
Ku longgarkan sedikit dasi sembari melangkah masuk kedalam rumah, langkah kakiku terhenti saat melihat seorang gadis berambut panjang tengah memegangi nampan berisikan gelas kosong. Ia tersenyum padaku namun dengan cepat aku memalingkan wajah dan sialnya saat melihat ke arah lain justru mataku bertemu dengan matanya Sarah. Sedang apa dia disini? kenapa tidak pulang ke apartemen.
"Kau pulang? selamat datang dirumah." Suara lembut itu membuatku terlempar ke masa-masa indah dulu.
Ku abaikan ia lalu berjalan melewatinya. Tapi seseorang meraih tanganku. "Kau harus membalas ucapannya, dia ibumu." Ujar Sarah membuatku mengkerutkan alis. Dari mana ia tahu bahwa wanita itu adalah 'ibuku' ?.
Sarah melotot padaku karena aku masih belum mengeluarkan suara.
"Ya~ aku pulang." Kataku dengan nada malas.
Wanita itu berbalik lalu tersenyum dan aku masih belum bisa membalas senyumannya. Dengan cepat aku berjalan menaiki tangga sembari menarik tangannya Sarah. Ku bawa ia masuk kedalam kamarku lalu ku kunci pintunya agar dia tidak perlu keluar lagi.
"Woah~ aku masih saja takjub dengan kamarmu padahal ini kali kedua aku berada disini."
Seperti biasa aku mengabaikannya, ku buka jas dan dasi dihadapannya. Kalian tahu bagaimana reaksi Sarah? tentu saja ia akan tersipu malu dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Aku memutar bola mata saat melihatnya salah tingkah. Dasar perempuan mesum, dia pikir aku akan berbuat hal aneh padanya?.
"Jangan turun sebelum aku selesai mandi." Perintahku lalu masuk kedalam kamar mandi.
Ku pejamkan mata sejenak, menikmati air hangat bersamaan dengan wewangian yang membuatku semakin larut dalam masa lalu.
Aku ingat bagaimana mengusapkan sabun ke punggungnya. Mengikat rambutnya tinggi-tinggi agar tidak terkena air dan mengecup lehernya karena gemas. Dia selalu tersipu malu dengan setiap sentuhan yang ku berikan.
Seandainya saat itu aku tak membawanya kerumah ini, sudahku pastikan Ayana menjadi istriku bukan istrinya ayah. Hah~ sudahlah, aku hanya perlu melupakannya.
Saat keluar dari kamar mandi, aku mendapati pintu kamarku sudah terbuka. "Dasar wanita menyebalkan!." Gerutuku kesal karena Sarah tak pernah mendengarkan ucapanku. Ku tendang pintu itu sampai menimbulkan suara yang nyaring. Masa bodoh dengan nenek, saat ini aku hanya ingin marah-marah.
Ku lihat jam dinding menunjukkan jam makan malam dan perutku keroncongan. Aku ingin sekali turun ke bawah dan makan bersama dengan mereka tapi tidak bisa karena ada Ayana disana.
Membaringkan tubuh sepertinya bisa menahan rasa lapar. Ku rebahkan tubuh diatas kasur sembari menikmati drama di televisi. Tak lama suara ketukan pintu terdengar. Dengan malas ku buka pintu tersebut.
"Ibumu menyuruhku untuk membawakan ini." Sarah melewatiku lalu menyimpan nampan berisikan makanan di meja.
"Aku akan makan sendirian." Seruku membuka pintu lebih lebar.
"Ck! aku harus membawa kembali mangkuk-mangkuknya. Sudahlah cepat makan." Katanya membuatku menghembuskan napas dengan kasar.
Ini pertama kalinya aku ditemani makan oleh Sarah. Rasanya sedikit canggung karena aku makan didepan orang asing.
"Ada yang menempel didekat mulutmu."
__ADS_1
Sontak aku langsung meraih tisu dan mengelap mulut.
Setiap aku mengunyah makanannya terasa sangat enak. Masakannya tampak berbeda, mungkinkah buatan Ayana?. Setelah ku habiskan, aku langsung menyuruh Sarah untuk membersihkannya dan keluar dari kamarku. Tapi kali ini dia mengabaikan ucapanku.
"Apakah Ayana mantan pacarmu?" Pertanyaan Sarah membuatku terkesiap.
"Sepertinya kau menggali tentang diriku."
"Tidak. Aku tidak mencari tahu tentang dirimu. Algard yang memberitahuku."
"Apa maksudmu Algard yang memberitahu?" Aku terkejut karena tidak mungkin Algard memberitahu tentang Ayana secara terang-terangan.
"Kau tahu, saat di apartemen aku benar-benar bosan karena tidak ada yang bisa ku kerjakan. Itu karena kau memecatku!. Sehingga mataku jelalatan kemana saja dan menemukan album biru. Bisa kau menebak foto apa yang ku temukan?" Sarah berlagak seolah sedang melakukan kuis.
"Kau menemukan fotoku dengan Ayana." Jawabku santai.
"Benar sekali! Aku juga menemukan foto..emm.. foto Ayana sedang....
"Di bath up." Aku menyergah kalimat Sarah yang ragu-ragu.
Gadis itu mengangguk setelah mendengar jawabanku, raut wajahnya berubah tidak secerah sebelumnya. "Kenapa? kau kecewa dengan tingkah laku suamimu ini dimasa lalu?."
