
Kobaran api sudah menjalar memasuki area rumah. Tangannya bergetar hebat berlumuran darah, air mata jatuh membasahi pipi juga pakaian sang ibu. "Pergi, kau harus lari." Seru wanita berambut pendek tersebut.
Kun kecil menggelengkan kepalanya, ia tak mau meninggalkan ibunya sendirian. "Kita harus tetap bersama." Gumam Kun menekan kembali luka tembak yang ada diperut sang ibu agar darahnya tidak terus-menerus keluar.
Beliau menoleh melihat api dari balik kaca, matanya juga jatuh pada sebuah bom yang sedang menghitung mundur. Ia cengkeram kuat-kuat tangan Kun. "Pergi, tinggalkan ibu. Kau harus selamat." Maria mendorong tubuh Kun tapi anak lelaki itu keras kepala. Dia tidak mau meninggalkan ibunya.
"Jangan pedulikan ibu, kau lihat? ibu sudah tidak akan selamat. Pergi! pergi Kun!. Kau harus tetap hidup untuk ibu!." Kali ini Maria mencoba bangkit untuk membawa Kun pergi. Dengan tergopoh-gopoh ia mencoba menyelamatkan anaknya. Tepat di ambang pintu, Maria kembali melirik ke arah bom yang menunjukkan 8 detik terakhir.
"Ibu?" Kun memanggil.
Ia tersenyum, "ibu mencintaimu." Bisiknya menceburkan Kun kedalam kolam renang. Satu detik kemudian, sebuah ledakan kencang dengan semburan api melahap tubuh Maria. Jeritannya terdengar sampai kebawah dasar kolam renang.
Bahkan jeritan itu masih terdengar sampai sekarang..
Kun Pov :
Aku membuka mata dengan ritme jantung yang kencang, suara petir membuatku sedikit kaget. Diluar sedang hujan tapi tubuhku dibanjiri oleh keringat. Ku lihat jam dinding menunjukkan jam satu malam.
Lagi-lagi aku terbangun karena mimpi buruk.
Aku beringsut dari kasur lalu berjalan menuju lemari untuk mencari kaos. Ku raih T-Shirt putih dan mengenakannya, "aw!." Ringisku saat kaos tersebut bergesekan dengan luka ditanganku.
Mungkinkah karena aku tidak mandi tubuhku jadi berkeringat begini? padahal AC nya menyala. Ku cuci muka lalu mengecek persediaan obat tidur yang ternyata sudah habis.
"Menyebalkan." Gerutuku membuka pintu menuju dapur untuk mengambil minuman.
Pertama-tama aku mengecek minumannya, aku ingin sekali minum anggur. Tapi tidak bisa karena dilarang oleh dokter. Sehingga ku raih susu dan memanaskannya. Ini adalah pekerjaan yang menyebalkan, aku tak pernah berada di dapur sebelumnya karena aku sudah jarang mengalami mimpi buruk yang membuatku selalu terbangun tengah malam.
Dan malam ini aku kembali bermimpi buruk, lebih tepatnya dihantui masalalu. Jujur saja, aku sudah lelah karena sering dihampiri oleh kenangan buruk. Itu sebabnya aku menggunakan obat penenang yang dicampur obat tidur. Aku adalah seseorang yang bisa tidur setelah mengkonsumsi obat sementara semalam aku tidak meminum obat tersebut yang artinya mungkin aku tertidur karena kelelahan.
Ku matikan kompor dan menuangkan susu kedalam gelas, aku tak kembali ke dalam kamar melainkan pergi menuju ruang perpustakaan. Aku duduk dihadapan piano putih milik ibu. Dulu ibu sering sekali memainkan beberapa alunan lagu untukku. Kata beliau, suara yang dihasilkan piano selalu membuatnya tenang.
Ku tekan beberapa tuts yang kuncinya ku buat sendiri, seiring musiknya melantun, lemari-lemari berisikan buku itu mulai bergeser memberi akses jalan menuju ruangan rahasia. Ku masuki ruangan yang kosong dan gelap itu, ku tekan saklar lampu lalu cahaya biru menerangi ruangan ini.
Tanganku meraba sebuah laci berisikan kacamata khusus. Ku pakai dan ku tekan tombol kecilnya.
"PERLU AKSES!." Ujar program yang ku buat.
Layar kecil berwarna hijau muncul dihadapanku. Ku letakkan telapak tangan kanan di layar tersebut.
"AKSES DITERIMA!." Katanya lagi.
Seketika itu juga seisi ruangan yang tadinya kosong menjadi penuh. Semuanya bekerja dengan cepat layaknya hologram di kantorku.
