
Sarah Pov :
Jantungku terasa berhenti berdetak selama beberapa detik, aku sangat terkejut dengan ciuman mendadak yang diberikan Kun dan dia bahkan mengecup pipiku juga. Sifatnya sangat aneh hari ini.
"Para lelaki sudah pergi memancing, bagaimana jika kalian berdua membantu nenek merajut."
Mendengar suara nenek dari belakang aku langsung berbalik dan menyadari bahwa Kun mencium ku karena ada Ayana.
"Aku tidak bisa menemani ibu merajut, ada pekerjaan yang harus aku kerjakan." Ayana berpamitan dan masuk kedalam mobil yang baru saja muncul.
Tersisa aku dan nenek dirumah, aku tak punya kegiatan apapun yang mau tak mau membuatku harus menemani nenek merajut. Kami pergi ke sebuah rumah pondok yang di kelilingi pepohonan, suasana yang sejuk bagaikan berada di pedasaan membuatku langsung nyaman.
"Aku tidak pernah tahu bahwa ada tempat seindah ini disini, sebenarnya seluas apa tanah Kun." Gumamku berputar memperhatikan sekeliling. Aku sangat menyukai tempat ini.
"Ini adalah pondok yang dibuat untuk nenek oleh mendiang ibunya Kun. Tempat ini dibuat sangat asri agar nenek bisa tenang menikmati dunia yang buruk diluar sana."
Nenek turun dari kursi roda lalu mulai berjalan dengan tubuh yang membungkuk. Beliau sudah tidak setegak dulu namun sifatnya tidak menyebalkan seperti kebanyakan orang tua. Aku berjalan mendekati beliau untuk memegangi tangannya agar tidak jatuh.
Nenek menoleh padaku. "Akhirnya Kun bertemu dengan wanita yang baik dan pantas sepertimu." Aku bergeming. Kenapa nenek berkata demikian?.
"Sejak dulu, Kun selalu memacari perempuan yang salah. Setiap gadis yang dibawanya kerumah selalu nenek perhatikan, tidak ada satupun wanita yang baik. Sampai akhirnya Kun menikahimu." Nenek menyentuh tanganku dan tersenyum. "Nenek tahu kalian tidak saling mencintai untuk saat ini."
Tiba-tiba saja jantungku langsung kaget, bagaimana bisa nenek mengetahui itu semua?.
"Takdir selalu punya jalan yang tidak terduga." Tambahnya lalu kembali melangkah menuju pondok.
Takdir? apakah aku harus percaya tentang takdir?. Aku rasa semuanya hanya karena kebetulan. Kebetulan ada aku disisi Kun makanya dia langsung menarik tanganku dan membawaku ke altar.
Saling cinta? hah~ aku rasa aku tidak akan pernah jatuh cinta padanya. Maafkan aku nenek, tapi aku benar-benar tidak mau punya perasaan terhadap lelaki sombong dan arogan seperti Kun.
Jam merajut pun dimulai dan aku tak bisa merajut. Nenek mengomeli aku, katanya siapa yang akan membuatkan syal musim dingin untuk Kun nanti. Ya ku jawab, Kun bisa membelinya di toko sontak nenek semakin marah karena aku membalas ucapannya. Astaga seram sekali.
"Kau harus bisa merajut, Kun sudah tak memiliki seorang ibu. Sejak kecil, ibunya selalu membuatkan syal dan sekarang itu adalah tanggung jawabmu."
"Tapi nenek, bukankah Kun punya ibu baru sekarang?." Aku memasukkan benang pada sumpit. Rasanya leherku mau patah karena tidak terbiasa menunduk.
"Ibu barunya tidak pernah membuatkan syal, jangan kan merajut, memasak saja dia tidak bisa." Seru nenek jadi jengkel.
Benarkah Ayana tidak bisa masak? kelihatannya dia adalah perempuan yang sempurna.
"Sejak kedatangan Ayana dirumah ini, hubungan Kun dan Rey semakin buruk. Pertengkaran antara anak dan ayah membuat nenek sakit kepala dan jatuh sakit. Aughhh! mengingatnya saja sudah membuat pusing."
Aku dapat melihat serumit apa kisah Kun, Ayana dan ayah mertua dari raut wajah nenek. Ya~ jika di pikir-pikir lagi, masalah mereka itu memang aneh dan tidak masuk akal.
Aku menyimpan alat-alat merajut lalu meminta nenek untuk membaringkan kakinya. "Tidak perlu dipikirkan nenek~ semuanya sudah berlalu, jangan sampai tubuh nenek semakin drop." Kataku mulai memijat.
