My Robot Engineer

My Robot Engineer
Episode 8


__ADS_3

Kun Pov :


Ruangan putih dengan nuansa lampu biru membuatku lupa kalau ini adalah rumah sakit. Aku dan Hendery menyelinap masuk kedalam ruangan data otopsi. Ruangannya sangat luas bahkan loker-loker menjulang tinggi menyentuh atap. Sepertinya rumah sakit ini adalah rumah sakit yang populer untuk melakukan otopsi.


"Beberapa loker dikunci dengan akses fingerprint." Ujar Hendery.


Aku tak menggubrisnya dan terus mencari loker tempat data kematian ibu. Setelah ku perhatikan sepertinya loker ini tidak diberi judul dengan nama mayat tetapi menggunakan tanggal kematian.


"Pintar sekali mereka dalam menyimpan data." Gumamku sembari mendongak.


"Tanggal berapa ibumu meninggal?"


"23-10-XXXX."


Hendery mengeluarkan kotak kecil lalu mengaktifkan robot lalat untuk mencari loker ibuku. Dengan jaman yang semakin modern semuanya akan terasa lebih mudah.


"Bagaimana jika ayahmu tahu kau masih mencari tahu pembunuhnya?"


"Hubunganku dengannya sudah tidak baik, lagi pula sudah ku jadikan urusan kematian ibu sebagai urusanku sendiri. Ayah tidak ada sangkut pautnya." Jelasku.


Beberapa menit kemudian, lalat itu memberi sinyal. Aku dan Hendery langsung menghampiri loker di urutan ke 34. Aku mengernyitkan kening setelah tahu bahwa kematian pada tanggal meninggalnya ibu ada sekitar 6 loker. Tiga menggunakan fingerprint dan tiganya lagi menggunakan akses scan mata.


"Sial! kenapa mereka mati ditanggal yang sama." Kataku memijat kening.


"Apakah aku harus membobol semua lokernya?"


Aku langsung menoleh. "Tidak, sepertinya kita harus mencari data lokernya terlebih dahulu. Ah~ mengapa rumah sakit ini ribet sekali." Lagi-lagi aku menggerutu kesal.


Tiba-tiba saja terdengar suara akses pintu terbuka, sontak aku dan Hendery langsung mencari tempat untuk bersembunyi. Samar-samar terdengar suara orang tengah berbincang.


"Kenapa media mengabarkan kematian ibu Lily karena serangan jantung? Padahal penyebab beliau meninggal karena meminum sebuah racun dari teh." Ujar salah satu perawat membuatku terkejut.


"Dunia orang kaya itu menyeramkan dan kau, kau harus menjaga ucapanmu. Jangan sampai kau terkena masalah."


"Ku pikir menjadi orang kaya itu menyenangkan ternyata buruk."


"Sebenarnya kasus kematian ini hampir mirip dengan kasus beberapa tahun yang lalu. Media membohongi seluruh masyarakat dengan memberitakan hasil otopsi bodong. Rumor mangatakan bahwa keluarga orang kaya itu akan saling membunuh untuk harta atau kedudukan dalam politik."


Aku mengatupkan bibir merasa tahu siapa yang dibicarakan oleh para perawat itu. Sepertinya kasus-kasus kematian orang penting dibumbui kebohongan.


Selagi para perawat itu sibuk memasukkan data kedalam loker, aku dan Hendery mengendap-endap pergi keluar ruangan menggunakan kartu kerja perawat yang kami curi. Suara pintu yang berbunyi ketika terbuka membuat kami berdua harus langsung berlari agar tidak ketahuan. Untungnya lorong dimalam hari sepi sehingga kami berdua tidak ketahuan.


Aku mengatur napas dan kembali menjadi Kun yang kalem. "Sudah lama sekali kami tidak berlarian seperti tadi." Kata Hendery terkekeh.


Aku tersenyum kecil sembari membetulkan dasi. "Itu karena kita sudah dewasa sekarang.".


Kami kembali menuju ruangan opnamenya Sarah, karena misi hari ini gagal aku dan Hendery berpisah lalu akan bertemu lagi setelah mendapatkan nomor loker dan akses kunci.


Louis memberiku salam dan memberitahu aku bahwa Sarah pergi keluar tadi. "Dia bertemu dengan Lucas?" Tanyaku dan Louis mengangguk.


Ku buka pintu dan mendapati Sarah sudah tertidur dengan televisi yang menyala. Wajahnya tidak sepucat tadi pagi.

__ADS_1


Haruskah aku menemaninya dan tidur disofa?. Membayangkannya saja sudah membuatku merasa langsung sakit badan. Pada akhirnya aku pulang kerumah.


"Kenapa kau belum tidur?" Tanyaku pada Ayana yang sedang duduk di sofa.


"Aku menunggumu dan ayahmu pulang."