Serangkaian file dan data-data penyelidikan pembunuhan ibuku terpampang disebuah tembok yang tentunya hanya bisa dilihat oleh kacamata khusus buatanku.
Ku perhatikan orang-orang yang berhubungan dengan ibuku. Aku tak berniat menjadikan mereka sebagai tersangka, ini hanya penyelidikan kecil yang aku selidiki sendirian.
Berita tentang kematian ibuku langsung lenyap begitu saja, bahkan berhenti diselidiki oleh kepolisian. Aku masih ingat bahwa hasil otopsi yang diberikan tim forensik menunjukkan bahwa ibuku mati terbakar. Mereka tidak memberitahu media mengenai tikaman dan tembakan.
__ADS_1
Ayah berlagak seperti orang gila saat mengetahui ibu meninggal dunia. Aku tidak tahu itu adalah reaksi nyata atau hanya akting, yang pasti beliau yang meminta polisi berhenti mencari tahu tentang kematian ibu.
Dan aku menduga kuat bahwa ayahlah yang sudah membunuh ibu, tidak menggunakan tangannya tapi menyuruh bawahan atau mungkin pembunuh bayaran yang handal. Aku masih ingat dengan ciri-ciri si penyusup, dia memiliki tato singa di lengan kirinya. Hanya itu yang ku tahu dan aku sedang mencari keberadaan orang tersebut.
Tiba-tiba saja program memberitahu aku bahwa ada seseorang yang terbangun. Dia adalah Ayana. Aku memperhatikan gerak-geriknya dari layar hologram CCTV. Tidak lama, program kembali memberi informasi, Sarah menelfonku dan ponselku berada di kamar.
Ku suruh program mematikan panggilan tersebut. Terlintas dalam benakku untuk memberi nama program rahasia ini. Dia juga seorang robot namun tidak berbentuk robot melainkan hologram datar seperti komputer.
"Kau ku beri nama Arthur."
"PROGRAM BERALIH MENJADI ARTHUR."
Layar langsung mengetik namanya di sisi kanan.
"BERHASIL." Katanya membuatku tersenyum.
Paginya, aku mendapat kabar dari sekretarisku bahwa Sarah masuk rumah sakit bersamaan dengan kabar duka meninggal dunianya ibu Lily rekan bisnisku, diberitakan bahwa ibu Lily meninggal karena serangan jantung. Kabar duka tersebut membuat luka yang mendalam mengingat beliau adalah orang yang berjasa. Hampir semua stasiun televisi memberitakan kabar duka tersebut. Sebelum pergi melihat Sarah aku dan ayah pergi kerumah duka terlebih dahulu.
Dan jujur saja, aku tidak peduli dengan Sarah tapi Sekretaris Kim memaksaku untuk melihat keadaan wanita itu.
Sebelum keluar dari mobil, aku terkejut karena rumah sakit tempat Sarah dirawat adalah rumah sakit yang menangani mayat ibuku.
"Benarkah ini tempatnya?" Tanyaku pada Kim. Beliau mengangguk lalu turun dari mobil dan membukakan pintu untukku.
"Siapa yang membawanya kemari? ini kan rumah sakit mahal tidak mungkin orang tuanya membawa Sarah kesini." Tanyaku sembari masuk kedalam kawasan rumah sakit.
"Seorang dokter yang bekerja disini membawa nona Sarah, Tuan. Dokter tersebut berteman dengan istri Tuan." Jelas Kim menuju resepsionis.
Setelah mendapatkan informasi ruangan, kami segera pergi ke lift. Sungguh keadaan yang menyebalkan karena aku tak punya lift pribadi dirumah sakit ini. Sesak sekali, sampai-sampai aku harus berdempetan dengan beberapa pasien.
"Hah~ sepertinya kau harus membuat lift pribadi dirumah sakit ini." Aku menggerutu saat keluar dari lift.
Sekretaris Kim menggelengkan kepalanya. "Jangan hamburkan uang tuan untuk yang tidak-tidak." Ujarnya berjalan didepanku.
Tepat saat pintu ruangan bergeser, aku terdiam karena tidak percaya kalau Sarah berada diruang inap umum. Dia sedang terbaring lemas, sepertinya baru siuman. Seorang suster tengah menangani Sarah, disana juga ada kedua orang tuanya. Aku memang tidak pernah bertemu dengan ayah dan ibunya Sarah, tapi aku yakin mereka adalah orang tuanya.
Pertama-tama, aku menyambut ayah dan ibunya. Ku pikir mereka akan senang dengan sapaanku, tapi ternyata tidak. Pipiku ditampar sangat keras hingga telingaku berdengung. Semua pasien yang berada diruangan ini langsung memperhatikan aku.
