
Acaranya digelar malam hari, ada banyak sekali media yang meliput bahkan lebih banyak dari tahun lalu dan masih ada juga berita yang mengabarkan kegagalan om Hans terdahulu.
Aku berharap hari ini semuanya sesuai dengan ekspektasi. Aku keluar dari mobil dan pada saat itu juga wartawan langsung menyerbu aku dan Kun. Mereka lebih banyak bertanya mengenai perasaan Kun saat ini dan tentunya Kun akan menjawab dengan jawaban yang positif vibes.
"Apakah om Hans rival bagimu?" Gumam ku menaiki tangga.
"Tidak ada yang pantas menjadi rival ku karena aku selalu jauh lebih baik dari para pencipta robot lainnya." Jawab Kun percaya diri. Kali ini aku tidak mendebatnya karena aku pun merasa bahwa Kun memang selalu lebih baik dari para insinyur robot yang lain.
Tiba-tiba saja tangan Kun melingkar di pinggangku.
"Untuk formalitas." Katanya tersenyum manis padaku namun senyuman itu sirna saat aku menginjak kakinya dengan high heels.
"Kau istri yang mudah sekali marah." Bisik nya.
"Aku begini karena kau." Jawabku memandangi aula yang sudah diisi dengan banyak sekali orang.
Tidak ada robot yang berkeliaran berbeda dengan acara konferensi pers nya Kun.
Om Hans adalah versi sederhana nya Kun.
Tangan Kun masih menempel di pinggangku, dia seperti perangko hari ini.
"Kalau kau minum alkohol, aku akan marah." Serunya saat aku hendak mengambil segelas Champaign.
"Memangnya aku peduli dengan kemarahan mu?." Aku tetap mengambil gelas itu.
Dan pada saat itu juga Kun mengambil alih gelasnya lalu meneguk air dengan sekaligus. Dia tidak mengeluarkan ekspresi, benar-benar datar.
"Kau baik-baik saja?" Tanyaku.
"Aku peminum yang hebat berbeda denganmu." Ujarnya membuatku mendengus.
Dari kejauhan Lucas berjalan menuju arah kami dan pada saat itu juga Kun semakin mem-perdekat jaraknya denganku.
"Aku tidak akan melompat untuk memeluk Lucas kok." Kataku meminta Kun untuk sedikit melonggarkan pegangannya.
"Membayangkannya saja aku sudah kesal."
"Kenapa? kau cemburu?." Tanyaku lagi namun Kun tidak menjawab.
Jarak kami dan Lucas semakin dekat, dia menggunakan pakaian yang sangat rapih.
"Terimakasih sudah hadir." Lucas dan Kun saling berjabat tangan tapi chemistry diantara keduanya tidaklah baik.
Setelah berjabat tangan dengan Kun kini Lucas mengarah padaku.
"Terimakasih sudah hadir dan mau menggunakan pakaian dariku." Serunya tersenyum lembut dan seperti biasa aku selalu menjadi wanita yang anggun kalau berhadapan dengan Lucas.
"Aku yang seharusnya berterimakasih karena kau mengundang sekaligus memberikan aku pakaian." Aku sedikit tidak enak.
"Tidak apa, tidak perlu dipikirkan. Kau sangat cantik, bahkan tidak ada yang bisa menandingi kecantikan mu."
Aku terkejut lalu tertawa mendengar ucapan Lucas yang memujiku berlebihan.
Sampai akhirnya Kun mengeluarkan suara membuat aku ingat bahwa dia ada disini. Tangannya yang dingin menggenggam tanganku.
"Kau tahu jika kau membicarakan itu disini dan salah satu wartawan mendengar itu akan menjadi masalah untuk rumah tanggaku. Dan juga ku pikir memberi pakaian kepada istri orang adalah salah satu kesalahan, kali ini kau ku maafkan." Jelas Kun menahan amarah, dia menarik diriku sampai ketempat duduk.
"Kau marah?" Tanyaku pada Kun. Aku menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan Lucas tapi dia sudah tidak ada ditempat tadi.
"Duduklah." Perintahnya dingin.
Mendadak perasaanku jadi aneh saat Kun berkata panjang lebar pada Lucas barusan.