"Baiklah kalau begitu, aku akan memelihara anak SMA untuk dijadikan sugar baby." Tampaknya kalimatku membuat Sarah semakin kesal. Dia mendelik sembari menata mangkuk ke nampan.
Aku menghembuskan napas melihat tingkah lakunya. Dia adalah orang asing yang berhasil ku kasari sejauh ini. Kenapa dia masih bertahan setelah ku nikahi secara mendadak, ku pecat dari kantor, dan ku usir dari rumah ini. Mungkinkah dia jatuh cinta padaku? secepat itu? bagaimana bisa, aku saja tidak ingat pernah mengwawancarainya.
"Aku penasaran, kenapa kau tidak pergi meninggalkan diriku setelah pernikahan di altar. Padahal sampai sekarang ini, aku belum mendaftarkan pernikahan kita ke KUA."
Tiba-tiba saja Sarah menghentikan aktivitasnya, ia menyelipkan rambutnya ke telinga lalu melihat ke arahku. Aku sedikit terperangah melihat kecantikkannya. Aku tidak tahu kalau Sarah ternyata secantik itu.
"Aku tahu kau mungkin tidak akan pernah mendaftarkan pernikahan ini. Kau menikahiku hanya untuk status dimedia, kan?. Aku tahu itu. Jujur saja, aku ingin sekali meninggalkanmu dan pergi jauh. Tapi aku rasa itu buruk untuk kehidupanku, semua orang diluar sana tahu wajahku dan mereka mengenalku sebagai istrimu. Bahkan sehari setelah kita menikah, media mengerubuni rumahku. Mereka mencariku dan menggali informasi tentang diriku. Apakah aku ini termasuk orang kaya? apakah aku ini orang yang terpandang?. Mereka mencari tahu tentangku, bagaimana latar belakang kehidupanku....
"Kau berpikir aku suka dengan kepopuleran yang mendadak itu? tentu saja tidak. Aku akan menjadi orang yang sangat buruk untuk keluargamu jika aku ketahuan melakukan kesalahan. Itu sebabnya aku menerima pekerjaan darimu sebagai peternak. Setidaknya media tidak akan pernah masuk kedalam rumah ini karena akses yang ketat. Aku bisa saja bekerja di toko bunga atau toko-toko yang lainnya tapi itu tetap saja akan berdampak untuk keluargamu, bukan keluargaku. Itulah alasanku tetap memerankan pernikahan bodoh ini." Sarah menatapku lagi tapi kali ini dia tersenyum.
"Maaf jika seandainya aku menjadi beban untuk keluargamu. Aku akan pulang, beristirahatlah."
Aku terdiam sembari memperhatikan punggungnya yang pergi menjauh ditelan oleh pintu. Dengan susah payah aku menelan ludah, mungkinkah aku menyulitkan hidupnya Sarah? Senyumannya seolah memberitahu kalau dia memang tidak baik-baik saja dan itu membuatku iba.
"Semuanya karena ulahku sendiri." Ku raih jaket dan kunci mobil lalu pergi menyusul Sarah.
__ADS_1
Saat menuruni tangga, aku bisa melihat kalau Sarah masih berjalan menuju dapur.
"Kau mau kemana malam-malam begini?" Tanya ayah membuatku berhenti melangkah.
Aku sudah berharap kalau beliau tidak akan berbicara padaku agar aku bisa menghindari Ayana. Tapi ternyata harapanku tidak terkabul. Aku memutar tubuh lalu menyapa ayah yang sedang duduk bersama dengan Ayana disofa.
"Aku dan Sarah akan tidur diapartemen malam ini."
"Kenapa? kau terganggu dengan kehadiran ayah dan Ayana?" Dia bertanya yang justru sudah tahu jawabannya.
Aku tersenyum kecil menanggapi beliau. "Tidak, aku hanya takut kalau teriakan Sarah mengganggu kalian berdua."
"Ah benar sekali~ kalian adalah pasangan baru yang masih membutuhkan malam pertama berikutnya."
Jujur saja ini adalah obrolan ringan yang menyebalkan tapi aku suka karena bisa melihat raut wajah Ayana yang kesal. Tidak lama, Sarah keluar dari dapur. Dia terkejut karena melihatku.
"Kau sudah selesai? ayo kita ke apartemen, aku sudah tidak tahan." Kataku membuatnya tambah terkejut. Ia melotot seolah berbicara 'apa maksudmu".
"Kami pamit. Selamat malam." Ku raih tangan Sarah lalu menyeretnya ke basement.
"Tunggu-tunggu.. kau mau ikut ke apartemenku?"
"Itu apartemenku bukan apartemenmu." Aku meralatnya. Ku lepas genggamannya lalu berjalan menuju mobil berwarna biru.
Saat masuk kedalam mobil, ia mengomel perkara mobil. "Kenapa memilih mobil yang mencolok? aku lebih suka mobil yang putih." Katanya menunjuk mobil Aston Martin Vantage. Sontak aku langsung tertawa tidak percaya.
"Kau punya selera yang baik, kita ini hanya akan pergi ke apartemen bukan pertemuan penting. Kenapa harus pakai mobil yang bagus." Aku menyalakan mesin mobil lalu mulai melajukannya.
"Mobil itu milikmu? semuanya?"
"Hm (iya)."
"Kenapa harus punya mobil sebanyak itu?"
Aku menoleh sejenak lalu kembali fokus ke jalanan. "Itu cara semua orang kaya menggunakan uangnya." Jawabku membuat Sarah tidak berkutik.
Kun Pov End.
to be continue....
__ADS_1