
Mendengar ucapan itu, Lewis pun tersenyum "Seburuk apapun sifatnya, sesakit apapun dirinya, sebanyak apapun kekurangannya, aku sudah cukup dengan mencintai satu kelebihannya. Aku akan perbaiki sifatnya, akan ku obati lukanya, akan ku tutupi kekurangannya dengan kelebihan yang ku punya. Karna aku terlanjur jatuh cinta pada dia yang tidak takut pada apapun" jawab Lewis yakin sambil tersenyum manis karena mengingat kejadian dulu
"Apa om tau kenapa El sampai dirawat dirumah sakit selama 2 hari, 5 tahun yang lalu?" tanyanya sambil memandang wajah calon mertuanya itu
"Karna El menyelamatkan saya dari kecelakaan itu. Dia menerobos masuk ke dalam kobaran api, membantu saya yang setengah sadar untuk segera menjauh dari helikopter. Dengan tubuh mungilnya yang kurus itu, dia memapah saya. Walaupun saya setengah sadar, tapi saat itu terlihat jelas dari sorot mata El bahwa ia tidak memiliki ketakutan didalam matanya, hanya ada kekhawatiran apakah ia bisa membawa saya pergi dari situ? Mungkin waktu itu pula, saya jatuh cinta pada sosok El yang kuat tanpa kenal takut itu" lanjutnya dengan senyum manis itu
Mendengar jawaban itu Tuan Lee tersenyum lega "Kalau begitu, tolong jaga anakku, sayangi dia Lewis, bahagiakan dia. Karna aku sendiri bingung bagaimana harus membahagiakan putri ku sendiri"
"Dengan sepenuh hati ayah" mendengar ucapan itu Tuan Lee tersenyum lembut "Yaa, mulai besok kau menjadi mantuku"
Suasana yang tadinya tegang berubah tenang. Lewis pun pamit pulang karena besok ia harus bangun pagi-pagi untuk acara pernikahannya
__ADS_1
~
Disebuah kamar yang gelap dan dingin, tercium bau alkohol yang menyengat, botol-botol minum berserakan dilantai. Zack yang frustasi melampiaskan kekesalannya pada alkohol, ia duduk dibawah, bersandar pada tepi ranjang.
Tangannya masih memegang botol minuman, ia menatapi langit-langit kamarnya. Air mata yang ia tahan akhirnya mengalir tanpa bisa dihentikan, suaranya yang terisak pilu, tapi terkadang tertawa seperti orang gila.
Ia hanya minum, menangis, tertawa, dan menangis lagi. Zack meringkuk memeluk erat tubuhnya sendiri "No... Naa" suaranya yang serak diiringi dengan isak tangisnya.
~
Suara alarm membangunkan El dari tidurnya, sontak ia terbangun karena hampir lupa bahwa hari ini ia akan menikah. Ia melihat jam di dinding, waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Ia pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi, karna untuk merias pengantin menghabiskan waktu kira-kira 3 jam.
__ADS_1
Setelah mandi El pun dirias, lalu berganti pakaian dengan gaun yang akan ia gunakan nanti.
"Waaah coba lihat ini, anda cantik sekali nona" ucap penata rias sambil menatap bayangan El dicermin.
El pun menatap pantulan dirinya dicermin "Sudah lama aku tidak memakai make up seperti ini" batinnya yang fokus menatap bayangannya dicermin.
El yang sudah siap pun dibawa ke tempat altar pernikahan. Disana El sudah ditunggu ayahnya "Waaah lihat siapa ini, putri ayah cantik sekali ya" ucap ayahnya yang tersenyum bahagia
Ayahnya pun menggandeng tangan putri semata wayangnya ke tempat akad nikah dimulai. Lewis yang melihat El berjalan bersama ayahnya, dengan gaun putih, wajah yang sedikit dirias tapi membuat El semakin cantik, dan buket bunga digenggam El.
Lewis terpana melihat El, duduk terpaku dengan pandangan yang tidak lepas menatap calon istrinya.
__ADS_1
El duduk disamping Lewis "Apa benar kau pindah agama demi aku?" bisik El ke Lewis "Awalnya, lalu setelah tau semuanya, aku pindah agama karena yakin ini yang terbaik" jawab Lewis yang berbisik ditelinga El, lalu tersenyum manis dan memalingkan wajahnya.