
Seperti biasa, pagi ini Regan melajukan motornya menuju rumah kediaman Acha. Walau hari minggu libur sekolah, tapi pria itu tetap datang.
Acha yang sedang sibuk membersihkan peralatan masak yang digunakan ayahnya untuk menjual, kaget melihat kehadiran pria itu. Regan ikutan membantu membersihkan alat-alat masak itu.
"Kamu duduk saja, nanti baju kamu basah," ucap Acha, mendorong tubuh Regan agar menjauh darinya.
"Nggak apa, aku juga ingin bantu."
"Kamu sudah banyak membantu aku dan ayah. Masa membersihkan peralatan ini kamu juga ikutan," ucap Acha lagi.
"Maksudnya membantu apa?" tanya Regan keheranan.
Dia merasa tidak pernah membantu gadis itu. Namun, mengapa Acha mengatakan dia telah banyak membantu.
"Jangan pura-pura deh!"
"Acha, aku nggak pura-pura. Sumpah aku tak tahu. Aku merasa tidak pernah membantu kamu, apa lagi ayah kamu!"
"Jangan bohong lagi, Papa kamu nggak mungkin bohong," ucap Acha.
Regan sangat kaget saat Acha menyebut papanya. Kapan dan di mana Acha kenal Papa-nya? tanya Regan dalam hatinya.
__ADS_1
"Papa aku? Apa yang Papa lakukan? Apa dia menyakiti kamu?" tanya Regan kuatir.
Acha yang sedang memegang tutup panci langsung memukul bahu Regan pelan. Pria itu makin keheranan dengan tingkah Acha.
"Kok aku dipukul? Aku takut Papa menyakiti kamu. Aku tidak akan terima siapapun yang akan menyakiti kamu, sekalipun itu papaku!"
Kembali Acha akan memukul Regan. Namun, tangannya di tahan.
"Jawab Acha, jangan mukul aja. Nanti aku cium, nih!" ancam Regan sambil memajukan bibirnya.
"Jangan mesum, ya! Kamu itu jangan berpikiran jelek saja. Papa kamu kemarin datang menemui ayah dan aku ...."
"Terus apa yang Papa lakukan. Apa dia minta kamu ngejauhin aku?" tanya Regan memotong ucapan Acha. Dia takut Papanya melakukan sesuatu yang menyakti Acha dan keluarga.
Gadis itu menarik napas dalam. Tersenyum pada cowok itu. Wajah Regan tampak tegang menunggu Acha bicara.
"Papa kamu, mengajak ayah untuk kerjasama. Mulai minggu depan ayah berjualan di kantin perusahaan Papa kamu. Jadi aku akan membantu ayah dari siang hingga sore saat pulang sekolah," ucap Acha.
Mata Regan melotot dengan mulut terbuka mendengar ucapan Acha. Rasanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Papa mengajak ayah Acha untuk jualan di kantin perusahaan.
Regan menampar pipinya sendiri. Rasanya semua bagai mimpi.
__ADS_1
"Aduh ... sakit! Berarti bukan mimpi ya," ucap Regan.
Tiba-tiba Regan juga merasa kepalanya di siram air. Cowok itu langsung membalikkan tubuhnya, ingin tahu siapa yang berani melakukan itu dengannya.
Saat melihat Roy yang sedang memegang ember, tahulah cowok itu siapa pelakunya. Alex dan Marvin yang berdiri di belakang Roy tidak bisa lagi menahan tawanya.
"Set*n, Lo cari mati!" ucap Regan emosi.
"Gue kira lo mabuk. Kenapa menampar pipi sendiri!" ucap Roy tanpa dosa.
Acha juga tidak bisa menahan tawanya melihat tingkah random keempat cowok itu. Dari jendela, ibunya Acha ternyata mengintip mereka. Dia juga ikutan senyum.
"Bima, kamu sudah pulang, Nak!" ucap Ibu Acha melihat ke arah Marvin. Wajah cowok itu jika tersenyum sedikit mirip dengan abang Acha yang telah tiada.
Roy langsung melempar ember ke tanah dan berlari sebelum Regan menghajarnya. Acha memeluk pinggang Regan agar tidak mengejar Roy.
"Sudah, jangan dikejar. Kayak baru kenal Roy aja. Dia emang begitu'kan? Selalu saja lemot," ucap Acha.
Regan tersenyum manis dan mengurungkan niatnya untuk mengejar Roy. Dia tampak senang karena Acha yang masih memeluk pinggangnya.
...****************...
__ADS_1