My Possessive Bad Boy

My Possessive Bad Boy
Bab 30. MPBB


__ADS_3

"Acha?" Regan menarik tangan gadis itu agar tidak pergi. Dia belum siap jika harus memutuskan hubungan yang terjalin selama beberapa hari ini. "Kenapa gini sih? Kita baru aja ngerasain bahagia, saling jatuh cinta satu sama lain."


"Bukan saling jatuh cinta karena aku nggak pernah cinta sama kamu. Bukannya hubungan kita diawali dengan paksaan?" tanya Acha dengan sedikit ketus.


Genggaman Regan melonggar mendengar ucapan yang terlontar dari mulut kekasihnya. Jujur saja kalimat itu sampai di ulu hati hingga sakitnya tidak bisa diungkapkan hanya dengan kata.


"Gitu? Kalau gitu gue bakal maksa lo buat balik lagi. Gue bisa jelasin semuanya Cha. Malam itu bukan gue yang mau, gue dipaksa dan ...."


"Lo bukan anak kecil yang bisa dipaksa ngelakuin hal yang nggak lo suka, terlebih lo Regan. Cowok yang lebih pantas maksa daripada dipaksa." Acha mengambil nafas dalam-dalam.


Gadis itu ingin mengakhiri semuanya tanpa ingin membuang waktu lagi. Takut kalau saja hatinya semakin jatuh terlalu dalam sehingga sulit untuk melupakan.


"Terlepas dari pertarungan semalam, gue nggak suka anak motor kayak kalian."


"Kenapa?" tanya Regan. Pria itu berjalan semakin dekat, bahkan berhadapan dengan Acha yang enggan untuk berbalik.

__ADS_1


"Karena aku tahu, anak motor kayak kalian hanya pembuat masalah tanpa ada tanggung jawab! Aku miskin, Aku nggak punya apapun. Aku takut berurusan sama kalian apalagi sampai buat masalah di sekolah." Kali ini Acha benar-benar pergi dari hadapan Regan, membuat pria itu tampak frustasi.


Regan mengacak-acak rambutnya. Menendang batang pohon yang menjadi peneduh kolam ikan yang berada di taman sekolahnya.


"Sial, ini semua karena Toni!" geram Regan mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Pria itu berjalan menyusuri koridor, meninggalkan teman-temannya yang melongo melihat sikap Regan yang kembali seperti dulu. Penuh amarah dan tidak terkalahkan.


Marvin, Alex dan Roy saling menyenggol satu sama lain. Saling bertatapan.


"Mau kemana tuh anak? Jangan-jangan bakal ...." Ketiganya saling tatap, seolah berbicara lewat pancaran mata masing-masing.


Ketiga pria itu terus berlari hingga akhirnya berada di parkiran dan mendapati motor Regan telah menghilang. Dapat ditebak kemana pria itu akan pergi.


"Temuin Acha buru!" perintah Alex pada Marvin, sementara dia dan Roy sudah berada di atas motornya. Bersiap untuk menyusul Regan yang pastinya akan mengunjungi markas The Moge tanpa persiapan dan anggota.

__ADS_1


Marvin mengangguk, segera berlari menuju kelasnya. Koridor telah sepi akan siswa sebab bel pelajaran baru saja berbunyi 5 menit yang lalu. Beruntungnya kelas mereka belum dihadiri guru.


Pria itu mengatur nafasnya setelah berada di samping Acha yang tampak acuh meski telah tahu keberadaan Marvin.


"Cha?" panggil Marvin dengan nafas memburu.


Acha menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada buku fisika di atas meja. Lantas saja Marvin menarik buku tersebut.


"Bisa nggak sih lo nggak egois dikit aja? Regan sekarang mau nemuin Toni dalam keadaan emosi, cuma lo yang bisa hentiin dia. Atau dia bakal terluka!" jelas Marvin.


"Gue nggak peduli, Marvin. Mau dia terluka atau mati sekalipun gue nggak peduli sama dia ataupun tentang geng motor kalian!"


"Acha!" bentak Marvin. "Egois!"


"Gue memang egois, jadi jangan pernah kenal sama gue! Anggap gue orang asing dan nggak pernah ada dalam hidup kalian!" ucap Acha berusaha tenang. Walau dalam hatinya bergejolak.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2