
"Nona~ biar kubantu." Louis mengambil alih koper yang tadi ku dorong.
"Kita tidak pergi ke pengecekan?" Tanyaku pada Kun.
Pria itu tidak menjawab, ia pergi menaiki tangga pesawat.
"Mari nona." Sekretaris Kim mempersilahkan.
"Kenapa kita tidak pergi kesana?" Aku bertanya pada sekretaris Kim.
"Semuanya sudah diurus. Presdir Kun menggunakan penerbangan secara pribadi." Jelasnya membuatku terkejut.
Astaga, seharusnya aku tidak perlu terkejut.
Aku masuk ke dalam pesawat. Nuansa putih gading dan cokelat menghiasi seisi pesawat. Ada satu pramugari dan satu pramugara, keduanya menyapaku dengan sangat ramah.
Kun sudah duduk disalah satu kursi, dia tengah membaca berkas dengan serius. Aku duduk disebelahnya dan sepertinya Kun tidak suka. Awalnya dia melotot tapi tiba-tiba saja menghembuskan napas lalu memberikan berkas pada asistennya.
"Jangan bangunkan aku sampai tiba di Seattle nanti." Perintahnya.
Aku menyandarkan tubuh ke kursi sembari sesekali melihat ke arah jendela. Ini adalah pertama kalinya aku pergi keluar negeri menggunakan jet pribadi. Aku memperhatikan setiap sudut pesawat yang tampak mewah. Berapa banyak uang yang dikeluarkan oleh Kun?.
Sebelum penerbangan aku ditawari minuman dan beberapa camilan. Aku menolak tawarannya karena takut mabuk perjalanan. Tidak butuh waktu lama pesawatnya akan segera take off.
Tiba-tiba saja pesawatnya bergetar membuatku dengan refleks mencengkeram tangan Kun. Dia langsung terbangun dengan wajah yang kesal.
"Penerbangan tidak akan membunuhmu." Katanya ketus.
"Aku hanya kaget. Maaf." Jawabku melepas genggaman.
"Jangan bilang ini pertama kalinya kau naik pesawat."
Aku mencibir. "Aku tidak sekampungan itu! Aku pernah pergi keluar negeri dan tentunya menggunakan pesawat." Aku bersungut-sungut.
"Pergi kemana?" Kun bertanya.
"Belanda." Ujarku dengan bangga.
Kun memutar matanya. "Tak percaya." Ucapnya membuatku kesal.
Aku malas berdebat dengannya karena tidak akan ada habisnya, sehingga ku putuskan untuk menonton video yang tersedia. Sampai akhirnya aku tidak sadar bahwa aku ketiduran.
Seseorang membangunkan aku, dia adalah Louis.
"Kami sudah sampai."
Aku mengerjap-ngerjapkan mata, melihat ke arah jendela yang gelap. Sepertinya di Seattle malam hari.
"Jam berapa ini dan dimana Kun?" Aku menyingkap selimut, seingatku aku tidak menggunakan selimut tadi.
"Sekarang jam sebelas malam, tuan Kun sudah turun dari pesawat."
Aku mengangguk lalu berjalan keluar dari pesawat. Hembusan angin menerpa tubuhku. Dingin sekali.
Dengan hati-hati aku turun tangga tapi kemudian Louis membantuku. "Terima Kasih." Kataku masuk kedalam mobil.
Kami pergi menuju hotel dan tiba-tiba saja saat aku melewati pintu kaca berukuran raksasa, ada bunyi alarm yang membuat kami semua terkejut.
Petugas yang berjaga langsung berlari ke arahku, mereka menodongkan tongkat bersinar merah.
"Anda terdeteksi membawa senjata." Ujarnya dengan bahasa inggris.
Aku melotot dan Kun terkejut, keningnya mengkerut tidak mengerti.
"Kami harus memeriksa anda." Salah satu petugas menarik tanganku.
