
Keheningan sedang terjadi di dalam kelas XII Ipa 1. Tidak ada yang berani bersuara, semua siswa sibuk dengan kertas ulangan masing-masing, begitupun dengan guru yang berjalan mondar-mandir layaknya setrika.
Sesekali Roy mendongak jika guru membelakanginya. Pria itu sangat membutuhkan contekan, tapi tidak satupun teman-temannya menoleh.
"Sialan, masa cuma gue yang bodoh?" batin Roy kesal.
Berbeda di tempat lain, tepatnya di area balapan yang di huni oleh para anak-anak nakal yang tidak peduli akan pendidikan.
Berpamitan pada orang tua masing-masing untuk berangkat ke sekolah. Namun, nyatanya malah nongkrong di area balapan. Siapa lagi jika bukan geng The Moge yang di ketuai oleh Toni.
Pria itu sibuk merokok di atas motornya, memperhatikan lalu-lalang kendaraan hingga satu motor besar dengan orang saling berboncengan melesat menuju area balapan.
Toni senyum sinis, bersikap angkuh tanpa rasa takut pada dua pria berbadan kekar dan berotot di hadapannya. Dua pria itu memakai jaket kulit berserta topi.
"Mau nantangin kita balapan?" tanya Toni tanpa takut.
__ADS_1
"Benar kamu yang namanya Toni?" tanya salah satu pria.
Toni lantas tertawa, melirik teman-temannya dengan angkuh. "Keknya nih dua orang dari goa deh sampai nggak tau gue siapa." Dia bersedekap dada.
"Iya nama gue Toni, ketua The Moge yang ditakuti semua geng motor di kota ini. Gue raja jalanan, kalian berdua mau apa hah?" Tantangnya.
Toni masih memperhatikan dua pria di hadapannya yang tidak punya rasa takut sama sekali. Salah satu dari dua orang itu mengeluarkan kertas dari saku jaket kulitnya.
"Bapak Toni, anda ditahan atas kasus tabrak lari dua tahun yang lalu. Anda berhak diam dan menyewa pengacara untuk membela!" ucap salah satu pria dengan tegas.
Keberanian yang membersamainya tadi seketika hilang. Lutut Toni seakan tidak mempunyai tulang. Pria itu bersiap untuk kabur, tapi gerakannya kalah gesit dari sang polisi.
"Lepasin saya! Kalian nggak tau siapa saya. Saya anak dari orang berpengaruh di kantor polisi!" teriak Toni terus memberontak dalam kuncian dua polisi tersebut.
Namun, kedua polisi itu tidak terganggu. Memasang borgol di kedua tangan Toni dan menunggu mobil polisi datang. Sementara anggota The Moge yang tadinya banyak hanya tertinggal jejak pijakan saja. Semua lari tanpa memperdulikan sang ketua.
__ADS_1
Toni memutar otaknya untuk kabur, tapi kedua polisi yang berada di sampingnya sangatlah kuat dibandingkan dirinya.
Pria itu mengira kasus tabrak lari yang terjadi dua tahun yang lalu telah tenggelam dan dilenyapkan oleh suruhan ayahnya yang bekerja di kantor polisi.
Toni bersumpah akan membunuh semua orang yang terlibat kalau sampai dia benar-benar ditahan oleh polisi.
Namun, pertanyaanya. Akankah Toni bisa bebas dari tuduhan sementara yang memproses adalah orang tua Regan? Pengusaha yang juga mempunyai pengaruh besar pada kepolisian. Bahkan om Regan adalah orang paling berpengaruh dalam lingkungan hukum.
Tubuh Toni diseret memasuki mobil polisi. Tubuhnya diapit oleh dua polisi berbadan kekar di dalam mobil.
Laju mobil perlahan-lahan meninggalkan kawasan tempat balapan liar, seiring detak jantung Toni yang semakin cepat. Terlebih ketika mobil polisi tersebut memasuki kawasan kantor polisi.
Di depan sana, pria yang dia kenali sebagai ayah korban tengah berdiri dengan pria berjas. Ayah Acha ada di kantor polisi bersama papah Regan.
...****************...
__ADS_1