengan Martin lebih dulu sebelum kembali kerumah. Keduanya bicara dengan waktu yang lama. Mencoba berdamai dengan keadaan, terlebih keduanya belum resmi bercerai.
__ADS_1
Hanya pisah rumah dan sibuk dengan kehidupan masing-masing. Mendengar cerita putranya yang nakal karena kekurangan kasih sayang membuat wanita paruh baya itu merasa bersalah karena menelantarkan Regan.
Kenakalan Regan adalah kesalahan mereka, tapi selalu saja marah kalau mendapat surat panggilan dari orang tua.
"Regan, mama kamu nanya, Nak. Jujur aja," ucap Martin menepuk pundak putranya.
Regan lantas mengangguk. "Regan udah punya pacar namanya Acha. Dia satu kelas sama Regan. Dia masuk karena beasiswa, pacar Regan pintar kan, Ma?" Regan berucap bangga.
"Pintar banget Nak." Wanita paruh baya itu lantas tersenyum, melihat betapa menggemaskannya Regan menceritakan pacarnya.
Kenapa baru sekarang dia sadar kalau ternyata putranya bisa menjadi penurut?
Berada satu meja makan dengan orang tuanya setelah sekian lama tentu membuat Regan sedikit canggung, terlebih sikap keduanya bisa dikatakan berbeda 180⁰.
Regan berdehem sebentar sebelum kembali bicara.
"Kalian nggak lagi pura-pura baikan karena Regan kan? Regan nggak mau jadi penghambat kebahagiaan mama dan papa," ungkapnya takut kejadian awal terulang lagi.
__ADS_1
Dimana dia melihat orang tuanya bertengkar dan mengatakan bertahan hanya karena dirinya padahal tidak bahagia dalam pernikahan.
Lantas orang tua Regan mengelengkan kepalanya serempak. Martin meraih tangan istrinya yang berada di atas meja.
"Sama seperti kamu yang baru saja menjadi lebih baik, papa dan mama akan memperbaiki yang telah rusak. Sebab mencari orang baru membutuhkan adaptasi."
"Benar Nak. Mama dan papa berencana untuk rujuk kembali. Bukan karena kamu, tapi demi kebahagiaan kita berdua. Mama sadar tempat ternyaman tetaplah kalian."
"Ma, Pa ...." Mata Regan tiba-tiba berembun. Sulit dipercaya bahwa seorang Regan menangis. Mungkin jika sahabatnya melihat dia akan diejek habis-habisan.
"Sudan-sudah anak cowok nggak boleh nangis. Sana berangkat sekolah nanti telat lagi," ucap Martin.
Mama Regan dan Regan tertawa mendengar ujaran candaan dari Martin. Lantas saja Regan segera beranjak, terlebih makanan di piringnya telah habis.
Pria itu menunduk untuk mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan berlari keluar rumah dengan wajah berseri-seri.
"Jadi begini rasanya punya orang tua?!" teriak Regan di depan rumahnya yang tentu didengar oleh Martin dan istrinya. Kedua manusia paruh baya itu tersenyum hangat sambil saling mengenggam satu sama lain.
__ADS_1
"Dunia! Kalian harus tau kalau gue hari ini bahagia banget!" pekiknya lagi.
...****************...