My Robot Engineer

My Robot Engineer
Episode 1


__ADS_3

Sarah Pov :


"Seorang Milyader tampan Kun Qian telah menggelar pernikahannya dengan gadis asing yang tidak pernah diperlihatkan pada publik. Diketahui Kun melaksanakan pernikahan bersama wanita bernama Sarah. Saat ini kami belum mengetahui bagaimana latar belakang perem.....


Ibu mematikan televisi dengan kesal. "Berita sekarang ini benar-benar menjengkelkan, kenapa harus berfokus pada latar kehidupan dirimu? Mereka itu kan seharusnya membawa berita sembari mengucapkan selamat atau memberi doa agar kelak pernikahan Kun dan dirimu baik-baik saja." Gerutunya kembali memotong sayuran.


"Sudahlah bu, lagi pula pernikahanku dan Kun itu hanya untuk status saja tidak lebih." Aku mengingatkan ibu tapi sepertinya beliau tidak terima.


"Dengar Sarah, pernikahan itu bukan sebuah permainan. Saat ini kau memang biasa saja menanggapi pernikahan yang kau anggap lelucon itu tapi dikemudian hari nanti, kau akan kerepotan."


Aku menelan ludah dengan susah payah. "Well~ aku harus kembali ke kantor. Bye bu." Ku kecup pipi ibu lalu pergi meninggalkannya sendirian dirumah sederhana ini.


Pertama aku berbohong perihal kembali ke kantor karena sebenarnya Kun sudah memecatku. Dia langsung mengeluarkan aku dari kantornya sehari setelah kami menikah secara mendadak. Dan kedua, aku memakai alasan kembali ke kantor untuk menghindari percakapan mengenai pernikahan konyolku dengan Kun.


Yang dikatakan ibu memang benar, pernikahan bukanlah suatu hal permainan. Ini adalah masalah yang serius.


Aku tidak tahu kenapa Kun terpikir untuk menikahiku dua hari yang lalu. Ia menyeret lenganku ke altar lalu meminta aku untuk mengikuti janji pernikahan yang di dikte bapak pendeta. Dan setelah itu kami resmi menjadi sepasang suami istri saat Kun mengecup bibirku.


Terlintas di otakku bahwa saat itu aku sedang mabuk dan berhalusinasi karena menikah dengan pria tampan, mapan, juga seorang milyader yang di dambakan jutaan wanita diluar sana. Aku berani bersumpah kalau ini terasa sangatlah tidak nyata.


Bagaimana tidak? aku baru saja di terima di kantor pusat keuangan milik Kun. Satu minggu kemudian bosku menjadi suamiku. Tidakkah kau berpikir bahwa aku ini terlalu beruntung?. Untuk bekerja di kantornya saja sudah cukup sulit dan pada saat aku dinyatakan lulus interview itu sudah jadi kebanggaan terbesar dalam hidupku tapi ternyata Tuhan berkata lain. Tuhan tidak hanya memberiku pekerjaan yang layak tetapi juga seorang suami yang diluar dugaan.


Dan mungkin, ini saatnya aku untuk mengeluh. Setelah menikah dengannya aku dipecat dan dikeluarkan dari kantor kebanggaanku. Tidak hanya itu saja, suami yang menjadi idaman para wanita itu ternyata bukanlah idaman untukku. Aku mengakui bahwa dia kaya dan tampan tapi ternyata sifatnya sangat jauh dari kata idaman.


Pada saat ini juga, aku menyatakan bahwa diriku tak suka pada Kun.


Dia adalah lelaki yang sombong dan pemarah. Setiap harinya mengeluarkan kata-kata makian untukku dan juga para pelayan. Jujur saja, aku pernah menegurnya dengan halus tapi justru ia malah memarahi dan memaki balik diriku.


Aku setuju dengan kata-kata bijak 'Tidak ada manusia yang sempurna'. Kun adalah lelaki kaya raya, tampan, bertalenta dan memiliki segalanya tapi ternyata ia kehilangan hati nurani.

__ADS_1


Ku hentikan taksi didepan gedung Qian II Apartmen. Dugaan kalian benar, gedung ini tentunya milik suamiku. Hari ini, aku tidak lagi tinggal dirumah megahnya yang memiliki lapang golf beserta pendaratan helikopter pribadi. Kun mengusirku, sudah ku katakan dia adalah suami yang tidak punya hati nurani.


Dia menyuruhku untuk tinggal di Apartemen miliknya. Aku senang karena pada akhirnya bebas dari kutukan serta teriakan lelaki dua puluh sembilan tahun itu. Hanya saja....


Sudah hampir dua jam aku tidak melakukan apapun kecuali duduk di sofa sembari menonton televisi dan menghabiskan cemilan. Ku raih ponsel untuk mengirim pesan pada Kun.


"Beri aku pekerjaan!." Tulisku lalu menekan tombol send.


Aku tidak terbiasa dengan kemewahan, yang biasa ku lakukan di waktu senggang adalah bersih-bersih rumah. Ku kira apartemen ini akan sangat kotor, karena Kun mengatakan bahwa apartemennya sudah tertinggal selama tiga tahun. Tapi nyatanya, ruangan ini sangatlah bersih dan kinclong sebab ada robot pintar yang menghuni apartemen ini.