__ADS_1
Acaranya sudah digelar namun aku tidak bisa fokus pada penjelasan MC. Sesekali aku melirik Kun yang sedang memperhatikan robot di atas mimbar. Mau tak mau aku pun memperhatikan ke depan.
Robot yang dirancang khusus untuk pasien anak-anak, menghibur serta bisa menjadi guru bagi para pasien kanker yang tidak bisa pergi ke sekolah.
Aku tidak terlalu banyak tahu mengenai poin-poin robot yang diciptakan om Hans dan Lucas. Sampai akhirnya aku mengikuti yang lain bertepuk tangan sebagai apresiasi.
Semakin malam cuaca semakin dingin, Kun berjalan terlebih dahulu sembari mengobrol dengan seseorang di telfon. Dia meninggalkan aku dibelakang bersama Louis.
"Nona kedinginan?" Tanya Louis.
"Aku baik-baik saja." Jawabku tidak bersemangat.
Saat keluar dari gedung aku bisa melihat kalau wartawan sedang mengerubungi Kun. Louis menyuruhku untuk masuk terlebih dahulu kedalam mobil dan aku menurut.
Sekitar 10 sampai 15 menit Kun mengobrol dengan para wartawan diluar, itu pun karena sekretaris Kim menjemput kalau tidak, mungkin Kun akan terjebak disana lebih lama.
"Antar kami ke apartemen saja, aku malas pulang kerumah." Katanya pada supir.
"Bagaimana dengan nenek? kau kan tidak bilang akan pulang ke apartemen."
"Menurut saja padaku, aku tidak mau berdebat denganmu." Gumamnya melepas dasi dan juga beberapa kancing kemeja.
"Kau marah karena Lucas memberi pakaian ini padaku?" Tanyaku sembari kesal.
Kun menoleh padaku lalu memperhatikan pakaian putih satin yang menempel ditubuhku.
"Ku tarik ucapanku yang mengatakan kau terlihat mewah. Rupanya kau tidak terlihat elegan sama sekali karena memakai pakaian murahan dari pria lain." Jelasnya membuatku membulatkan mata.
"Murahan katamu? Setidaknya Lucas paham apa yang kubutuhkan, tidak seperti dirimu. Kau bahkan tidak pernah membelikan ku pakaian, yang kau berikan untukku hanya caci makian saja. Bahkan aku tahu kenapa kau membeli cincin pernikahan ini, itu semua hanya formalitas kan." Aku melempar cincin itu ke sembarang arah.
Aku menangis di dalam mobil, tidak peduli dengan supir dan sekretaris Kim.
"Kau menikahi ku secara sah pun hanya untuk menjaga nama baik dirimu kan. Kau bahkan tidak pernah mencintai diriku! sampai detik ini setelah kita bersama selama 4 bulan." Isak tangis ku semakin kencang tapi Kun masih bersikap santai. Ia hanya menatapku dengan malas.
"Ya.. aku sudah jatuh cinta padamu, entah sejak kapan." Gumam ku menangis lagi, dadaku sakit sekali aku menunduk memperhatikan kedua tangan ku.
"Hentikan mobilnya." Kataku namun mobilnya tidak kunjung berhenti.
"Hentikan mobilnya sekarang juga!." Pintaku memaksa.
"Turuti keinginan nya." Seru Kun, pada saat itu juga mobilnya berhenti.
Aku keluar dari mobil dan berjalan berbalik arah, mencari halte untuk menenangkan diri. Aku perlu jauh-jauh dari Kun sebelum menjadi gila.
Sarah Pov End.
Kun Pov
"Hah~ lagi-lagi Sarah kabur setelah bertengkar denganku." Aku memperhatikan kepergiannya lewat jendela belakang mobil.
"Tuan tidak akan mengejarnya?" Tanya Sekretaris Kim.
"Biarkan saja, dia perlu waktu untuk sendiri."
"Tapi ini sudah larut malam."
"Louis akan mengikuti Sarah, dia aman selama dalam jangkauan Louis. Kita lanjutkan saja perjalanannya." Pintaku dan sekretaris Kim menurut.
"Maafkan kami sudah mendengar semua pertengkaran tuan dengan nona barusan." Sesal Kim.
