My Robot Engineer

My Robot Engineer
Episode 10


__ADS_3

Setelah kejadian semalam, Kun pada akhirnya mengalah. Dia tidur di sofa dengan sejuta ucapan menggerutu. Saat aku bangun tidur, aku melihat bahwa ia sedang meringkuk kedinginan. Terlintas dalam benakku untuk membiarkannya tapi tidak bisa. Ku pakaikan ia selimut lalu pergi keluar kamar.


Pertama, kebiasaanku di apartemen adalah menonton televisi sembari melamun saat bangun tidur. Itu karena aku terbiasa dengan Algard yang beres-beres dan menyiapkan secangkir susu untukku. Dan sekarang semuanya berubah, jauh lebih mewah. Saat aku bangun tidur, para pelayan langsung melayani aku dengan baik. Mereka memijat dan bahkan menyiapkan air hangat untuk aku berendam di kamar mandi khusus spa.


Tapi, aku tidak bisa menikmati spa sempurna hari ini itu karena jahitanku belum kering sehingga aku tak bisa berendam di air hangat. Mereka hanya memijat kaki dan kepala, setelah itu mencucikan aku rambut, juga memberi perawatan muka. Ya Tuhan, ibuku harus merasakan kemewahan ini juga.


Saat pelayan sedang memolesi wajahku, aku mendengar pintu terbuka. Beliau adalah mantan kekasihnya Kun yang lebih tepatnya sekarang adalah seorang ibu tiri. Astaga, aku tidak paham kenapa itu bisa terjadi.


"Bagaimana keadaanmu, apakah sudah membaik?." Tanyanya.


"Tidak pernah lebih baik dari ini. Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku." Ujarku kaku takut maskernya retak.


"Syukurlah, kau harus banyak istirahat agar cepat sembuh."


Aku mengangguk sembari melirik pada Ayana. Aku harus memanggilnya apa? ibu? Kakak? atau mungkin namanya?.


Mataku semakin melebar seiring Ayana melorotkan kimononya. Apakah dia tidak malu? Astaga, aku bisa melihat ada bercak merah di punggungnya. Mendadak aku merasa malu dan canggung. Aku kembali memejamkan mata untuk menikmati pijatan dikaki.


"Apakah kau tahu bahwa aku ini mantan kekasih suamimu?"


Tentu, tentu saja aku tahu. "Benarkah?" Tanyaku pura-pura kaget.


"Kau tidak pandai berakting." Katanya menyadari bahwa aku berbohong.


"Syukurlah kalau kau sudah tahu, setidaknya kau tidak akan terkejut jika sesuatu terjadi."


Keningku berlipat-lipat mencoba memahami ucapan Ayana.


Apa maksudnya?.


Ketukan pintu bersamaan dengan suaranya Louis membuat kami berhenti berbincang. Louis memintaku untuk segera berpakaian dengan rapih. Aku bertanya ada apa, namun lelaki itu tidak menjawab. Saat masuk kedalam kamar, Kun sudah tidak ada.


Louis memberi waktu 15 menit untuk aku berdandan, dia memintaku berpakaian dengan rapih. Bahkan beberapa pelayan mencarikan outfit yang cocok untukku. Setelah selesai, aku masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan rumah.


"Sebenarnya kita mau kemana?" Tanyaku pada Louis yang sedang menyetir.


"Menghadiri launchingnya Iron Brain Medis."


Lagi-lagi keningku mengkerut tidak mengerti. Aku mengintip ke jendela saat mobil memasuki bangunan besar juga menjulang tinggi. Tiba-tiba saja mulutku membentuk lingkaran, aku ingat bahwa bangunan ini adalah kantor sekaligus pabrik robot milik Kun. Aku pernah melihatnya di televisi dan sekarang aku tidak percaya bahwa aku menginjakkan kaki di gedung yang menakjubkan ini.


Aku tidak berhenti terperangah melihat cantik dan elegannya kantor Iron Brain. Ada banyak sekali robot, mereka berkeliaran di kantor ini. Para pegawai langsung membungkuk saat melihatku, apakah mereka tahu bahwa aku ini istrinya Kun?.


