My Robot Engineer

My Robot Engineer
Episode 2


__ADS_3

Sarah Pov :


Setelah turun dari taksi, aku berjalan masuk melewati pagar cokelat menjulang tinggi. Dengan higheels yang ku beli satu tahun lalu untuk acara perpisahan kuliah, ku hentakkan ke jalan karena marah. Butuh waktu sekitar enam sampai tujuh menit untuk sampai di depan kediaman Kun.


Kenapa letak rumahnya harus sejauh ini? Dia mencoba untuk membunuhku, hah?.


Para pelayan sudah menyambutku dari awal pintu gerbang di buka. Mereka menundukkan kepalanya sembari menyapaku "Selamat Pagi Nyonya Kun~." Tubuhku langsung merinding saat mereka menyebutku 'Nyonya Kun', konyol sekali rasanya. Yang mereka tahu aku ini adalah istri si tuan, padahal aku ini hanyalah tumbal rasa malunya Kun.


"Dimana keberadaan Kun?" Tanyaku lancang.


"Tuan sedang sarapan nyonya, saya juga akan menyiapkan sarapan untuk nyo....


"Tidak perlu, aku sudah lumayan kenyang dengan balasan pesan dari Kun semalam." Ujarku langsung masuk ke dalam rumah.


Langkah kakiku menimbulkan suara nyaring membuat seisi rumah mengetahui keberadaanku. Saat aku masuk ke ruangan makan, langkahku terhenti ketika melihat perempuan paruh baya terduduk di kursi roda menghadap piring-piring berisikan lauk-pauk.


Beliau menyadari keberadaanku, Nenek menghentikan sarapannya hanya untuk menghampiri dan memelukku. Ia mengusap punggungku dengan sangat lembut.


"Sudah lama sekali tidak bertemu, kenapa kau baru pulang. Hm?"


Aku menelan ludah karena tidak tahu harus menjawab apa, sepertinya lelaki menyebalkan itu tidak menjelaskan semuanya pada nenek.


"Maaf sudah mengkhawatirkan, Nenek." Gumamku masih tersenyum.


Mendadak amarahku pada Kun hilang saat nenek memelukku.


"Nenek, kau harus menghabiskan sarapan agar tetap sehat. Sekali lagi aku minta maaf karena sudah mengganggu dan mengkhawatirkan nenek." Imbuhku lalu mendorong kursi roda ke dekat meja makan.


Setelah itu aku kembali pada niatku yang ingin bertemu dengan Kun.


Aku menyeretnya ke dekat taman dan reaksi Kun tentunya jijik. Dia tidak suka ku sentuh sembarangan.

__ADS_1


"Bukankah aku sudah bilang padamu untuk tidak kembali kerumah ini?" Kun berkata sembari memalingkah wajahnya.


Ku perhatikan sejenak wajahnya.


"Aku memang tidak ingin menginjakkan kaki lagi disini tapi kau.. kau selalu saja membuatku tidak habis pikir. Bagaimana bisa kau memberikan pekerjaan untukku sebagai tukang memandikan kuda? apakah kau gila, hah?." Volume bicaraku langsung naik begitu saja saking kesalnya.


Kun memberi reaksi wajah yang datar seolah tidak merasa bersalah. Ia mendaratkan bokongnya di kursi, merogoh saku dalam jas dan mengeluarkan sebatang cerutu dari kotak.


"Aku tak punya lowongan pekerjaan yang lain, hanya itu yang kosong. Jika tidak mau, kau kan tidak perlu mengambil pekerjaan itu. Lagi pula sekalipun kau tidak kerja, kau tidak akan jatuh miskin karena aku sudah menikahimu." Katanya menyalakan rokok.


Aku terkekeh dengan hambar. "Jika kau memang menganggap dirimu seorang suami, setidaknya kau bisa memberiku pekerjaan yang layak. Jangan kau pikir aku merasa diuntungkan karena dinikahi olehmu, jujur saja ini tidak menguntungkan untukku. Dengar Kun! Aku bukan perempuan yang senang menjadi pengangguran dan menikmati kemewahanmu. Itu bukanlah kehidupanku!." Mulutku mengeluarkan kalimat dengan sangat cepat sampai-sampai pipiku terasa pegal.


"Kalau kau memang tidak mau menjadi pengangguran dan ingin bekerja keras. Aku rasa membersihkan kuda-kudaku menjadi solusi terbaik, kau bisa berteman dengannya dan tentu saja aku akan memberimu upah. Aku tak punya banyak waktu untuk melayani perempuan aneh sepertimu." Kun bangkit dari duduknya dan kali ini ia sedikit mendekatkan wajahnya kedekat wajahku membuat keningku mengkerut kebingungan.