"Periksa disini!." Kun menjauhkan diriku dari si petugas. Dia menggenggam tanganku dengan kuat.
Aku panik dan ketakutan, kenapa diriku terdeteksi membawa senjata?. Oh ayolah, aku tidak membawa apapun di dalam setiap saku pakaianku bahkan ponselku dipegang oleh Louis.
Dengan ketegasan Kun para petugas langsung segan, mereka menurut dan memeriksa diriku disini. Pakaianku di scan, setiap saku dicek. Bahkan rambutku tidak luput dari kecurigaan. Aku terpaksa telanjang kaki karena mereka harus mengeceknya sampai ke higheels. Dan.. see tidak ada apapun.
Para petugas dan karyawan langsung terdiam.
"Sorry for causing inconvenience, maybe this detector is broken. Once again we apologize."
__ADS_1
"You should be sorry to my wife." Pinta Kun pada si petugas yang sudah menarik tanganku tadi.
Belum sempat pria itu meminta maaf padaku, aku sudah memaafkannya. Aku tidak marah sama sekali, toh beliau bersikap begitu untuk menyelamatkan setiap tamu dan pekerja yang ada disini kalau-kalau benar ada kejahatan.
Benar yang dikatakan oleh karyawan perempuan itu, sepertinya alat pendeteksinya rusak.
Malam pertama di Seattle ternyata tidak berjalan dengan mulus. Setelah menyelesaikan masalah, kami pergi ke kamar masing-masing.
Jam makan malam sudah lewat tapi aku sangat lapar dan juga di pesawat tadi aku tidak sempat menikmati menu makanan yang ada disana. Itu karena aku sibuk tidur.
Ku alihkan pandangan pada Kun yang sedang menatap layar laptop. Sangat serius.
"Kau tidak akan istirahat?." Tanyaku.
"Masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan." Katanya meneguk air putih.
Aku terdiam tidak menjawabnya.
Em.. apakah akan terjadi sesuatu diranjang ini antara aku dan Kun?. Mungkinkah kami akan melakukan.... Dengan cepat aku menggeleng-gelengkan kepala. Astaga kenapa isi pikiranku sangat mesum.
"Kau istirahat saja duluan, aku akan menyusul nanti." Lanjut Kun.
Tapi aku tidak mendengarkan ucapannya, aku turun dari ranjang lalu menghampirinya. "Apakah ada yang bisa ku bantu?" Aku duduk disebelahnya lalu melihat layar laptop yang terang juga berisi banyak sekali gambar. Ya Tuhan, baru beberapa detik melihat sudah pusing.
"Gambar apa ini?" Tanyaku penasaran.
"Drone." Singkat Kun mendorong kepalaku agar menjauh dari laptopnya menggunakan jari telunjuk.
"Bentuknya aneh." Aku mengomentari.
"Itu karena fungsinya berbeda." Kun menjelaskan.
"Perusahaanku pernah mencoba membuat Drone, namun gagal. Dan sekarang, aku sedang mencobanya lagi. Aku merubah fungsi Drone dari yang awalnya sebagai pengambil gambar dan video menjadi senjata. Keren bukan?"
"Apanya yang keren?" Pertanyaanku mengandung cibiran. "Projekmu yang sekarang melenceng dari ciptaanmu yang sebelumnya. Iron Brain pertama adalah robot rumah tangga lalu Iron Brain kedua adalah alat medis sementara Iron Brain ketiga kau menciptakan Drone senjata? Setiap generasi kau ciptakan robot untuk kemuliaan jika ciptaanmu yang selanjutnya tentang perang. Aku rasa kau akan di perangi duluan oleh massa."
Kun menatapku dengan santai, perlahan ia tersenyum. "Kau mengkhawatirkan aku?" Ucapnya membuatku mendecak.