Nenek tersenyum lalu mengusap rambutku. "Aura senyumanmu selalu membuat orang tenang. Nenek merasa beban nenek hilang setelah melihatmu tersenyum."
Senyumku semakin lebar setelah mendengar nenek berkata begitu. "Nenek terlalu berlebihan." kataku terus memijat kakinya.
Aku bisa merasakan tulang-tulang nenek, sepertinya beliau sudah banyak kehilangan lemak. Kulitnya putih pucat dan banyak kerutan, mungkin saat aku tua nanti, aku juga akan memiliki tubuh yang sama seperti nenek.
Mata menjadi rabun, rambut yang memutih, pikiran yang kembali seperti kanak-kanak, cerewet dan beraroma obat-obatan.
__ADS_1
...***** ...
Aku melihat jam diponsel, "hah~ apa yang harus aku kerjakan? membosankan sekali." Aku berguling diatas ranjang mencoba memikirkan apa yang harus aku lakukan.
Bosan, bosan, bosan. Nenek sedang istirahat dikamarnya setelah merajut dan berkebun denganku. Aku dilarang pergi ke dapur karena sudah ada chef pribadi yang menyiapkan makan. Pergi ke peternakan pun percuma, Kun sudah melarangku untuk bekerja disana. Katanya, nenek akan marah jika melihatku mencuci kuda. Lantas kenapa dulu dia menyuruhku mengerjakan itu? dasar pria labil.
"Apakah aku harus berenang? atau mungkin berkeliling di sekitar kawasan rumahnya? Ah! kenapa aku tak punya tujuan akan melakukan apa hari ini? kenapa waktu berjalan sangat lambat?." Aku meraih ponsel dan mengecek sosial media. Gara-gara menikah denganku, aku jadi sering sekali mencari informasi tentang robot sehingga sosial mediaku dipenuhi dengan berita teknologi.
Aku juga melihat artikel tentangku dan tiba-tiba saja sebuah pesan masuk membuatku langsung mengeceknya.
"Bagaimana keadaanmu? apakah menjadi istri bos besar membuatmu lupa dengan orang tua?"
Aku berdesis setelah membaca pesan dari ibu.
"Astaga! aku tidak lupa pada ibu. Aku hanya... hanya jarang memegang ponsel." Ketikku beralasan demikian, padahal aku memang lupa pada ibu dan ayah. Ya Tuhan, maafkan aku. Aku berdosa sekali sudah melupakan mereka.
"Datanglah malam ini dengan suamimu! Ayah sudah mengomel, ia merindukanmu."
Aku terdiam, apakah Kun mau ikut? sepertinya dia akan menolak.
"Akan ku usahakan Kun ikut. Ibu pahamkan bagaimana Kun." Ku tekan tombol send dan terkirim.
Setelah pulang dari memancing aku langsung memberitahu Kun tentang undangan dari ibu.
"Okey, kalau begitu aku akan mandi terlebih dahulu." Jawaban Kun membuatku terkejut. Tidak ada penolakan sama sekali. Mungkinkah dia dirasuki setan?.
Kun, dia benar-benar pergi kerumahku untuk pertama kalinya.
"Kenapa? kau tidak mau masuk karena rumahku kecil dan membuatmu sesak?" Tanyaku saat menyadari kalau Kun diam diambang gerbang.
Sontak aku langsung tertawa. "Kau takut pada ayahku?"
"Tentu saja tidak." Elaknya membuatku terkekeh.
"Sudahlah tidak perlu dipikirkan. Ayahku tidak akan menamparmu lagi, kok." Aku meraih tangannya dan membawanya masuk kedalam rumah.
Ibu langsung menyambut kami berdua begitupun dengan ayah. Kun menyapa orang tuaku dengan canggung yang justru menurutku interaksinya sangat lucu. Sepertinya Kun takut pada ayah.
Ibu menarik Kun untuk duduk dimeja makan bersama dengan ayah. Sementara aku, aku pergi ke dapur membantu menyiapkan makanan yang belum selesai.
"Astaga~ ibu senang sekali akhirnya menantu tampan ibu ada dirumah ini." Bisik ibu berseri-seri.
Sesekali aku melirik Kun yang sedang duduk tegak dihadapan ayah.
"Sarah, kenapa kau tidak membawa makanan ringan untuk ayah?" Sontak aku langsung menoleh.
"Ah~ aku lupa ayah. Maaf, lain kali akan ku bawakan." Sesalku. Aku menyimpan panci berisikan sayur dimeja.