Louis membawaku ke lantai 8 dan tepat saat pintu lift terbuka, aku melihat Kun tengah duduk bersama dengan beberapa orang. Mereka menggunakan pakaian rapih seperti Louis. Sementara Kun sendiri, ia hari ini memakai stelan berwarna merah yang mencolok.


Mataku dan mata Kun bertemu, ia berdiri lalu menghampiri aku dan melingkarkan tangannya di pinggangku. Tubuhku langsung mengejang saking terkejutnya.


"Perkenalkan, wanita cantik ini adalah istriku sekaligus yang akan memperkenalkan Iron Brain Medis pada seluruh dunia."


Aku melotot memberi isyarat apa maksud dari perkataannya itu?.


Para pria berjas itu langsung membungkuk dan memperkenalkan diri padaku. Mereka adalah para dokter yang berpartisipasi dalam pembuatan Iron Brain Medis.


Tunggu apa itu Iron Brain Medis? aku sama sekali tidak tahu.

__ADS_1


Setelah perkenalan singkat, barulah Kun menjelaskan semuanya padaku. Ia memintaku menjadi moderator untuk memperkenalkan ciptaannya yakni Iron Brain Medis.


"Aku tahu kau terbiasa menjadi seorang MC dan pemandu." Katanya memberiku beberapa lembaran tentang robot tersebut.


"Aku tak punya waktu untuk menghafal ini semua." Kataku tidak menyanggupi.


"Aku percaya padamu." Ujarnya membuatku tertawa.


"Kau sedang memohon?" Aku meledeknya.


"Aku tak punya waktu untuk melayani candaanmu. Aku benar-benar ingin kau yang memperkenalkan Iron Brain Medis ini."


"Kenapa?"


"Kau seorang pembawa acara yang hebat." Jawabnya langsung.


Aku terdiam memikirkan tawarannya itu, ini sangat mendadak. Dan acara launching robot Iron Brain Medis adalah suatu hal yang besar, mengingat Kun adalah seseorang yang hebat, aku takut mengacaukannya.


"Aku tidak bisa." Seruku membuat Kun bergeming. Dia menatapku cukup lama.


"Aku dengar kau ingin sekali bekerja di kantorku, bagaimana jika ku hadiahi bangku direktur untukmu itupun kalau kau mau menjadi moderator hari ini." Kun membuat sebuah negosiasi yang mengejutkan.


"Aku tak bisa menjadi direktur." Aku menolaknya lagi, menurutku posisi direktur sulit dan tidak layak untukku.


Kun menghembuskan napasnya perlahan. "Kau tak suka jadi direktur? kalau begitu ku beri separuh hak perusahaan untukmu." Aku semakin membelalak tidak percaya dengan tawarannya. Kenapa dia sebegitu mudahnya menawarkan itu padaku?.


"Beri aku alasan yang tepat kenapa kau menawarkan itu hanya agar aku mau menjadi moderator untuk acara siang ini?"


"Sudahku katakan aku percaya padamu. Dengan bakatmu sebagai pembawa acara yang baik. Aku yakin pikiran semua masyarakat akan terbuka lebar begitupun dengan para dokter. Mereka akan sangat senang dengan penemuan ini." Jelasnya.


"Okey, aku mau memperkenalkan robotmu itu tapi dengan satu permintaan."


"Apa?" Belum apa-apa aku bisa melihat ketegangan dari wajahnya Kun.


"Tenang saja aku tidak akan meminta perusahaan atau mungkin tanah 100 hektar. Aku akan memberitahu keinginanku setelah acaranya selesai." Kataku dan Kun mengangguk.


Ia memberiku ruang untuk menghapal tentang Iron Brain Medis, selain itu Kun memperlihatkan aku bentuk Iron Brain Medis seperti apa. Aku terkejut dan tidak percaya, bahwa Kun dan karyawannya memproduksi barang sepintar ini.


Setelah menyelesaikan studi singkat tentang robot, aku dan Kun berserta Louis juga sekretarisnya pergi ke lantai 5 tempat dimana launcingnya digelar.