"Tentu saja aku mengkhawatirkanmu. Kau itu orang terpandang, setiap langkahmu ketahuan oleh banyak orang. Maka dari itu seharusnya kau hati-hati dalam bertindak." Aku menguap.
"Aku belum mengantuk."
"Kau sudah menguap sebanyak empat kali."
"Benarkah?" Aku tidak percaya.
...****...
Aku dilarang pergi kemana pun oleh Kun, seharian hanya berbaring diatas ranjang dan menonton televisi. Sekarang sudah jam tiga sore dan Kun belum kembali ke hotel. Mark membalas pesanku, dia memberi saran agar aku segera mandi dan memakai pakaian seksi. "Dasar Mark." Gerutuku melempar ponsel ke sisi ranjang.
Tapi.. aku mengikuti apa yang di katakan olehnya. Aku pergi mandi, menggosok gigi hingga gusi terasa sakit, mencukur bulu kaki dan tangan, memakai lotion, menyemprotkan parfume ke seluruh tubuh. Hingga akhirnya~ aku tersadar.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanyaku pada diri sendiri. "Ini bukanlah bulan madu melainkan perjalanan bisnisnya Kun. Aku disini hanya kebetulan menemaninya saja." Aku bergumam dan suara pintu mengalihkan fokusku.
Kun muncul dengan raut wajah yang frustasi, rambutnya agak berantakan, tangannya menyentuh dasi dan melonggarkannya. Ia lempar jas ke atas sofa lalu mendaratkan bokongnya disana.
"Aku ingin minum." Katanya membuatku agak tersentak kaget.
"Apakah meetingnya tidak berjalan dengan lancar?" Aku bertanya sembari memberikan sebotol air putih. Kun tidak menjawab, ia hanya memperhatikan aku dari atas hingga bawah. "Apa?" Tanyaku penasaran dengan tatapannya.
"Kau sangat wangi." Ujarnya. "Mau pergi ke suatu tempat?",
Aku menggeleng. "Aku tidak tahu Seattle." Kataku cemberut.
Kun meletakkan botol dimeja dan merentangkan tangannya di sofa. "Mau jalan-jalan?" Pertanyaan sekaligus ajakan itu membuatku agak bungah.
"Kemana?"
"Entahlah~ kita putuskan nanti setelah dijalan. Aku akan bersih-bersih terlebih dahulu. Mau mandi bersama?"
Sontak aku langsung melotot sementara Kun tertawa senang. Dia jahil sekali.
"Dasar menyebalkan." Gerutuku.
"Aku serius, kebetulan kau masih memakai kimono kan. Lagi pula tidak ada salahnya kita mandi bersama." Kun menaik turunkan alisnya. Dia terus menggodaku.
__ADS_1
"Tidak mau! sudah cepat mandi!." Aku bangkit dari duduk lalu mendorong tubuh Kun sampai masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah pria itu berada di dalam, aku menghembuskan napas pelan-pelan. Oh ayolah jantung~ jangan sampai kau copot.
Negara orang memang selalu enak untuk di pandang. Aku menoleh memandangi Kun yang sedang menyetir. Tadinya dia mau membeli mobil tapi aku mencegahnya sehingga pada akhirnya kami menyewa saja.
Ini pertama kalinya aku melihat Kun berpakaian sangat santai, ia hanya menggunakan celana bahan, kaos dan jaket denime. Astaga sepertinya mau memakai karung sekalipun, dia tetap akan tampan dan sempurna.
"Aku menyarankan dirimu membeli oleh-oleh untuk ayah dan ibu mertua."
Aku menimbang-nimbang. "Apa yang harus aku beli?" Tanyaku padanya.
"Kenapa bertanya padaku? Kau kan anaknya, kau pasti tahu apa kesukaan ayah dan ibumu."
"Kalau begitu kau akan membelikan apa untuk keluargamu?" Aku bertanya lagi pada Kun.