Setelah itu kami mulai makan malam. Ibu selalu memiliki kebiasaan yang unik. Ia akan menyuruh tamu untuk memakan satu suap pertama dan bertanya mengenai masakannya.
"Bagaimana? apakah enak?" Tanya ibu pada Kun.
Kun melirik padaku lalu mengangguk. "Seperti masakan ibu." Gumamnya membuatku iba.
__ADS_1
Kelihatannya Kun rindu masakan mendiang sang ibu.
"Kalau begitu makanlah yang banyak." Ibu memberikan semangkuk sayur dan nasi lagi. Kun mengangguk berterimakasih pada ibu.
Untuk pertama kalinya aku melihat Kun yang lain, dia terlihat seperti anak lelaki yang lugu. Tidak ada Kun yang sombong dan arogan. Ia menyantap makanannya dengan lahap.
Setelah makan aku pergi mencuci piring dan membereskan semuanya. Beberapa kali aku bisa mendengar kalau ponsel Kun sering berbunyi, secara dia adalah orang sibuk.
"Apakah tidak terganggu dengan panggilan telfon sebanyak itu?" Singgung ayah.
"Aku terbiasa dengan telfon-telfon penting." Jawab Kun memasukan ponsel ke dalam saku jas.
Ayah mengangguk lalu melirik pada ku sebentar, aku mengernyitkan kening merasa akan ada sesuatu yang tidak beres. "Buatkan ayah kopi." Perintahnya, aku mengangguk menuruti beliau.
Aku tidak tahu apa yang terjadi selama aku membuat kopi yang pasti perkataan Kun membuatku terkejut.
"Biar ku luruskan semuanya. Ku dengar berbohong pada orang tua adalah sesuatu yang buruk, aku tidak pernah mendaftarkan pernikahan kami ke KUA. Itu sebabnya aku tidak pernah meminta izin untuk menikahi Sarah pada om dan tante." Ujar Kun membuat kepalaku langsung pusing. Kenapa dia harus terus terang pada ayah?!.
Aku bisa melihat raut wajah ayah yang merah menahan amarah.
"Maaf kalau semuanya membuat kalian keliru tapi itu lah yang sebenarnya. Aku tak berniat untuk menikah secara sah dengan Sarah. Semuanya akan berakhir dalam waktu dekat ini."
Kalimat terakhir Kun membuatku langsung terkesiap, aku menoleh padanya. Aneh, kenapa aku merasa tidak suka dengan pernyataan itu. Rasanya sangat menyakitkan atau mungkin aku hanya terbawa suasana?.
"Terimakasih untuk undangan makan malam yang sangat sederhana ini. Aku kemari untuk menjelaskan tentang pernikahan dan menghormati tante yang ingin bertemu denganku. Masakan tante sangat enak." Pujinya yang justru tidak membuat raut wajah ibu senang.
"Kalau begitu berpisahlah sekarang." Kata ayah membuat ku tidak bernapas beberapa detik.
Kun menoleh padaku. "Akan saya lakukan." Ujarnya tak berperasaan.
Aku menelan ludah juga menelan rasa kesal, kenapa aku jadi sangat gelisah?.
Kun berpamitan untuk pulang, ayah enggan untuk menerima salamnya sehingga Kun terus membungkuk sampai akhirnya ibu menyuruh Kun untuk berdiri tegak dan mengabai kan ayah.
Beliau juga melarangku untuk ikut pulang bersama Kun. Aku membuntutinya dari belakang, ku raih ujung jasnya dan itu membuat Kun berhenti melangkah.
"Kau sungguh-sungguh mengatakan itu?" Tanyaku menatap punggungnya.
Kun membalikkan badannya.
"Aku tidak pernah berbohong padamu. Terimakasih sudah mau berperan menjadi istriku."
Aku menunduk tidak menjawab ucapannya.
"Akan ku kirim uang untukmu."
"Untuk apa?" Tanyaku langsung.
"Gaji sebagai peternak." Jawabnya melihat jam tangan. "Aku harus segera pulang. Semoga kelak, kita tidak akan pernah bertemu lagi."
Kami saling menatap sebelum akhirnya benar-benar berpisah. Ku pikir Kun akan mendaftarkan pernikahan kami di kemudian hari tapi ternyata hanya sampai sini saja. Seolah panggung teater konyol yang dipaksa untuk sampai di akhir cerita.
Aku tidak paham dengan garis kehidupanku, apakah benar Tuhan memberikan jalan hidup seperti ini?.
__ADS_1
to be continue....