
Sarah Pov :
"SERIUS? KAU SUDAH DI SEOUL?." Tanyaku sedikit berteriak karena tidak percaya.
Aku menoleh pada Kun yang sedang menatapku, aku menyunggingkan gigi padanya lalu kembali fokus pada telfon.
"Kalau begitu kita harus bertemu, aku merindukanmu." Ujarku sangat-sangat gemas. Aku betulan rindu padanya. Setelah menentukan dimana akan bertemu kami memutus panggilan.
"Louis, apakah kau bisa mengantarku ke cafe Villium?." Tanyaku pada Louis.
"Kau mau bertemu seseorang?." Kun bertanya dan aku mengangguk.
"Tentu saja bisa nona." Jawab Louis dengan senang hati.
"Kalau begitu antar Sarah terlebih dahulu."
"Kau yakin? bukankah kau ada meeting hari ini? Kau bisa terlambat."
"Sekretaris Kim bisa mengurusnya, lagi pula mengantarmu tidak akan menghabiskan waktu dua jam." Kun menyandarkan kepalanya ke kursi sembari memejamkan mata.
Baiklah kalau begitu, aku tidak akan mendebatnya toh Kun sendiri yang mau. Jadi jikalau dia terlambat, itu bukan salahku.
Saat sampai didepan cafe aku berterimakasih pada Louis lalu turun dari mobil dan aku terkejut saat Kun juga ikut keluar dari mobil.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku.
Kun merapihkan dasinya. "Aku ingin tahu kau bertemu dengan siapa."
Aku agak melotot. "Kenapa kau jadi seperti ini? Bukankah kau orang yang tidak mau tahu tentang diriku.."
"Sudahlah ayo cepat masuk." Kun mendorong tubuhku pelan.
Dia benar-benar mengikuti aku. Ku cari keberadaan temanku dan ketemu. Kami saling melambaikan tangan.
"Kau sudah lama disini?" Tanyaku tapi tiba-tiba saja temanku itu menarik tanganku dan memelukku. Aku terkejut karena disini ada Kun dengan cepat aku melepas pelukannya.
"Kau bilang kau merindukanku." Ujarnya kecewa.
Aku menggigit bibir melirik Kun yang berekspresi datar.
"Emm...itu... Ah, Mark perkenalkan dia adalah suamiku." Kataku membuat Mark melotot lebar.
"Kenapa kau tidak bilang dari awal kalau dia adalah suamimu, astaga mati aku." Bisik Mark.
"Salah kau langsung memelukku." Jawabku berbisik juga.
Kun mengulurkan tangannya. "Qian Kun." Katanya memperkenalkan diri.
"Mark, maaf mengenai kejadian yang tadi, aku tidak tahu kalau ternyata kau adalah suami Sarah." Sesal Mark.
"It's okay. Kalau begitu selamat bersenang-senang." Kun menatapku. "Hubungi Louis jika kau akan pergi ketempat yang lain." Kun menyentuh pundakku. "Aku pergi terlebih dahulu."
Aku mengangguk. "Hati-hati." Kataku tersenyum dan Kun mengangguk lalu melenggang pergi.
Aku memperhatikan punggungnya yang lebar, dilihat dari belakang saja Kun sangat tampan.
"Woah~ aku tidak percaya kalau ternyata pria tampan itu adalah suamimu tapi kenapa kau tidak memberitahu aku kalau kau sudah menikah? Kau bahkan tidak cerita padaku kalau kau sudah menemukan seorang lelaki tampan. Sepertinya dia kaya raya, auranya seperti berlian. Dan.. aku merasa pernah melihatnya, tapi tidak ingat." Mark mengoceh panjang lebar tentang Kun.
"Jangankan dirimu aku saja tidak percaya kalau ternyata aku menikah dengan lelaki sepertinya." Kataku melihat daftar menu.
"Kau pasti memakai pelet, sebab tidak mungkin lelaki tampan dan kaya sepertinya jatuh cinta padamu. Aw! Sakit!." Mark meringis kesakitan karena ku pukul kepalanya menggunakan kotak tisu.
__ADS_1
"Memangnya wajahku ini tidak bisa mendapatkan pria tampan seperti Kun?."
Mark mengangguk membuatku semakin kesal.
"Wajahku ini terbilang cantik, Lucas saja bisa jatuh cinta padaku."
"Hey~ jika memang Lucas jatuh cinta padamu dia tidak mungkin tetap menjadikanmu sebagai teman." Ujar Mark membuatku tersadar, sial Mark ada benarnya juga.