Aku menjadi semakin gugup setelah tahu jumlah pengunjungnya sangatlah banyak. Terlebih para tamu disini adalah tamu terpandang. Aku menarik napas dalam-dalam lalu meraih secangkir minuman yang dibawa oleh pelayan.


"Kau tidak boleh minum ini." Kun merebut gelas ramping itu.


"Kenapa?"


"Ini Sampanye, kau harus ingat kalau kau baru saja dioperasi. Lebih baik minum air putih saja." Katanya menyuruh Louis untuk membawa air putih.


Karena Kun dikelilingi oleh beberapa perempuan karir pada akhirnya ia mengabaikan aku. Aku berdiam diri sembari memperhatikan robot-robot yang melintas. Dari sini aku yakin kalau Kun lebih pintar dari Lucas.


Lucas juga bisa menciptakan robot tapi tidak sebaik Kun. Aku pernah masuk kedalam lab didalam rumahnya, ada banyak sekali kerangka robot yang belum selesai. Dan pada akhirnya Lucas tidak meneruskan ciptaannya itu, dia lebih fokus pada pekerjaannya sebagai dokter.


"Terimakasih." Kataku meneguk air putih itu hingga habis.

__ADS_1


Suara mikrofon diatas mimbar membuatku langsung menoleh, ada seorang pria yang mempersilahkan para hadirin untuk duduk. Setelah itu, Louis membawaku kebelakang panggung. Ada banyak sekali crew yang sedang sibuk. Salah satu crew memasangkan mikrophone handsfree padaku.


Ia juga memberiku sebuah tab transparan. "Woah~." Refleks aku mengeluarkan suara kagum.


Kami briefing sebentar, jujur saja jantungku berdetak sangat kencang. Aku khawatir kalau jantungku jatuh ke rongga perut. Kaki dan tanganku mulai bergetar. Aku menarik napas sembari memejamkan mata, hari ini ku serahkan semuanya pada Tuhan.


Saat naik ke atas mimbar, mataku jatuh tepat pada seseorang yang ku kenal. Seorang pria dewasa, beliau adalah ayahnya Lucas. Aku tersenyum padanya.


Aku berusaha mengontrol diri agar rasa gugupku menghilang. Aku bisa melihat kalau Kun sedang menatap serius padaku. Aku menarik napas dalam-dalam lalu mulai melakukan langkah pertama. Ku sambut semua para hadirin yang berada di aula, tak lupa memperkenalkan diri agar mereka semua tahu bahwa aku pemandu acara selama satu jam kedepan.


Yang terpenting dari acara ini adalah menyanjung sang pencipta robot yakni Kun Qian. Aku ingin sekali memberitahu para tamu tentang sifatnya yang menyebalkan tapi untung saja aku tidak sejahat itu. Aku juga menyambut presdir Rey Qian yang datang sebagai tamu paling penting.


"Pada zaman yang terus berkembang, maju, juga modern ini semua orang jenius berbondong-bondong untuk membuat inovasi yang menakjubkan dan bermanfaat. Salah satunya Kun Qian, pria berusia  29 tahun yang berhasil menciptakan Iron Brain generasi pertama sebagai robot rumah tangga. Iron Brain sendiri diciptakan untuk mempermudah pekerjaan para istri tapi perlu kalian tahu bahwa suamiku itu tidak memberiku Iron Brain untuk membantu pekerjaanku dirumah. Sangat kejam bukan?."


Para audiens langsung tertawa mendengar candaanku. Aku menyeringai pada Kun yang sedang berakting tertawa padahal aku tahu kalau sekarang ini ia kesal karena ucapanku tadi.


Rasa gugupku menghilang begitu saja seiring kepercayaan diri menyelimuti aku hari ini. Aku benar-benar semangat memperkenalkan Iron Brain Medis pada media.


"So~ selanjutnya robot apa yang sudah di ciptakan oleh si jenius presdir II Kun. Ada kah dari para tamu yang tahu? Benar sekali. Perusahaan robot ini sudah menciptakan Iron Brain Medis." Satu detik setelah aku mengucapkan kalimat terakhir, sebuah tirai yang menutupi layar hologram terbuka membuat para hadirin melongo takjub.