"Kau harus istirahat dan tidak perlu menunggu si tua itu pulang." Kataku melangkah menuju tangga tapi..


Ayana memelukku dari belakang dengan sangat erat. "Akhir-akhir ini aku bermimpi buruk, bisakah kau menemani aku tidur?."


Aku bisa merasakan detak jantungnya. Ku pegang tangan Ayana yang melingkar di perutku, perlahan ku lepas dan menghadap padanya.


"Dengar Ayana, kau sudah menikah dengan ayahku. Jadi, berhenti menggodaku." Aku bisa melihat reaksi terkejut Ayana. Dia tampak sangat tertekan dengan ucapanku.


"Kau tahu bukan apa akibatnya jika kau menggodaku? Aku bisa saja tidak memberi ampun dan memberi hukuman berat untukmu karena sudah berani mengkhianati aku." Ku sentuh pipinya yang lembut. Mendadak napas Ayana menjadi agak sesak.


"Kalau begitu, beri aku hukuman sekarang."


Kali ini aku yang terkejut, tidak pernah terpikir olehku bahwa Ayana akan menawarkan dirinya. Ku telan ludah karena gugup. Jujur saja, setiap pria pasti tidak akan melewatkan kesempatan emas seperti ini. Begitupun aku.


Aku ingin sekali bermalam dengannya seperti dulu, tidur diatas satu ranjang, menatap langit-langit atap yang gelap. Tapi, kedatangan ayah membuat imajinasiku lebur. Begitupun dengan Ayana, dia langsung menjauh dariku dan berlari pada ayah-suaminya.


"Selamat datang suamiku." Katanya mengecup pipi ayah.


Dan itu membuatku mual juga marah. Ayana, dia sudah berubah.


Bahkan hari-hari berikutnya wanita itu semakin menjadi, dihadapanku dengan terang-terangan bermesraan. Aku tahu mereka sudah menikah tapi tidak bisakah Ayana menghargai diriku?. Jika tidak sebagai anak setidaknya sebagai mantan kekasih.


Dan yang membuatku semakin gila adalah disaat tidak ada ayah, Ayana menggodaku. Membawakan minum ke ruang kerjaku, memasakan makanan kesukaanku dan berlagak seperti seorang ibu, Ayana, dia... menyiapkan air hangat untuk aku mandi. Dia mencari setiap kesempatan yang ada untuk mencari perhatianku. Dia akan bersikap seperti seorang ibu didepan nenek tapi di belakang berlagak seperti seorang perempuan lajang yang haus belaian. Untuk pertama kalinya, aku merasa ilfeel pada Ayana. Padahal dahulu, dia adalah satu-satunya perempuan yang berhasil membuatku sangat jatuh cinta dan bahagia.


Tiga hari aku tidak menjenguk Sarah dan sore ini aku mendapat kabar bahwa dia sudah dibolehkan pulang. Aku bersyukur karena ada Louis yang mengurus Sarah, setidaknya aku tidak perlu repot-repot menjemputnya seperti seorang suami betulan.


Ku masukan ponsel kedalam saku jas dan saat pintu rumah terbuka, aku mengernyitkan dahi karena tidak menemukan keberadaan Ayana. Mungkinkah dia sudah pergi?. Ku langkahkan kaki menuju kamar dan pada akhirnya aku terkejut. Ayana, dia sedang berbaring diatas ranjangku dengan pakaian yang minim. Bukan tergoda tapi risih yang aku rasakan.


"Apa yang kau lakukan diranjangku?!." Tanyaku marah.


Sarah tersenyum bersamaan dengan kakinya yang menyentuh lantai. "Tentu saja menunggu anakku pulang." Ujarnya membuatku merinding.


"Apakah pantas seorang ibu memakai pakaian tidak sopan seperti ini dihadapan anaknya?!." Mendadak volume suaraku naik.


Ayana terkejut tapi terus melangkah mendekati aku. Dia menyentuh pundakku dan mengusapnya pelan, wajahnya menengadah kewajahku sampai-sampai aku bisa merasakan napasnya.


"Kau sudah gila Ayana." Aku mendorong tubuhnya membuat Ayana hampir kehilangan keseimbangan.


"Keluar dari kamarku!." Perintahku memberikan jalan untuknya.


"Kenapa kau menjadi kasar seperti ini? bukankah dulu kau sangat suka dengan pakaian ini? kau bahkan akan tersenyum bahagia jika aku menggodamu lalu kenapa sekarang kau berubah?."


Aku melongo dengan ucapan Sarah. "Seharusnya kau paham bahwa keadaan saat ini sudah berubah. Kau perlu sadar sekarang ini kau sudah menikah dengan ayahku, bukannya terus menggodaku dikala ada kesempatan."


"Aku tidak mencintai Rey! yang ku cinta adalah dirimu!." Perkataan Ayana membuatku tertawa.