Kalau begitu wajahku ini tidak cantik ya?, dibandingkan dengan Ayana sudah pasti aku kalah. Secara Ayana sangat cantik, tinggi, dan ramping, apalagi dia adalah wanita karir. Hah~ ternyata aku memang tidak ada apa-apanya.
...*****...
"Terimakasih sudah mau menemaniku seharian. Aku akan langsung pulang, titip salam untuk suamimu." Seru Mark masuk kedalam mobil lalu pergi.
Aku tertawa kecil karena tingkah Mark yang imut. Dia tidak banyak berubah. Ku pegang tali tas sembari berjalan memasuki halaman rumah Kun. Padahal tadi seharusnya aku meminta Mark mengantar sampai depan rumah.
Tiba-tiba saja suara aneh membuatku agak takut, aku celingukan melihat sekeliling. "Suara apa itu?" Gumamku mencari tahu.
"Aku disini."
Suara Kun membuatku kaget. Aku mengedipkan mata beberapa kali, ada sebuah Drone kecil tengah mengapung tepat dihadapanku.
"Kau bicara?" Tanyaku.
"Kenapa kau jalan kaki?" Drone itu bertanya balik.
Aku menghembuskan napas menyadari kalau suara Kun keluar dari alat canggih itu.
"Mark mengantarku sampai gerbang."
Tiba-tiba saja seseorang muncul dari balik pepohonan, pria itu berjalan melewati semak-semak setinggi betis. Dengan sorot lampu yang tidak terlalu cerah aku bisa melihat Kun. Jarinya memainkan remot kontrol Drone.
"Kau sedang apa malam-malam begini?." Tanyaku kembali berjalan.
"Kau menungguku?"
"Tentu saja tidak." Elak Kun mentah-mentah.
Aku tersenyum kecil. Cuaca malam ini lumayan sejuk, sinar rembulan juga sangat cantik ditambah bintang kerlap-kerlip di langit. Suara higheels ku menggema dijalanan. Aku dan Kun tidak mengobrol lagi. Sampai keesokan hari.
Ku rapihkan sendok dan piring diatas meja makan untuk sarapan. Tumben sekali Kun belum turun, biasanya dia sudah stand by duluan dikursi makannya.
Samar-samar suara roda terdengar. Aku, nenek, juga ayah mertua menoleh ke sumber suara. Para pelayan tengah mendorong koper kecil berwarna pink ke luar rumah. Tak lama Kun muncul dari balik tembok. Dia berpakaian rapih, rambutnya mengkilap dan juga memakai kacamata. Aku menghampirinya dengan isi kepala yang bertanya-tanya.
"Kau mau kemana?" Tanyaku masih memegangi sendok.
Kun menoleh padaku sembari memasukkan tangannya kedalam saku celana. Sial, dia tampan sekali.
"Aku harus pergi ke Seattle untuk pekerjaan." Jawabnya membuatku terkejut.
"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau akan pergi?"
"Kenapa aku harus memberitahumu?"
Aku terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Kun. Sebenarnya aku bisa menjawab 'karena aku ini istrimu, aku berhak tahu kau akan kemana' tapi aku tahu apa yang dimaksud oleh Kun. Aku memang tak punya wewenang apapun untuk tahu tentangnya walaupun aku ini sudah sah menjadi istrinya.
Beberapa menit kemudian, seorang wanita muncul. Dia juga berpakaian rapih seperti Kun. Dan rasanya jantungku jatuh ke lantai saat tahu kalau Ayana akan pergi dengan Kun ke luar negeri. Aku menggigit bibir mengetahui fakta bahwa suamiku pergi bersama seorang wanita yang tak lain mantan kekasihnya.
"Kalian sudah siap?" Tanya ayah mertua.
Kun mengangguk begitupun dengan Ayana.
__ADS_1
"Ayah akan menyusul setelah meeting disini selesai." Imbuhnya membuatku kecewa, kenapa tidak sekarang saja ayah mertua pergi dengan Kun dan Ayana sehingga aku tidak perlu khawatir kalau Kun akan berselingkuh.
Benar, sepertinya aku sudah menyukai Kun. Melihat keduanya pergi bersama membuat aku terbakar api cemburu.
"Mobilnya sudah siap tuan." Seru pelayan, Ayana pergi keluar rumah terlebih dahulu ditemani oleh ayah mertua.