"Iron Brain Medis yang berada di hadapan kita semua bukan Iron Brain berbentuk robot seperti biasa. Iron Brain generasi kedua ini memiliki bentuk layar tembus pandang yang sederhana. Tapi, kepintaran program Iron Brain Medis tidak sesederhana bentuknya. Iron Brain Medis ini dikhususkan untuk para dokter yang tentunya akan mempermudah dokter menangani seorang pasien. Cukup melakukan scan seluruh tubuh maka kita semua akan tahu apa yang bermasalah dengan pasien." Aku terdiam sejenak untuk mengambil napas.


"Apakah alatnya akurat? tentu saja 99% sangat akurat. 1% nya akan saya serahkan pada para dokter yang hadir disini. Untuk membuktikan itu semua, saya memerlukan dua orang yang bersedia menjadi percobaan Iron Brain Medis hari ini."


Keadaan jadi hening, mereka saling memandang satu sama lain. Dan tiba-tiba saja Kun berdiri membuat semua orang melihat ke arahnya. Aku terkejut karena tidak percaya bahwa ia mengajukan dirinya sendiri.


"Woah~ beri tepuk tangan untuk keberanian presdir yang satu ini." Kataku membuat gedung kembali ramai.


Kun melepas jas juga dasinya lalu meminta mic pada crew.


"Ku pikir kalian semua takut bahwa ciptaanku ini belum sempurna mengingat beberapa tahun yang lalu ada seorang Insinyur Robot yang gagal dalam memperkenalkan ciptaannya itu. Kalian semua bisa mundur untuk antisipasi hologramnya meledak." Jelas Kun membuatku jadi takut juga. Beberapa dari tamu memilih untuk membuat jarak sekitar 10 - 15 meter.


"Aku perlu minta izin istriku untuk membuka kemejanya, apakah aku boleh melepasnya, sayang?."


Aku memutar bola mata saat Kun menggoda aku didepan para tamu dan media.


"Haha~ tentu saja boleh." Jawabku.


Ia melepas pakaiannya dan.. aku melihat sebuah perban melingkar di tangan kirinya. Ini adalah kali pertama aku melihat tubuh Kun yang sangat indah. Astaga! apa yang aku pikirkan, kenapa otakku jadi mesum begini.


Ia berjalan menuju mesin scan, seorang pegawai mulai menyalakan alat tersebut. Kami semua memperhatikan cara hologram itu bekerja. Ada banyak istilah kedokteran yang sama sekali tidak aku pahami.


Layarnya sangatlah besar sehingga kami bisa melihat semuanya. Yang terdeteksi hanyalah bagian tubuh atas, itu karena Kun hanya membuka bajunya saja. Jika Kun melepas seluruh pakaiannya maka seluruh tubuhnya pun akan ikut terdeteksi. Setelah beberapa menit melewati scan, layar mulai menunjukkan keadaan tubuh Kun. Dari sini, aku tidak lagi memandu acara karena berbeda bagian.


Aku dan Kun kembali ketempat duduk, dengan seksama aku memperhatikan dokter itu berbicara.


"Jantungnya normal, percernaannya juga normal, hanya saja disini terlihat bahwa presdir II Kun Qian seseorang yang merokok."


Aku mengangguk membenarkan ucapan pak dokter.


"Selain itu, semuanya normal kecuali tangan kirinya. Presdir II mendapati luka tembak sekitar 4 hari yang lalu. Disini juga di beritahu pistol jenis apa yang di gunakan yaitu pistol xxxx. Woah~ bagaimana bisa alat ini sangat detail dalam memberi informasi?."


Semua orang termasuk aku tertawa melihat pak dokternya saja takjub dengan Iron Brain Medis.

__ADS_1


Acaranya berjalan dengan lancar dan aku kembali ditemani oleh Louis sementara Kun sibuk dengan rekan-rekan bisnisnya. Sesekali media mewawancarainya. Tiba-tiba saja hatiku merasa sesak, kenapa Kun tidak memperkenalkan aku pada media seperti ia memperkenalkan aku pada teman kerjanya di lantai 8 tadi?.


to be continue....


__ADS_2