My Robot Engineer

My Robot Engineer
Episode 14


__ADS_3

Flashback.


Dua hari sebelum bertemu di Bar.


Kun Pov :


Ku raih ponsel dan berjalan keluar apartemen. Setelah terjadinya mengakuan pernikahan yang tidak terdaftar, aku tidak pulang kerumah melainkan menginap di apartemen karena takut ditanyai oleh nenek kemana perginya Sarah.


Jujur saja aku lebih takut oleh nenek dibandingkan ayah, menurutku nenek itu mudah menebak raut wajah, beliau bisa tahu saat seseorang sedang berbohong. Bahkan nenek bisa menilai seseorang hanya dari caranya berbicara dan makan. Mungkin itu sebabnya aku takut pada beliau dan seingatku ayah juga begitu tunduk pada nenek. Kecuali kakak, sejak kecil kakak sudah bilang pada nenek bahwa dia tidak ingin hidup serba difasilitasi. Maka dari itu saat usianya mulai remaja, kakak bekerja di Supermarket untuk membiayai hidupnya dan juga menyewa apartemen yang kala itu milik ayah-sekarang sudah jadi milikku.


Nenek tidak pernah melarang apapun pada kakak, hidupnya benar-benar dilepas. Sementara aku, aku ini sudah di takdirkan sebagai penerus Qian yang paling berjaya. Bagaimana tidak, aku bisa menciptakan sebuah robot rumah tangga dan robot medis yang sangat diperlukan didunia ini.


Tidak ada yang bisa menandingi diriku maka dari itu musuhku sangatlah banyak. Resiko menjadi jenius itu memiliki banyak rekan seperti serigala berbulu domba. Mereka menyanjung namun juga bisa menjatuhkan dikemudian hari. Jangankan rekan bisnis, kekasih yang ku percayai saja mengkhianati aku. Itu sebabnya aku tidak bisa percaya pada siapapun lagi.


Aku berjalan menaiki anak tangga yang berjumlah tujuh biji kemudian pintu pun terbuka secara otomatis. Keadaan rumah tampak sepi hanya beberapa pelayan yang terlihat sedang mondar-mandir.


"Kau sudah pulang? sendirian?"


Aku langsung menoleh ke sumber suara lalu membungkuk memberi salam.


"Em~ Sarah ingin menginap dirumah orang tuanya untuk beberapa minggu ke depan." Jawabku mencoba untuk santai dan natural agar nenek tidak tahu bahwa aku sedang berbohong.


Nenek tersenyum, beliau menekan salah satu tombol lalu kursi rodanya pun bergerak mendekati aku.


"Antar nenek ke pondok." Ujarnya.


Aku mengangguk dan mulai mendorong kursi roda. Sudah lama sekali aku tidak pergi ke pondok, terakhir kali mungkin sejak kematian ibu.


Langkahku terhenti saat melihat sebuah pohon yang kini sudah menjulang tinggi, pohonnya sangat rimbun juga sehat.


"Ibumu tumbuh dengan baik." Seru nenek menyentuh tanganku.


Aku menarik napas juga mengangguk setuju.


"Nenek ingat saat kau dan ibumu menanam pohon ini. Pohon pertama yang kau tanam."


"Dan mungkin menjadi yang terakhir." Kataku pahit.


"Kau harus menanam pohon bersama dengan Sarah. Berbagi kebahagiaan dan saling meneduhkan agar kelak hubungan kalian selalu sejuk."


Aku berkedip sembari menoleh pada nenek.


"Sarah adalah wanita yang baik, dia juga ceria dan menebarkan senyuman yang indah. Nenek menyukainya~ walaupun terkadang sifatnya agak membuat kesal tapi dia yang terbaik diantara yang baik. Katakan padanya bahwa dia harus kembali kerumah ini, kelas merajutnya belum selesai."


Flascback End.


"Apa alasanmu mau mendaftarkan pernikahan kita?." Sarah bertanya.


"Nenek bilang kelas merajutmu belum selesai." Aku menjauhkan diri darinya. "Habiskan makanannya, aku harus pergi keruangan bekerja." Ku letakkan kembali nampan diatas kasur lalu beranjak ke aula atau yang sering ku sebut ruang bekerja.


Ku pakai sarung tangan juga kacamata pelindung, aku juga menghubungi Johnny.


"Hai~ selamat siang tuan muda."  Sapanya dengan nada meledek.


