My Psycho Girl

My Psycho Girl
FlashBack-Citraloka


__ADS_3

Tiba-tiba mata mereka bertemu, dengan sigap El bersembunyi di balik dinding. El mencoba untuk mengintip kembali, dan sosok itu melambaikan tangannya agar El datang menghampirinya.


El yang waktu itu bisa dikatakan masih kecil, tanpa sadar tubuhnya mengikuti perintah perempuan berbaju putih itu.


Saat langkahnya terhenti, tubuhnya berdiri tepat didepan perempuan yang tengah duduk diatas batu itu "Gadis cantik, sayang nasibmu bagai gurauan" ucap perempuan itu yang memiringkan kepala, mengamati El yang tengah terpaku didepannya.


"Apa maksudnya?" tanya El datar


"Keberuntungan dan kesialanmu itu seimbang untuk sekarang, tapi suatu saat akan ada yang membuat kesialanmu melebihi keberuntunganmu. Kau memang kuat, tapi apa yang kau pendam sendiri akan menjadi pedang bermata dua jika kau tidak bisa mengendalikan~...." belum selesai perempuan itu bicara, kalimatnya sudah dipotong oleh El


"To the point saja, jangan bertele-tele! Aku benci itu"


Perempuan itu tersenyum dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan "Jadi temanku, aku akan melindungimu dan mengabulkan permintaanmu"


"Memangnya aku butuh?" jawab El langsung

__ADS_1


"Kau butuh, sangat-sangat butuh, dan aku juga butuh dirimu"


"Untuk apa?"


"Menjadi temanku sebelum aku pergi"


Suasana menjadi hening dalam beberapa saat. El memikirkan baik-baik penawaran itu, apakah penawaran itu menguntungkan baginya atau malah sebaliknya?


"Siapa namamu? Kenapa bisa disini? Aku ingat disini kandang buaya, tapi aku tidak melihat buaya itu"


El terkejut mendengar ucapan Citraloka, Citraloka pun memandang ke arah El "Aku seorang putri raja, tapi saudaraku tidak menyukaiku, hingga ia menjebakku dan mengubahku menjadi buaya. Ia iri padaku karena aku akan dijodohkan dengan pangeran kerajaan timur. Aku akan berubah menjadi manusia ketika sudah lewat malam dan akan kembali ke wujud buaya saat fajar datang"


sambunhnya


"Apa tidak bisa mematahkan kutukannya?"

__ADS_1


"Bisa, tapi aku tidak yakin dengan itu, karena aku belum pernah mencobanya selama aku hidup ratusan tahun ini"


"Memangnya apa?"


"Aku harus mencari orang yang mempunyai mental yang kuat, mempunyai keberanian yang melebihi orang lain, dan juga seorang keturunan raja. Tugasnya sederhana, hanya perlu membunuhku ketika aku dalam wujud buaya tepat saat bulan purnama.... Dan orang itu sedang berdiri didepan ku. Maukah kau, melakukannya, Elisa?!"


Sekali lagi El dibuat kaget oleh ucapan Citraloka. Perkataan Citraloka bagaikan permohonan tapi juga seperti perintah


"Tunggu, apa? Hei, yang benar saja! Aku dari Jawa kesini(Kalimantan) cuma untuk liburan, karena mumpung punya saudara disini. Dan lagi, keturunan raja apanya? Ayahku saja orang luar negri yang aku sendiri tidak tau seperti apa ayahku" ketus El yang penuh emosi.


Bagaimana tidak, El yang baru sampai tadi pagi di Kalimantan untuk mengisi libur semesternya. Dikejutkan oleh seorang perempuan yang bukan lain adalah siluman buaya, lalu mengajak untuk berteman, dan lagi memintanya untuk membunuh Citraloka sendiri. Di zaman yang sudah modern seperti ini siapa yang akan percaya adanya siluman? Kecuali ia melihatnya secara langsung.


Sebenarnya, Elisa bisa merasakan keberadaan makhluk halus sejak kecil, tapi ia mencoba acuh akan hal itu, dan bisa melihat saat dia ingin melihat. Kebanyakan makhluk-makhluk itu tidak berani mengganggu bahkan mendekati El. Karena tanpa El sadari, para makhluk itu takut padanya.


Citraloka tersenyum melihat El yang sedang marah "Memang benar keturunan raja dari timur" ucap Citraloka yang terfokus pada bayangan hitam yang berdiri dibelakang El

__ADS_1


__ADS_2