__ADS_1


"Jika kau tidak mencintai ayahku lalu kenapa kau menikah dengannya?. Jangan buat jawaban yang bertolak belakang dengan kenyataan, Ayana. Kau sudah menikah begitupun dengan diriku. Berhenti menggodaku, aku tidak mau Sarah sampai tahu tentang kita." Untuk pertama kalinya aku menyebut nama Sarah dalam masalahku dengan Ayana.


"Aku tahu kau juga tidak mencintai istrimu. Kita berdua menikah dengan pasangan yang tidak kita cintai, alasannya hanya satu, karena keadaan." Ayana kembali mendekat membuat jarak yang lebih minim.


"Nasib kita berdua sama Kun. Kau masih cinta padaku kan?, aku bisa meminta Rey untuk menceraikan aku. Sehingga kita bisa menikah, aku yakin Rey akan menuruti keinginanku." Ayana menatapku dengan penuh harap, aku memang masih mencintainya tapi entah kenapa aku tidak bisa percaya dengan ucapan Ayana.


"Aku tidak mau." Tolakku mentah-metah.


"Dengar Ayana, aku memang masih cinta padamu tapi aku tidak mau ayahku menjadi gila karena kau mempermainkannya. So, ku mohon berhenti berharap padaku."


...**** ...


Setelah malam pertengkaran itu, aku meminta Sarah untuk kembali tinggal dirumahku. Bukan karena aku jatuh cinta padanya tapi agar Ayana berhenti membuat ulah.


Dan, tentunya Sarah akan mengajakku untuk berdebat. Dia mengoceh sangat cerewet, Sarah mengomel karena katanya aku ini pria labil.


"Dulu kau yang memintaku untuk tinggal di apartemen, lalu sekarang? sekarang kau memintaku untuk kembali kerumahmu? Beritahu aku alasannya, kenapa kau ingin aku kembali kerumah itu? Jangan bilang kau jatuh cinta padaku..."


Sontak aku langsung tertawa hambar. "Bukannya jatuh cinta padamu, aku hanya memberi kemudahan untukmu bekerja. Kau harus ingat bahwa kau itu seorang peternak dirumahku." Setelah mengucapkan itu, Sarah melotot padaku lalu berdesis.


"Tidak mau! aku tidak mau tinggal denganmu!." Sarah menolak permintaanku dan itu membuatku jengkel. Tidak ada seorang pun yang berani menolak keinginan seorang Kun.


"Wah~ berani sekali kau menolak permintaanku. Jika kau milikku, sudah ku pastikan kau tidak akan bisa jalan!."


"Apa maksudmu tidak bisa jalan? memangnya kau mau mencambukku? Astaga! kau pikir aku takut dengan ancaman itu?. Sudah pergi sana, jangan mengganggu masa istirahatku. Kedatanganmu itu hanya membuatku sakit kepala!." Sarah melempar bantal sofa padaku.


Aku membulatkan mata karena benar-benar tidak habis pikir. Berani sekali dia berbuat kasar padaku. Ku tatap ia untuk membuatnya sedikit menciut dan berhasil. Sarah mengedipkan matanya dan sesekali melirik ke arah lain. "Kau berani melempar lagi bantal padaku?" Tanyaku membuka jas dan meletakkannya dimeja.


Aku bisa melihat bahwa Sarah menelan ludahnya dengan susah payah. Dia, gugup.


"Dengar nona Sarah, sejauh ini tidak pernah ada seorang pun yang melempar bantal, melotot dan berteriak padaku. Hanya kau yang berani seperti itu." Aku melangkah mendekatinya, mencondongkan tubuh hingga wajah kami sangat dekat. "A..apa...yang..


"Haruskah aku membuatmu takut?" Sergahku memotong ucapannya.


Sarah menatapku sekilas lalu kembali memalingkan wajahnya. Aku tersenyum kecil menyadari bahwa sepertinya dia sudah sedikit ketakutan.


"Apakah luka jahitnya sudah mengering?"


Sarah menggelengkan kepalanya.


"Hah~ sayang sekali. Padahal, aku ingin berolahraga denganmu." Godaku membuatnya terkejut.


"Okey, mungkin lain waktu setelah kau sembuh total kita akan melakukannya." Aku menjauhkan diri darinya. Sarah mengkerutkan alisnya membuatku gemas.


"Kenapa memasang wajah cemberut? kau ingin melakukannya sekarang?." Tanyaku membuatnya berdesis, dia hendak melempar lagi bantal namun tidak jadi.


"Pergilah~ aku ingin istirahat." Gumamnya lemas.


Ku raih jas dan memakainya. "Kau punya waktu sekitar dua jam untuk pindah kerumahku. Sampai jumpa." Aku melenggang pergi, dan sebelum pintu benar-benar tertutup aku bisa mendengar Sarah berteriak.


"DASAR MENYEBALKAN!."

__ADS_1


Kun Pov End.


to be continue..


__ADS_2