"Kau dapat kabar dari Hendery?" Tanyaku mulai mengotak-atik Drone.


"Dia sedang pergi berlibur ke Hawai. Kau tahu.. Hendery mengirimi aku beberapa foto saat dia sedang bersama dengan para wanita. Astaga, kapan kau memberiku libur? Aku juga ingin bersenang-senang dengan para gadis muda."  Johnny merengek.


"Kau bisa berlibur jika Bank mulai stabil." Kataku meraih obeng yang berukuran besar.


"Ya ya ya, terakhir kali saat aku meminta cuti jawabanmu selalu sama. Sepertinya aku adalah pegawai yang tidak kau sukai." Nadanya berubah menjadi sedih.

__ADS_1


"Hentikan! aktingmu itu membuatku merinding."


Johnny tertawa dengan renyah. "Kau mengerjakan Drone lagi? Bukankah perusahaan lain sudah menciptakan Drone yang lebih sempurna dari mu?."


"Aku mencoba merubah kegunaan Drone."


"Menjadi apa?"


"Menciptakan Drone sebagai senjata."


"Hey! itu tak boleh dilakukan sendirian. Kau harus mengerjakannya dengan perusahaan senjata jika tidak kau bisa di penjara." 


Aku berkedip beberapa kali lalu menarik napas. "Aku hanya membuat bentuk demonya saja." Kataku menenangkannya.


"Kau tidak sedang merencanakan sesuatu kan?"  Tiba-tiba saja Johnny khawatir.


"Tentu saja tidak." Jawabku.


"Kalau begitu seharusnya kau tidak mengerjakan benda gagal tersebut. Pergilah bulan madu dengan istrimu itu, kau harus mulai melonggar sebagai pria karir sejati." 


Aku memutar bola mata malas. "Kenapa kau menceramahi atasanmu sendiri?." Aku melihat ke arah monitor raksasa.


"Kau memang atasanku dikantor tapi tidak saat diluar, kau adalah temanku. Aku tahu kau masih belum bisa melupakan penari tiang itu, coba lah untuk menyamankan diri pada Sarah. Itu bisa membuatmu lupa pada Ayana."


Aku mengangguk-angguk saja mengiyakan semua ucapan Johnny. Jika sudah serius dia pasti akan mengucapkan banyak sekali kata-kata bijak.


"Apakah pekerjaanmu sudah selesai sehingga punya waktu untuk mengurus kehidupanku?." Ujarku sedikit kesal.


"Dasar bos tukang marah."


Aku menghela napas lalu mengirimkan sebuah foto singa yang ku gambar sendiri. Sketsa sederhana.


"Bisakah kau menemukan seseorang yang menggunakan tato singa seperti ini?"


"Di Korea ini banyak yang menggunakan tato seperti itu dan kau menyuruhku untuk menemukan lelaki itu? Apakah kau sudah gila?."


"Aku akan memecatmu jika kau mengeluarkan kata-kata makian untukku."


"Astaga! tidak-tidak aku hanya bercanda."  Johnny menyunggingkan giginya.


"Seseorang yang memiliki tato itu tidak bisa mengikuti wajib militer kecuali dengan syarat. Populasi tato singa tidak sebanyak tato kupu-kupu. Dan juga ku pikir tato singa itu dibuat secara custome, ada mahkota dikepala singa dan juga huruf C kecil yang terletak di dekat mata si singa. Kau bisa mencarinya lewat petunjuk tersebut." Jelasku melingkari setiap petunjuk yang ku dapat.


"Kau pikir itu mudah?  Mahkota dan juga huruf C? kenapa sesuatu yang sederhana harus dijadikan sebagai petunjuk? bisa saja itu adalah bagian dari tato."


"Tidak-tidak, sesuatu yang kecil dan tidak terlihat berarti biasanya berpengaruh besar. Aku mengandalkanmu untuk yang satu ini." Kataku mematikan panggilan dan aku yakin Johnny pasti sedang menggerutu kesal karena sambungan telfonnya ku putus secara mendadak.


Tiba-tiba saja pintu terbuka, Algard tengah berdiri diambang pintu.


"Kenapa kau diam disitu?" Tanyaku membuka sarung tangan.


"Nona...Sarah...Ingin...Bertemu...Tuan..." Ujar Algard lambat-lambat. Sepertinya aku harus memperbaharui robot itu.