"Dan ada beberapa hal yang harus ku beritahu padamu. Pertama, jangan kau pikir bahwa kita benar-benar sepasang suami istri. Aku memberimu kemewahan hanya agar kau bisa menikmatinya, bukan semata-mata karena kau kunikahi. Kedua, aku tak suka kau membentakku seperti tadi. So~ kau bisa bekerja mulai sekarang. Kandang kudanya terletak didekat kebun."


Setelah mengucapkan semua kata-kata yang membuatku sakit hati, pria itu langsung pergi. Tanganku mengepal erat sangat ingin memukul mulutnya yang tajam.


"Dasar lelaki tak punya hati, ku sumpahi kau sakit gigi agar kesulitan berbicara!."


Aku hanya merasa kalau aku perlu membuktikan pada Kun bahwa aku memang bukan wanita manja dan ingin menghaburkan uangnya. Beberapa kali aku merasa kalau Kun melihatku sebagai perempuan gila harta. Hah~ sulit memang karena pasti yang ada di otak pria kaya adalah semua wanita itu matre.


"Nyonya, jika nyonya Qian tahu. Maka nyonya Qian akan sangat marah." Salah satu pekerja ternak memperingati aku karena dia takut di marahi oleh nenek.


"Tenang saja, nenek tidak akan marah. Aku akan menjelaskannya pada nenek nanti, lagi pula aku sudah tidak punya pekerjaan setelah Kun memecatku." Jelasku membuat si pekerja terdiam tidak mengerti.


"Hehe... Tidak usah dipikirkan." Kataku tersenyum kecut.


Sarah Pov End


Didalam pabrik robot bernama 'Iron Brain Qian II' semua pekerja tengah melaksakan tugasnya masih-masing. Di zaman yang semakin modern ini hampir semua dilakukan oleh teknologi. Salah satunya si jenius Kun yang terkenal sebagai pembuat robot rumah tangga terbaik di dunia. Hasil ciptaannya itu banyak diminati oleh kaum-kaum manusia sibuk.

__ADS_1


Iron Brain sudah mendapatkan banyak sekali penghargaan yang membuat sang pencipta semakin semangat untuk membuat inovasi baru.


Iron Brain terbiasa membersihkan rumah, memotong rumput dan memberikan pijatan.


Yang paling unggul dari semuanya, Iron Brain berbasis Kecerdasan Buatan atau AL (Artifical Intelligence). Selain mengerjakan pekerjaan rumah, Iron Brain bisa bekerja sebagai bodyguard. Mendeteksi kejahatan dan melakukan hal lainnya sesuai rancangan pencipta.


Bagaimana, apakah kalian tertarik untuk memiliki Robot Iron Brain?.


(Wkwkwk)


Kun Pov :


"Aku ingin sekali mengubah bentuk wajahnya menjadi lebih realistis." Kataku pada Ayden.


Tetapi ia memberi reaksi terkejut. "Bos, bukankah kau tidak suka dengan robot yang sangat menyerupai manusia? kau mau mengubah Iron Brain menjadi Cyborg?".


  Aku mengerjap-ngerjapkan mata beberapa detik. "Kau benar, jika wajahnya dirubah maka akan seperti manusia. Hah~ sepertinya rasa ke tidak puasanku terus meningkat."


"Ey~ seharusnya bos itu beristirahat dirumah. Melaksanakan bulan madu, bukannya bekerja begini. Kasihan istrimu yang cantik itu." Ayden menggodaku yang justru membuat moodku semakin turun.


"Kenapa pula aku harus bulan madu dengannya." Aku bergumam nyaris tanpa suara.


Ku tepuk pundak Ayden sekali, "jangan sampai ada kesalahan." Seruku pergi meninggalkannya.


Aku berjalan menuju ruangan kerjaku yang berada di pabrik. Ku lepas baju dan kacamata pelindung lalu menyalakan tombol hologram. Seketika itu juga semua file tentang Iron Brain keluar. Ada satu buah foto yang muncul di layar, aku langsung tersenyum saat mengingat masa awal pembuatan robot. Kala itu bentuknya tidak sebesar sekarang, hanya robot kecil yang memiliki tangan panjang bisa melipat. Robot pertama, ku buat untuk ku suruh-suruh.


Kamarku lumayan besar dan aku tidak mungkin memanggil pembantu hanya untuk menyalakan televisi atau mematikan saklar lampu sehingga aku terpikir untuk membuat robot dengan bantuan ayah. Dan ternyata berhasil.


Robot itu ku beri nama Algard dan ia berada di apartemen bersama dengan Sarah. Algard, ku update beberapa kali karena dia memiliki banyak sekali kekurangan. Sekarang tubuhnya lumayan besar walaupun tidak sebesar Iron Brain.


Dia hanya bisa mengobrol dan membersihkan rumah. Pengetahuannya pun terbatas. Walaupun begitu, aku menyimpan dokumen-dokumen penting didalam Algard.

__ADS_1


Dokumen yang tidak diketahui oleh siapapun bahkan nenek dan ayah sekalipun.


to be continue...


__ADS_2