
Regan mencoba mengetuk pintu rumah Acha. Beberapa kali mengetuk pintu itu kembali terbuka. Regan tersenyum dan menarik napas lega. Namun, senyuman itu sirna saat melihat bukan Acha yang membukakan pintu, tapi Ayahnya Acha.
"Maaf Pak. Acha ada?" tanya Regan. Cowok itu tidak tahu harus berkata apa. Dia gugup berhadapan dengan orang tua gadis yang sangat ddicintainya itu.
Regan berharap sekali jika Acha segera muncul dari balik punggung pria itu. Namun, harapannya sia-sia, wajah Acha tidak juga tampak.
"Acha sudah pergi. Sebaiknya kamu juga segera berangkat ke sekolah. Nanti kamu bisa telat."
"Baik, Pak. Saya pamit dulu," ucap Regan dengan sopannya.
Cowok itu berbalik arah setelah menundukkan sedikit tubuhnya sebagai rasa hormat pada ayahnya Acha. Baru beberapa langkah Regan berjalan, dia mendengar ucapan ayah Acha yang sangat mengagetkan.
"Mulai hari ini jangan pernah datang lagi ke rumah ini. Dan jangan dekati Acha lagi!" ucap Ayah Acha.
Regan membalikkan tubuhnya menghadap pria paruh baya itu. Dia tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut ayah Acha. Kemarin ayahnya Acha masih menerima kehadiran dirinya dengan baik.
"Kenapa aku harus menjauhi Acha?" tanya Regan dengan penuh penekanan.
"Kau akan tahu jawabannya. Coba tanya langsung dengan Acha," ucap Ayah.
__ADS_1
"Baiklah, Pak. Akan aku tanyakan dengan Acha."
Regan kembali berjalan, menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai ke sekolah. Dia harus tahu alasannya, kenapa Acha dan orang tuanya meminta Regan menjauh.
Sampai diparkiran, ketiga sahabatnya telah berada diparkiran. Marvin, Roy dan Alex menatap heran karena Regan datang sendiri.
"Acha mana?" tanya Roy.
Regan membuka helm yang menutupi kepalanya dan menghampiri ketiga temannya. Wajahnya yang tampak tegang membuat ketiga sahabatnya tahu jika telah terjadi sesuatu yang membuat Regan marah.
"Kalian melihat Acha?" tanya Regan. Pertanyaan Regan membuat ketiga temannya menjadi heran. Bukankah Roy tadi telah bertanya tentang keberadaan gadis itu, tapi mengapa Regan balik bertanya.
"Acha marah. Dia tahu semua yang terjadi tadi malam. Tolong cari keberadaan Acha!" ujar Regan.
Keempat sahabat Regan langsung berdiri dari duduknya. Mereka lalu menepuk bahu Regan memberi kekuatan.
"Jangan takut, kami akan membawa Acha kehadapan lo," ujar Marvin.
Mereka langsung berjalan dengan berpencar, mencoba mencari keberadaan Acha. Regan juga ikut berjalan mencari di mana keberadaan Acha.
__ADS_1
Puas mencari Acha di setiap kelas tapi tidak juga dapat ditemuinya, mereka ingat tempat favorit gadis itu. Keempat cowok itu berjalan ke satu tujuan yang sama.
Keempat cowok ganteng itu bertemu di taman. Tampak Acha yang sedang duduk termenung di dekat kolam ikan.
Regan berjalan mendekati Acha diikuti ketiga temannya yang lain. Gadis itu belum menyadari kehadiran mereka. Dia masih asyik bermain dengan ikan.
"Acha, aku ingin bicara," ucap Regan dengan serius.
Acha tahu suara siapa yang bicara itu. Tanpa membalikkan tubuhnya gadis itu menjawab ucapan Regan.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Semua sudah berakhir," ucap Acha.
"Cha, aku tidak ada pilihan lain. Itu kemauan mereka. Kami telah menawarkan taruhan lain, tapi mereka tidak mau," ucap Regan.
Acha bangun dari duduknya. Berdiri menghadap pria itu.
"Aku minta kamu lupakan saja semuanya. Anggap kita tidak pernah kenal. Aku tidak mau berhubungan dengan anak motor. Aku benci dengan yang namanya jalanan," ucap Acha.
...****************...
__ADS_1