Ku perhatikan robot berukuran anak delapan tahun itu, dia sedang berdiri menghadap jendela memperhatikan gedung-gedung yang lainnya.


"Apa yang kau lihat?" Tanyaku iseng bertanya. Tidak pernah terpikir olehku kalau robot itu akan menjawab tapi nyatanya....


"Aku... melakukan... suatu hal... yang sering... dilakukan... oleh.. Tuan Kun." Serunya dengan bariton robot.


"Tidak...Tahu." Jawabnya tidak memuaskan.


Aku kembali bosan, sesekali menggesek-gesekkan kaki ke kakiku yang lain. Sampai akhirnya mataku tertarik pada sebuah album buku sekolah yang tertimpa oleh play station.


Sarah Pov End.


...**** ...


Kun Pov


Ku buka kacamata lalu memijat kecil pangkal hidung agar rasa pusingku menghilang.


Tiba-tiba saja ponselku berdering, aku meliriknya sebentar sebelum akhirnya membalas pesan tersebut.

__ADS_1


"Hah~ menjengkelkan sekali." Gerutuku memutar kursi menghadap jendela. Ku pandangi rooftop gedung hotel  dengan tatapan yang kosong sebelum akhirnya ingatan tentang pernikahan konyol itu terlintas.


Andai saja kala itu aku tidak terbawa emosi. Ku pastikan aku tidak akan menikahi gadis asing itu. Dan semuanya karena Karin, karena ulah dirinya aku terbawa emosi. Wanita itu, dia semakin berani setelah membatalkan pertunangannya denganku.


Menyebarkan rumor busuk yang memuat namaku jadi buruk dihadapan rekan bisnis. Bisa-bisanya dia mengatakan bahwa aku ini seorang perjaka tua dan bisexual. Tentu saja aku tidak menerima itu semua, ku seret wanita yang berdiri didekatku dan ku jadikan dia sebagai kekasih sekaligus ku jadikan istri pada saat itu juga agar kelak mereka percaya bahwa aku ini normal.


Tapi sialnya, aku tidak tahu dampak apa yang sudah ku lakukan dengan keputusan bodoh itu. Pada akhirnya penyesalan menyelimuti diriku, aku menyesal sudah menikahi gadis asing yang bahkan tidak ku kenal suujung rambut pun. Bahkan aku baru tahu kalau dia bekerja di kantorku, itu juga berkat Johnny yang memberitahu aku kalau bahwasannya Sarah adalah karyawan baru di Qian II Bank.


Sontak langsung ku pecat dia karena bagaimanapun juga orang-orang tidak boleh tahu kalau ternyata istriku adalah karyawan disalah satu kantorku. Untuk saat ini aku tidak mau bertemu dengannya, terlalu menjengkelkan untuk di lihat. Ku suruh ia untuk jauh-jauh dariku, seharusnya ku pikir mengembalikan ia pada keluarganya tapi nama baikku bisa menjadi buruk sehingga ku tawarkan Sarah untuk tinggal di apartemen dan dia menyetujuinya.


Syukurlah karena sekarang aku tidak akan bertemu lagi dengannya. Setiap bertemu, darahku mendadak naik. Dia menjadi pengacau tambahan didalam hidupku yang akhir-akhir ini sedang kacau.


Siang ini, Sarah mengirimi aku pesan. Katanya dia meminta pekerjaan, dan kebetulan aku punya ruang kosong untuknya bekerja. Ku pikir itu sangat cocok untuknya.


Biar ku beritahu bagaimana diriku ini.


Aku adalah Kun Qian. Penerus bisnis Qian generasi ke dua, kakakku tidak terlalu suka dengan bisnis sehingga itu dialihkan padaku. Hanya bisnis kecil saja seperti, Hotel dan Apartemen, Teknologi canggih beserta Perbankan. Semua tidak diraih olehku, aku hanya meneruskan saja.


Sejak kecil hidupku sudah mewah, itu terpancar dari aura wajahku yang tampan. Mengendarai kuda, bermain golf dan catur adalah bidang utama yang harus aku kuasai. Aku tidak perlu merengek untuk mendapatkan apapun, sebab yang aku dan kakakku inginkan akan langsung terkabul. Menjadi anak orang kaya itu memang enak tapi tidak dengan tebalnya peraturan. Saat kecil, banyak sekali peraturan yang harus dituruti dan seiring berjalannya waktu peraturan itu mulai melonggar.


Mengenai asmara, jangan kalian kira orang kaya itu hanya dijodohkan. Keluargaku tidak seperti itu, kami bebas memilih pasangan yang terpenting memiliki latar belakang yang baik dan setara.


Dan Sarah, jujur saja, dia tidak setara denganku satu persen saja. Bahkan aku tidak kenal dengan ayah dan ibunya, bagaimana kesehariannya, lulusan dari mana dia. Aku benar-benar tak punya informasi apapun tentangnya kecuali data singkat dilamaran kerja.


Jika, di pikir-pikir lagi, ternyata aku sudah sangat kurang ajar karena menikahi Sarah tanpa izin kedua orang tuanya. Ya~ lagi pula aku sudah yakin kalau mereka tidak akan marah. Toh yang menikahi anaknya itu adalah manusia kaya yang hartanya tidak akan pernah habis.


Kun Pov End.


to be continue...

__ADS_1


__ADS_2