
Aku mengecek ponsel ketika notifikasi masuk. Johnny baru saja mengirimi aku pesan SNS.
'Ternyata istrimu aktif dalam media sosial. Unggahannya muncul di berandaku.'
Jempolku mengklik link lalu muncul foto Sarah.
• Arne_Qwen
12.762 Suka
Arne_Qwen Coffee Skripsi
23 Komentar
"Banyak sekali yang menyukai fotonya. Apa dia seorang artis media sosial?"
• Arne_Qwen
11.287 Suka
Arne_Qwen Potong rambut?
56 Komentar
"Kurasa rambut panjang sangat cocok untuknya."
• Arne_Qwen
15.927 Suka
Arne_Qwen Males..
31 Komentar
Aku terdiam memandangi unggahan foto Sarah. Apakah ia memang secantik ini?. Pantas saja orang-orang memberikan like untuknya.
Aku tidak bisa berhenti untuk meng scroll. Hingga aku sampai di unggahan terakhirnya.
Tanggal 22 Januari XXXX.
Jantungku langsung berdetak kencang. Tatapannya seolah menusuk hati sampai aku tidak bisa berkutik.
• Arne_Qwen
15. 928 Suka
Arne_Qwen New Hair
126 Komentar
'Cantik banget'
'Kakak rambut nya cocok banget.'
'Kau ada waktu hari ini?'
'Ayo bertemu.'
'Cantik sekali pacarnya kak Lucas.'
__ADS_1
Mataku membelalak ketika melihat komentar terakhir. Astaga sedekat apa mereka di publik sampai orang ini berkomentar Sarah kekasihnya Lucas.
Aku mendecak sembari menyimpan ponsel. "Mereka tidak tahu saja kalau Sarah istriku sekarang. Augh! mengapa menyebalkan sekali."
Mengapa hal-hal yang berkaitan dengan Lucas selalu membuatku jengkel. Memang seharusnya aku tidak mengenal Lucas sedari kecil.
Tiba-tiba..
Aku memiringkan kepala. Lucas juga berteman dengan Sarah sejak kecil. Sudah berapa banyak ia pindah lingkungan?.
Entahlah, ku ambil unggahan foto terakhir untuk ku simpan di galeri. Tapi jangan sampai Sarah tahu kalau aku menyimpan fotonya secara diam-diam.
Kun Pov End.
Sarah Pov.
Ku geser pintu kaca menjulang tinggi. Aku tidak pernah masuk ke dalam ruangan ini.
"Pakaian saja memiliki ruangan yang sangat mewah." Gumamku melihat-lihat walk in closet .
Ada banyak sekali jas yang menggantung. Setiap warna tertata dengan rapih. Tampaknya Kun suka sekali mengoleksi dasi. Ada satu lemari besar hingga menyentuh bagian atap, lemari itu hanya diisi dengan dasi.
Tak lupa ada jajaran sepatu dan juga jam tangan.
Sangat mewah.
"Kau juga bisa menyimpan pakaianmu disini."
Aku langsung menoleh ke sumber suara.
"Pakaianku tak sebanyak pakaianmu." Gumamku membuka lemari berisikan kacamata.
Dari sudut mataku, aku bisa melihat Kun mendekatiku.
"Kalau begitu ayo kita beli pakaian untukmu. Aku tak mau kau mendapatkan pakaian dari pria lain kecuali ayahmu." Ujarnya menutup pintu lemari kacamata.
Kun tak menjawab perkataan ku, ia mengeluarkan cincin dari balik saku celananya.
"Jelas Lucas salah. Ia memberi pakaian kepada wanita yang sudah menikah. Aku tak masalah jika kau bukan istriku tapi kenyataannya kau adalah istriku." Kun meraih tanganku dan memasangkan cincin pernikahan dijari manisku. Cincin yang sempat ku lempar di mobil karena marah.
Aku menatap Kun sejenak. Kenapa moodnya ramah sekali hari ini?. Apakah dia baru saja minum obat? padahal setiap hari selalu mengajak diriku untuk bertengkar seperti orang gila.
Aku bisa melihat Kun menarik napasnya secara perlahan.
"Mau melihat rumahku?"
"Bukankah rumah yang kita injak saat ini milikmu?" Kataku bingung.
"Rumah ini milik nenek, bodoh."
Serunya berhasil membuat perasaanku lebih baik. Akhirnya Kun mengumpat.
"Syukurlah kau tidak normal seperti biasanya." Ledekku.
"Sulit sekali bersikap ramah padamu." Ujarnya keluar dari ruangan.
Aku menyusulnya dari belakang. "Jadi kita akan pindah ke rumahmu?"
Kun membuka jas dan melemparnya ke sofa. "Kalau kau mau berjanji satu hal padaku, kita bisa tinggal di rumahku."