Sementara Kun, aku menarik jasnya membuat langkah kaki Kun terhenti.
"Apa?"
Aku menelan ludah dengan susah payah. "Apakah kau harus pergi?"
"Tentu saja, ini mengenai bisnis. Aku tidak bisa meninggalkannya."
"Apakah aku boleh ikut?" Tanyaku menatap Kun.
Kun menatapku juga lalu menghembuskan napas. "Untuk apa kau ikut? kau bukan bagian dari perusahaanku dan kau tidak akan menguntungkan apapun sekalipun kau ikut. Diamlah dirumah bersama nenek, aku tidak punya waktu lagi untuk mengobrol. Aku harus pergi sekarang."
Kun melenggang pergi menyisakan wangi parfume yang membuatku ingin menangis. Tidak bisakah dia menjadikan aku alasan untuk ikut sebagai istri? Kenapa Kun jahat sekali. Dia bahkan memperbolehkan Ayana untuk ikut.
Tanpa ku sadari air mataku jatuh begitu saja, dadaku terasa sesak ketika membayangkan Kun dan Ayana bersenang-senang bersama. Apakah mereka memesan dua kamar? bagaimana jika hanya memesan satu kamar hotel saja? Mungkinkah Kun dan Ayana akan menghabiskan malam bersama?. Bagaimana jika ternyata mereka pergi untuk berlibur bersama dan membohongi aku?.
Kau wanita menyedihkan Sarah, kau tidak lebih dari seonggok upil.
...*****...
Dua hari berlalu tanpa kabar dari Kun, dia bahkan tidak mengirimi aku pesan. "Dasar suami sialan!." Umpatku melempar ponsel ke ranjang.
Ku pandangi pantulan diriku dicermin, aku bisa melihat ada sedikit lingkaran hitam dimataku. "Karena kau wajahku menjadi seperti zombie!." Pekikku menyalahkan Kun yang tidak ada disini.
Tiba-tiba saja pikiranku mulai melayang kembali. Membayangkan kebersamaan Kun dan Ayana di Seattle. Sedang apa mereka pagi ini? apakah mungkin sarapan dan saling menyuapi?. (Padahal diluar negeri sudah larut malam).
"Argh! Aku bisa gila." Kataku mulai stress.
Ku ikat rambut tinggi-tinggi, ku oleskan sunscreen ke wajah agar saat lari nanti tidak terbakar matahari. Seharusnya aku bilang pada Louis kalau aku akan pergi ke luar tapi lelaki itu tidak ada. Masa bodoh lagi pula aku tidak akan menggunakan mobil.
Saat gerbang terbuka aku langsung berlari menyusuri trotoar. Jika sedang banyak pikiran, aku akan berlari santai. Setidaknya itu bisa membuatku menjadi lebih baik, walaupun sedikit. Ku nikmati angin yang menerpa wajahku, segar sekali.
Sarah Pov End.
Kun Pov.
Washington, Seattle 06:39 p.m
Ku baca lagi dokumen-dokumen penting agar nanti tidak ada kesalahan saat proses deal terjadi. Aku tidak mau ada penyesalan dikemudian hari.
"Aku membuatkan sandwich untukmu." Aku melirik Ayana sekilas.
"Terimakasih." Kataku meraih sandwich itu lalu memakannya. Aku tidak sempat makan dari tadi siang.
"Kau benar-benar akan bekerja sama dengan perusahaan robot perang?" Tanya Ayana.
Aku menutup dokumen. "Perusahaanku perlu terus berkembang agar banyak peminatnya. Aku punya rencana untuk menciptakan robot bodyguard dizaman yang semakin ekstrim ini."
"Kau tidak takut orang-orang menyalah gunakan robotmu itu?."
"Aku bisa membuat sistem yang tidak akan pernah menjadi salah guna. Robot generasi ketiga ini mungkin akan membutuhkan proses yang sangat lama, maka dari itu aku butuh dukungan dari beberapa perusahaan." Jelasku.
Pintu mobil terbuka, aku dan Ayana keluar dari mobil lalu berjalan masuk kedalam hotel, kami mengadakan meeting direstoran hotel. Membicarakan bisnis sembari makan malam. Tiba-tiba saja ponselku berdering. Panggilan dari Korea, Louis menelfonku terpaksa aku harus mengangkatnya.
"Kenapa kau menelfon?" Tanyaku melihat jam tangan.
__ADS_1
"Saya mendapat kabar kalau nona Sarah kecelakaan."
to be continue...