"Aku tidak harus repot-repot membelikan mereka oleh-oleh, toh mereka sering pergi ke luar negeri berbeda dengan keluargamu." Kun meledek membuatku berdesis.
"Ya ya ya~ kau benar keluargaku tidak pernah pergi keluar negeri." Aku menjawabnya dengan kesal.
"Loh, katamu kau sudah pergi ke Belanda."
"Ish! tidak bisa ya satu jam saja tidak mengajakku bertengkar?" Aku membuka sabuk pengaman.
"Siapa juga yang mengajakmu bertengkar, kaunya saja yang mudah terbawa emosi." Kata Kun dengan wajah meledek, lagi.
Aku memutar bola mata malas, tidak mau membalas ucapannya.
"Kau memutar bola matamu?"
"Apa? memangnya kenapa kalau aku memutar bola mata? ish! dasar menjengkelkan." Aku mengumpat di akhir kata.
Kami tidak berbincang lagi sampai pada tujuan yang tidak aku ketahui. Kun membawaku ke sebuah tempat yang sangat mirip dengan nuansa taman Jepang. Sekarang sudah jam 8 malam tapi tamannya tetap terlihat cantik.
"Ini Seattle atau Jepang?" Gumamku terperangah.
"Nama tempat ini Kubota Garden, tempat dimana replika taman Jepang. Sangat mirip bukan?"
Aku mengangguk setuju. Kami berjalan mengelilingi setiap taman yang ada. Suara air dan hembusan angin membuatku sangat nyaman apalagi Kun tidak banyak bicara sekarang ini.
"Aku selalu penasaran bagaimana bisa kau dekat dengan Lucas."
Aku menoleh memperhatikan Kun. "Sepenasaran itu?" Tanyaku dan ia mengangguk. "Kami sudah saling kenal sejak kecil. Maka dari itu kami sangat dekat."
"Sampai saling jatuh cinta?" Pernyataan Kun membuatku sedikit terkejut.
"Well, aku akan jujur saja. Ku pikir aku dan Lucas memang saling mencintai, hanya saja kami terlalu gengsi untuk saling menyatakan perasaan." Aku menunduk sembari tersenyum kecut. Menyedihkan.
"Lalu bagaimana perasaanmu padanya sekarang?"
Aku diam sebentar. "Tidak sebanyak dulu. Kau sendiri, bagaimana perasaanmu pada Ayana?"
"Aku mencintainya." Jawaban Kun membuat jantungku seperti akan jatuh. "Dulu, sekarang sudah tidak." Imbuhnya sembari tersenyum.
Sialan dia mengerjai diriku. Aku menghembuskan napas perlahan, merasa tenang karena Kun sudah tidak punya perasaan pada Ayana.
Kami masih menelusuri taman, mataku jatuh pada sebuah bunga berwarna merah muda. "Cantik sekali, apakah aku boleh memetiknya?" Tanyaku pada Kun.
"Kau menyukainya? Kalau begitu petik saja."
Aku hendak memetiknya tapi tidak jadi.
"Kenapa?"
"Mungkin lebih baik bunganya tetap disini, jika ku petik, diperjalanan saja dia akan layu. Cantiknya akan sesaat jika aku egois memetiknya." Jelasku mengelus bunga tersebut.
...****...
Kami kembali ke hotel jam 11 malam, Kun benar-benar membelanjakan aku segala benda. Dia bahkan sempat bergurau, katanya apa yang ku pegang maka dia akan membelikannya untukku. Astaga~ sepertinya ini yang dirasakan oleh para anak SMA yang memacari Sugar Daddy.
Setelah menyimpan tas belanjaan dilantai aku langsung menjatuhkan diri ke atas ranjang. Ya Tuhan~ nikmat sekali, seperti berbaring di atas marsmellow.
Kasurnya bergoyang karena Kun ikut naik ke atas, dia menarik tanganku secara paksa.
"Apa yang kau~.....!"
__ADS_1
to be continued...