
Tanpa Regan ketahui, Papanya meminta seseorang untuk mencari tahu siapa yang menabrak abangnya Acha. Dia telah mendengar semua cerita itu dari mulut Acha dan ayahnya.
Dengan raut wajah yang berseri dan bibir yang selalu menyunggingkan senyum, Regan turun dari motornya. Cowok itu mengetuk pintu rumah dengan semangat.
Acha yang telah siap langsung berlari membuka pintu. Acha menenteng rantang ditangannya.
"Kamu bawa apa, Sayang?" tanya Regan dengan suara pelan, takut ayah Acha mendengar.
"Sarapan. Sebelum masuk kita belajar dulu di taman sambil sarapan. Hari ini ada ulangan," ucap Acha.
Mendengar kata ulangan, dahinya langsung berkerut dan dengan senyum tertahan. Terus terang sampai detik ini, otak Regan dan teman-temannya masih begitu sulit menerima pelajaran di kelas IPA.
Acha yang melihat perubahan wajah Regan, tidak bisa menahan tawanya. Dia tahu cowok itu masih sangat sulit menerima pelajaran. Namun, Acha telah berjanji dengan Papa Regan, akan membuat nilai cowok itu berubah. Tidak akan ada lagi nilai dibawah KKM.
"Ayah mana, aku mau pamit," ujar Regan. Dia telah terbiasa dengan ayah Acha. Begitu juga ayah yang telah bisa menerima Regan, sejak dia tahu orang tua Regan membantunya dan kedekatan keduanya juga sangat menguntungkan. Sejak dekat dengan Regan, anak gadisnya menjadi ceria.
"Ayah ke pasar. Besok sudah mulai jualan di kantin perusahaan Papa kamu," ucap Acha.
"Kalau gitu kita jalan lagi. Nanti telat."
Ucapan Regan membuat Acha bahagia, karena cowok itu sudah mulai disiplin. Tidak mau datang terlambat dan absen lagi.
__ADS_1
Guru-guru di sekolah juga pada kaget melihat perubahan keempat muridnya. Walau terkadang di antara keempat cowok itu masih ada yang tidur di kelas saat pelajaran di mulai.
Regan menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Tangan Acha yang melingkar di pinggang membuat bibir cowok itu selalu tersenyum.
Sampai di sekolah, ketiga temannya belum tampak. Regan mengajak Acha duduk di taman. Sambil belajar, gadis itu menyuapi nasi goreng yang dia buat ke mulut Regan.
Ketiga teman Regan yang baru sampai, langsung menuju taman. Tempat favorit mereka sejak sang ketua jatuh cinta. Dulu tempat mereka kumpul, selalu di samping gudang sekolah. Tempat yang sepi dan cocok untuk keempatnya merokok.
"Aakk ...," ucap Roy sambil membuka mulutnya dan meminta suapan yang akan Acha beri ke Regan. Dengan tanpa takut cowok itu langsung menyerobot sendok yang Acha pegang.
"Enak, Cha. Satu suap lagi ...," ucap Roy.
"Lo emang dah bosan hidup kelihatannya!" ucap Regan dengan suara tinggi.
Roy yang belum menyadari kesalahannya tetap memdekati Acha. Dia ingin disuapi sekali lagi.
"Masakan Lo enak, Cha. Mau juga besok aku dibawain bekal," ujar Roy.
Kesabaran Regan yang setipis tisu dibagi lima langsung menendang Roy, hingga cowok itu hampir saja tersungkur ke tanah.
"Anjiiirrr, sakit tau."
__ADS_1
"Sudah gue omong, lo mau mati! Beraninya minta disuapi dengan Acha," ucap Regan dengan suara tinggi.
"Jadi lo nendang gue karena minta disuapi Acha?" tanya Roy dengan polosnya.
Regan hampir saja menendang ulang Roy jika saja Acha tidak cepat menahannya.
"Regan ...." Hanya itu ucapan yang keluar dari mulut gadis itu, tapi mampu menahan pergerakan cowok itu.
"Aku tadi memang sengaja bawa banyak bekal tadi. Nih, untuk kalian bertiga."
Acha memberikan dua rantang lagi untuk teman Regan itu. Marvin langsung meraihnya. Memberikan satu untuk Alex. Keduanya langsung menyantap tanpa pedulikan Roy.
"Woii, kalian teerlllaalluuu ...," ucap Roy dengan nada bicara seperti raja dangdut.
Acha dan Regan tertawa melihatnya. Hingga tersisa satu sendok, barulah Marvin memberikan untuk Roy.
Roy mengambilnya cepat, namun saat melihat hanya tersisa satu sendok dia langsung mengumpat.
"Set*n kalian. Tak setia kawin," umpat Roy dengan suara tinggi. Semua temannya tertawa melihat cowok itu kesal.
...****************...
__ADS_1