Keningku berkerut. "Kenapa begitu?"
Ia menghembuskan napasnya sembari menatapku.
"Rumahku cukup jauh, perlu melewati kota untuk sampai disana dan kau selalu kabur ketika kita bertengkar. Kau pikir begitu baik? kenapa selalu kabur tiba-tiba? padahal kita bisa menyelesaikannya bersama-sama."
Aku menyilangkan tangan dibawah dada. " 'Menyelesaikan bersama-sama' apaan, kau sendiri bahkan membiarkan aku kabur, bukannya mengejar ku." Seruku tidak mau kalah.
__ADS_1
Kun mendaratkan bokong di sisi ranjang. "Aku pernah mengejar mu sekali dan aku tak akan melakukannya lagi untuk yang kedua kali. Kau harus mengubah kebiasaanmu yang seperti itu."
"Kalau begitu kau juga harus mengubah kata-katamu yang menyakitkan itu. Aku tak akan mendebat mu kalau kau tidak menjengkelkan." Kataku membuat Kun terdiam.
Samar-samar aku bisa mendengar Kun bergumam kecil.
"Sulit sekali memahami wanita."
"Itu karena kau hanya bisa memahami Ayana." Tampaknya ucapan ku membuat emosi Kun hidup.
Kun menatapku dengan tajam membuatku menyesal sudah mengatakan itu.
"Yang kau katakan memang benar." Jawabnya pelan. Tatapannya yang tajam berubah menjadi sendu.
Ia tak mendebat perkataanku.
Astaga ini membuatku gila. Aku tak terbiasa dengan Kun yang bersikap normal. Dia harus selalu tak bisa menahan emosi dan menjawab semua perkataanku dengan menyebalkan. Dengan begitu aku bisa hidup dengan tenang. Jika ia terus seperti ini, Kun bukanlah suami ku yang abnormal.
"Kau baik-baik saja?" Akhirnya aku menanyakan keadaannya.
"Hm. Aku hanya lelah karena menyetir sendiri dari apartemen kerumah. Bangunkan aku jam 4. Kita pergi setelah matahari terbenam." Pintanya membaringkan tubuh diatas ranjang.
Kun langsung tertidur tanpa membuka sepatu.
Aku meninggalkannya dikamar. Pergi merendam kaki di kolam renang.
Mencoba merenungkan percakapan ku dengan Kun.
Sepertinya aku sudah salah tidak memberitahu Kun kalau Lucas memberiku pakaian. Mungkin Kun tidak akan marah kalau sedari awal sudah tahu.
Aku menggerak-gerakkan kakiku di air. Mengapa Kun selalu marah jika aku dekat dengan Lucas? ia tak cemburu namun selalu membabi-buta.
"Kau mau berenang?" Tanya Ayana.
Aku menggeleng pelan. "Aku hanya ingin sedikit main air." Kataku.
Perempuan itu berjalan ke dekat tangga. Melepas kimono, memperlihatkan tubuh yang ramping dan bersih. Ayana menggunakan bikini berwarna kuning. Rambutnya diikat tinggi-tinggi agar tidak terkena air.
"Konon katanya luka operasi tidak akan menghilang."
Aku mengangkat alis tidak mengerti.
"Sayang sekali Kun harus melihat bekas luka di tubuhmu."
Satu detik kemudian raut wajahku berubah. Aku tahu bahwasannya Ayana sengaja berkata begitu agar aku Insecure karena tubuhnya terbebas dari luka.
"Aku tak berniat menyinggung mu." Imbuhnya tersenyum manis.
Dan aku membalas senyumannya itu. "Sebenarnya aku malu ketika memperlihatkan tubuhku pada Kun tapi ia berkata padaku kalau luka operasi yang ku miliki sangat indah. Kun bahkan selalu menyentuhnya sebelum tidur, jika tidak ia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak."
Lengkungan di bibirnya berubah. Ayana menatapku tak percaya.
"Ah~ Kun sangat romantis rupanya."
"Ya~ dia lelaki paling romantis yang pernah ku temui. Kun memang terlihat sangat dingin tapi ia begitu hangat. Terlebih Kun selalu memintaku untuk memeluknya sampai pagi. Ah~ maaf aku terlalu larut dalam bercerita." Aku bersikap malu-malu dan kali ini Ayana percaya dengan aktingku.
Wanita itu terlihat menahan amarah dari senyumnya yang dipaksa.
Dia pikir hanya dia yang bisa mempermainkan aku?.
Mulai saat ini, aku akan membalas semua perkataannya yang menjengkelkan itu. Agar kelak suasana hati Ayana lah yang buruk karena termakan ucapanku yang berlebihan.
to be continued..
Kakung~
__ADS_1