"Tidak apa, toh sepertinya kalian akan jadi lebih sering melihat pertengkaran ku dengan Sarah." Aku menyandarkan kepala ke kursi.
Jemariku menyentuh cincin yang melekat dijari manis ku, aku jadi ingat kalau tadi Sarah melempar cincinnya.
__ADS_1
"Kim, bisakah kau cari cincin pernikahan milik Sarah tadi ia melemparnya. Sepertinya ada dibawah kursi atau tidak terselip di rongga-rongga mobil."
"Baik tuan, saya akan mencarinya."
...****...
Aku terbangun dari tidur karena sinar matahari yang masuk lewat kaca jendela. Semalam aku tidur di atas sofa karena tidak punya tenaga lagi untuk menuju kasur.
Ku nyalakan televisi dan mengambil air putih.
"Tubuhku lemas sekali." Gumam ku mengecek kulkas namun tidak ada apapun yang bisa dimakan.
Aku memutuskan untuk membersihkan diri lalu pergi ke restoran terdekat.
Sembari menunggu makanan tiba aku mengecek ponsel dan ada beberapa pesan dari Louis.
"Nona Sarah bertemu dengan seseorang dijalan lalu masuk kedalam mobil hitam tersebut."
"Mobil itu berhenti didepan rumah tuan."
"Nona Sarah dalam keadaan selamat dan sekarang ia sudah masuk kedalam kawasan rumah Qian."
"Dia pulang kerumahku rupanya." Aku menyimpan ponsel diatas meja.
"Terimakasih." Kataku pada pelayan tapi tiba-tiba saja pelayan itu menyentil kupingku. "Aw!." Ringisku melotot.
"Lihat kau sekarang, sudah menikah tapi masih saja makan diluar seperti ini." Kakak mengomel.
"Memangnya kalau sudah menikah tidak boleh makan diluar?"
"Tentu saja boleh tapi harus bersama dengan istrimu, tidak sendirian seperti ini." Katanya namun tidak ku tanggapi.
"Tumben sekali restoranmu sepi."
Kakak tersenyum. "Berjualan itu tidak selalu ramai, bodoh." Kali ini kaka memukul kepalaku menggunakan sumpit.
"Ish tidak bisakah tidak memukulku kalau bertemu?" Akhirnya aku kesal.
"Sepertinya kau sedang ada masalah, kenapa? bertengkar dengan istri ya?"
Seketika itu juga aku langsung merinding. "Kau menyeramkan seperti nenek." Kataku memasukkan daging ke dalam mulut.
"Kehidupan menikah pasti sangat sulit untuk pekerja keras sejati sepertimu."
"Tidak juga, aku hanya belum terbiasa." Jawabku.
"Kau harus membiasakan diri untuk bergantung pada istrimu, jangan lagi merasa bisa mengerjakan apapun sendirian. Jadikan istrimu juga bagian dalam dirimu." Jelas kakak dan aku hanya mengangguk saja.
"Aku hanya lelah karena selalu bertengkar hal kecil dengan Sarah." Akhirnya aku mengeluh pada kakak.
Kakak tersenyum. "Itu wajar karena kau dan Sarah tidak pernah bertemu, kalian bahkan tidak pernah menjalin hubungan sebelum menikah. Salah satu dari kalian harus ada yang mengalah, kalau Sarah tak mau mengalah usahakan dirimu yang mengalah."
"Aku tidak pernah mau kalah dari siapapun. AW!." Aku menjerit karena kaka memukul kepalaku lagi.
"Kau harus membedakan keadaan, Sarah itu istrimu bagaimana pun juga kau tetap harus mengalah. Astaga, aku tidak percaya kalau kau itu bisa menikah padahal isi pikiran mu hanya keegoisan saja. Dengar adikku tersayang, kau harus mengesampingkan rasa egois dan gengsi mu pada Sarah. Jangan bersikap seperti tuan raja pada istri sendiri, tidak baik."
"Iya, iya~ cerewet sekali. Aku kesini untuk makan bukan minta dinasehati."
Kakak menggelengkan kepalanya mendengar jawabanku yang sepertinya menyebalkan.
to be continued..
__ADS_1
(sumber pic : Pinterest)