Aku bisa melihat Sarah tengah mengintip dibalik tubuh Algard. "Ada apa?" Aku mematikan monitor.


"Woah~ ini ruang kerja atau pabrik robot?" Sarah mendongak dan berputar kagum dengan aula tempat aku bekerja.


"Kau menggangguku." Kataku membuat Sarah berdesis. "Ada apa?" Tanyaku untuk yang kedua kali.


"Ayah ingin bertemu denganmu." Ujarnya membuat keningku berkerut.


"Untuk?"

__ADS_1


Sarah mengangkat bahu. "Tidak tahu."


"Kau bilang pada ayahmu kalau aku akan mendaftarkan pernikahan ke KUA?"


Sarah mengangguk. "Aku tidak berencana untuk memberitahu ayah, awalnya ayah menelfonku karena aku tidak pulang semalam. Dan aku bilang bahwa aku berada dirumahmu, setelah itu ayah marah lalu aku memberitahunya bahwa kau akan mendaftarkan pernikahan kita. Begitu. Maaf."


Aku memejamkan mata beberapa detik, astaga kenapa dia harus memberitahu orang tuanya.


"Ayahmu akan kemari atau aku yang harus kerumahnya?"


"Tentu saja kau yang harus kerumah ayah." Sarah langsung sewot.


Jika harus jujur, aku malas karena pasti akan berdebat lagi dengan ayahnya Sarah. Mau tidak mau, untuk kelangsungan kebahagiaan nenek aku pergi kerumah Sarah. Meminta maaf atas kesalahanku beberapa hari yang lalu, setelah itu meminta restu juga izin untuk benar-benar menjadikan Sarah seorang istri. Walaupun aku tak butuh istri.


"Sarah, apakah kau yakin akan hidup bahagia dengannya?" Tanya ayah Sarah pada Sarah.


Aku terdiam selagi menunggu jawaban Sarah.


"Ayah tidak perlu khawatir, Kun bukan lelaki yang buruk kok."


"Kau yakin?"


Sarah mengangguk dengan mantap. "Yakin." Katanya menatapku sambil tersenyum.


Rasanya ada bola pecah yang membuat jantungku berdetak kencang. Senyumannya tampak sangat tulus. Kenapa dia mengatakan bahwa aku bukan lelaki yang buruk?.


"Kalau begitu ayah ingin nama belakangmu tetap tidak berubah. Apakah nak Kun tidak keberatan?"


Aku mengangguk. "Jika itu yang diinginkan Om, saya akan menurutinya." Jawabku.


Sarah tampak terkejut dengan jawabanku.


"Kau ingin memakai marga keluargaku?" Tanyaku pada Sarah.


"Tidak, aku hanya.. lupakan." Katanya memalingkan wajah.


"Kalau begitu besok aku dan Sarah akan mendaftarkan pernikahan kita ke KUA."


Setelah berdiskusi aku dan Sarah berpamitan untuk pulang. Disepanjang perjalanan Sarah diam tidak seperti biasanya. Ia terus memandangi jalanan dan saat sampai dirumah, Sarah langsung masuk kedalam kamar, padahal biasanya ia akan pergi ke dapur untuk minta susu pada pelayan.


Kami melewati malam dengan tidur terpisah seperti biasa tapi kali ini Sarah berbaring disofa.


"Kau baik-baik saja?" Tanyaku namun tidak ada jawaban, mungkin Sarah sudah tidur.


Esoknya sebelum berangkat meeting aku dan Sarah pergi ke KUA. Dia masih tidak banyak bicara, diam dan mengangguk. Kami mengisi formulir dengan sangat teliti.


"Aku sudah selesai." Katanya.


"Ada kesalahan, bisa meminta formulir baru?" Tanyaku dan karyawan lelaki itu mengangguk sembari menyodorkan formulir baru.


"Kau harus mengisi kolom ini dengan Qian Sarah Arne." Seruku membuat Sarah terdiam.


"Bukankah ayah bilang...


"Kau istriku dan tentunya kau harus memakai marga keluargaku, lagi pula nama belakangmu tidak berubah." Sergahku, aku bisa melihat Sarah tersenyum kecil. Raut wajahnya kembali cerah tidak muram seperti kemarin.


Dasar perempuan, jika ada suatu yang mengganjal pasti tidak mau berbicara.


Kun Pov End.


To Be continue...

__ADS_1



(Sumber Picture : Pinterest - Kun WayV)


__ADS_2