My Psycho Girl

My Psycho Girl
Dia tidak sempurna


__ADS_3

Lewis yang sudah berada di dalam kamar El, berjalan mendekati ranjang, dan duduk tepat dipinggiran ranjang.


Ia membelai lembut rambut El sembari memainkannya "Maaf membuatmu sibuk, tapi dengan begini kamu akan menjauh darinya tanpa kamu sadari" ucapnya lirih sambil memperhatikan kalung yang dipakai El


"Sehari lagi, kamu akan memakainya di jari manismu" Lewis pun pergi meninggalkan El yang tengah tertidur pulas akibat kelelahan.


Saat ia menutup pintu, terlihat sosok laki-laki yang tengah berjalan ke arahnya "Apakah El sudah tidur?" tanya ayah El


"Iya om, El sudah tidur"


"Ahhh begitu rupanya. Emm nak Lewis, bisa bicara sebentar?" tanya ayah El lagi


Lewis pun tersenyum sambil berkata "Bisa om"

__ADS_1


~


Sesampainya di ruang kerja Tuan Lee, Lewis pun duduk di sofa panjang dekat pintu masuk. Sementara ayahnya El tengah sibuk mencari sesuatu


"Kenapa om mau bicara dengan saya?" tanya Lewis sambil memperhatikan Tuan Lee


"Ahhh sehari lagi kau kan jadi mantuku. Sebenarnya om tidak ingin menanyakan ini karena yang melamar untuk menikahi putriku adalah kau. Tapi, lama-lama om kepikiran" Tuan Lee berjalan ke arah Lewis sambil membawa sesuatu ditangannya


"Apa yang membuatmu ingin menikahi El?" sambungnya lagi tapi dengan wajah serius


"Yaa apa lagi? Heran saja, padahal rumor disana bicara yang tidak enak soal putriku itu dan kau sendiri adalah orang yang anti dengan rumor jelek" jawab Tuan Lee ringan sambil duduk disebelah Lewis


"Ahhhh tidak begitu juga, aku sendiri orang yang dipenuhi rumor jelek" kata-kata Lewis terhenti ketika Tuan Lee memperlihatkan isi album foto yang tadi ia bawa

__ADS_1


"E-li-sa?" ucap Lewis terpotong-potong karena terkejut


"Ahhh sudah kuduga kau akan mengenali Elisa waktu kecil. Jadi, kau sudah bertemu dengan Elisa dulu?" tanya Tuan Lee


"Iyaa, dulu sekali. Sekitar 5 tahun lalu" ucapnya yang terdengar pilu


"Oh begitu, jadi cincin permata merah yang dipakai El itu milikmu?"


"Ahhh om cepat juga menyadarinya"


"Tentu saja, karena awal waktu bertemu dengan ku dia tidak memakai perhiasan apapun, dan waktu kubelikan saja dia menolak. Tapi setelah kecelakaan itu, tiba-tiba saja El memakai cincin itu sebagai liontin kalungnya, dan waktu di tanya 'Tidak tau, tiba-tiba sudah melingkar dijariku'. Siapa yang tidak curiga?" ucap Tuan Lee sambil melirik tajam Lewis


Mendengar ucapan itu keluar dari mulut Tuan Lee, Lewis sudah merasakan hawa-hawa kecemburuan seorang ayah yang akan merelakan putri kesayangannya dibawa orang lain "Ahahaha begitu" Lewis merasa canggung dengan calon mertuanya itu

__ADS_1


"Om jujur saja ya, dia tidak sempurna, malah jauh dari kata sempurna. Yang dia miliki hanya parasnya yang cantik serta fisiknya yang kuat. Walaupun begitu mentalnya tidak sekuat fisiknya. Mungkin dulu mentalnya kuat, tapi sekeras apapun batu jika selalu terkena tetesan air lama kelamaan akan hancur bukan? Yaa seperti itulah Elisa sekarang" Tuan Lee mengusap album foto putrinya itu dengan tatapan sendu


"Dari awal dia lahir saja dia sudah tersiksa, tidak punya orang tua yang mendukung maupun melindungi, tidak bisa memenuhi keinginannya sendiri karena keluarganya miskin, dihina dan dibully di sekolah waktu SD, kehilangan orang yang menyayanginya satu persatu. Maka dari itu mentalnya terganggu. Kau masih ingin melanjutkannya, Lewis?"


__ADS_2