"Kau pikir aku akan senang disambut oleh menantu sombong dan tidak berhati sepertimu? Kemana kau semalam? kenapa kau membiarkan putriku merasakan sakit diperutnya? Kau lebih memilih mengerjakan pekerjaanmu dibandingkan mengantar istrimu kerumah sakit?!." Pria paruh baya itu memarahi aku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menundukkan kepala. Bukan karena takut, tapi karena malu di marahi di tempat umum seperti ini.
"Paman, Tuan Kun memiliki alasan kenapa dia tidak ada disisi nona Sarah semalam." Sekretaris Kim mencoba membantu aku.
"Aku tidak sedang berbicara denganmu! Dengar anak muda, sesibuk apapun pekerjaanmu. Kau sudah menikah, dan kau punya tanggung jawab untuk berada disisinya!." Beliau terus menyudutkan diriku.
Ingin sekali aku menjawab ucapannya tapi aku khawatir seseorang tengah merekam pertikaian ini.
"Ayah sudah cukup, malu dilihat orang lain. Sudah, yang terpenting Nak Kun berada disini sekarang. Ayo, kita tinggalkan mereka berdua. Ayah perlu mendinginkan kepala. Nak Kun, titip Sarah sebentar ya." Seru seorang ibu memboyong pria paruh baya itu untuk keluar.
Setelah kedua orang tua itu meninggalkan ruangan, aku bisa bernapas dengan lega. Ku suruh sekretaris Kim menutup tirai dan menunggu di luar ruangan.
__ADS_1
Sarah terdiam memperhatikan aku, wajahnya begitu pucat. Tapi, ku akui dia tetap cantik.
"Maaf~" Katanya membuatku tidak enak. Kenapa pula dia yang harus meminta maaf padaku?.
"Kenapa kau tidak berada di ruangan VIP?" Tanyaku langsung.
"Aku tak mau membebani temanku." Jawabnya lemas.
"Temanmu yang membayar biaya operasinya?"
Sarah mengangguk dan aku menghela napas. "Well~ aku akan mengurus kembali administrasinya dan kau harus pindah ke ruangan VIP agar lebih cepat ditangani."
Bukannya senang justru Sarah menggelengkan kepala. "Aku tak mau berhutang padamu." Ujarnya membuatku mengerutkan alis.
"Kau lebih memilih berhutang pada temanmu dibandingkan suamimu?." Pernyataanku membuat Sarah terdiam sejenak.
"Kita tidak benar-benar menikah Kun." Jawabnya sesuai kenyataan.
"Kau tidak perlu menganggapnya hutang, lagi pula benar kata ayahmu, aku seharusnya bertanggung jawab. Maka dari itu aku harus membayar biaya rumah sakit dan memindahkanmu ke ruangan VIP."
"Kun~ bertanggung jawab yang dimaksud oleh ayahku itu bukan soal uang." Sarah menatapku lalu meringis kesakitan.
"Kau tidak boleh banyak bicara, istirahatlah. Aku harus kembali ke kantor." Aku bangkit dari kursi dan hendak menarik tirak tapi Sarah menarik tanganku.
"Ada apa?"
"Terimakasih sudah mau menjengukku." Serunya sangat sungkan.
Aku mengangguk saja dan pergi meninggalkan Sarah.
"Pindahkan Sarah ke ruangan VIP dan suruh dokter memberi penanganan ekstra untuknya. Aku tidak mau diomeli lagi oleh ayahnya, sial pipiku masih terasa panas sampai sekarang."
"Tuan~ jika tuan tidak mau dimarahi lagi. Tuan seharusnya menjaga nona Sarah sampai dia sembuh total. Saya yakin tuan tidak akan di omeli lagi oleh ayahnya nona Sarah."
Aku menoleh memandangi sekretaris Kim. "Jangan menyuruhku yang aneh-aneh, ada banyak hal yang harus aku kerjakan.".
"Memangnya tuan mengerjakan apa di kantor robot? hanya menunjuk dan memarahi karyawan, saja. Akan lebih baik jika menunggu sang istri."
"Ish! sudah ku katakan aku tak mau menempel pada Sarah."
"Ey~ kenapa begitu. Nona Sarah kan istri tuan."
Aku sangat jengah mendengar ocehannya sekretaris Kim. "Berhenti berbicara dan urus semua administrasinya, aku akan menunggu di dalam mobil." Kataku melenggang pergi keluar dari rumah sakit.
Kun Pov End.
to be continue....
__ADS_1
(Sumber : Pinterest - Sci-Fi)