My Possessive Bad Boy

My Possessive Bad Boy
Bab 36. MPBB


__ADS_3

Setelah membaca pesan yang dikirmkan Marvin, gadis itu langsung memeluk lengan Regan. Walau sebenarnya dia tidak tahu ada masalah apa lagi dengan cowok itu. Yang pasti Acha hanya ingin melindunginya.


"Aku lapar ...," ucap Acha manja.


"Aku sudah masakan telur dadar. Kamu bisa makan itu. Aku nggak bisa masak yang lain. Itu aja nggak tahu rasanya gimana!" ucap Regan dengan tersenyum manis.


Roy yang berada di belakang Regan, sampai menelengkan kepala melihat tingkah keduanya yang sedang bucin.


"Tak apa, Sayang. Apapun makanan yang kamu buat, pasti enak jika kita makan berdua," ujar Acha lagi.


"Rencananya aku mau pergi. Tapi karena kamu menahannya, baiklah Sayang, aku akan tetap di sini menemani kamu," ujar Regan sambil mengusap kepala Acha.


"Hueekkk, mual kepala gue mendengar ucapan kalian yang bucin itu," ucap Roy.


Alex yang duduk di samping Roy langsung mengeplak kepalanya dengan topi.


"Sakit, anjirrr ...," ucap Roy sambil memegang kepalanya.

__ADS_1


"Lo itu udah lemot, bego lagi. Mana ada kepala yang mual," ucap Alex.


"Jadi apa ...?" tanya Roy.


"Kaki ...," jawab Marvin.


"Jadi gue salah. Kaki ya yang mual itu," ucap Roy sambil mengangguk.


"Kalian keluar kek. Mau beli apa gitu. Ganggu aja," usir Regan.


"Kita bertiga di usir. Pasti lo sama Acha mau mesum. Ntar ketangkap pak hansip baru tahu rasa! Bisa-bisa judul novelnya nanti berubah TERPAKSA MENIKAH GARA-GARA DITANGKAP HANSIP," ucap Roy dengan suara datar.


Roy yang tidak mau juga pergi dari tempat dia duduk, terpaksa di tarik tangannya oleh Alex. Mereka keluar rumah untuk mencari makanan. Telur dadar yang Regan masak tadi semuanya gosong.


Marvin dan Alex sengaja mengajak Roy juga, untuk memberi waktu bagi Regan dan Acha bicara serius berdua. Saat di dapur tadi Marvin telah mengatakan pada Regan tentang abang Acha yang kecelakaan hingga meninggal dunia.


Marvin meminta Regan untuk bertanya detailnya. Biar mereka nanti bisa selidiki siapa si penabrak itu.

__ADS_1


Setelah ketiga temannya pergi, Regan merapatkan tubuhnya. Dia memeluk bahu Acha. Tampaknya pria itu telah melupakan amarahnya pada Martin sang ayah.


"Acha, aku dengar kamu memiliki trauma pada geng motor. Apa aku boleh tahu cerita lengkapnya," ujar Regan serius. Cowok itu kalau lagi serius selalu saja menggunakan kata aku dan kamu.


"Aku sebenarnya ingin melupakan semua. Tidak mau mengingat peristiwa itu lagi. Baru saja luka dan trauma aku dengan geng motor berkurang, aku harus menerima kenyataan jika kamu salah satu dari anggota geng motor," ujar Acha pelan.


"Apa yang membuat kamu trauma?" tanya Regan lagi.


Acha menarik napasnya. Berat rasanya jika harus mengulang lagi cerita itu. Di sekolah tadi saja, tubuhnya terasa lemah dan gemetar sehabis mengatakan semua pada Marvin.


Air mata Acha turun membasahi pipi. Mengingat semua kejadian itu. Regan memeluk Acha, membawa ke dalam dekapan dadanya. Acha membenamkan kepalanya ke dada bidang pria itu, tangisnya pecah.


"Menangislah, Sayang. Luapkan semua kesedihanmu itu. Setelah itu ceritakan padaku. Aku bersumpah akan mencari siapa pelaku semua itu. Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya," ucap Regan.


Tangannya mengelus punggung gadis itu yang berguncang karena menahan isak tangisnya. Regan mengepalkan tangannya, dalam hatinya pria itu bersumpah akan membawa pelaku ke hadapan gadis yang dia cintai ini.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2