My Robot Engineer

My Robot Engineer
Episode 7


__ADS_3

Sarah Pov :


"Astaga, anak itu benar-benar tidak punya tanggung jawab. Apakah suamimu itu tidak mengerti dengan ucapan ayah?."


Aku terdiam saja selagi ayah mengoceh kesal pada Kun, bukan hanya ayah yang kesal tapi aku juga. Dia bahkan tak merasa bersalah sudah mengabaikan panggilanku. Dasar pria menyebalkan!.


"Sudahlah, kita harus bersyukur setidaknya Kun membayar dan memberikan ruangan yang bagus untuk Sarah."


Sepertinya hanya ibu yang bisa mengambil hikmah dari sikap buruknya Kun.


Tidak lama setelah aku dipindahkan keruangan VIP ayah dan ibu pulang karena aku memiliki penjaga khusus yang diberikan oleh Kun. Dia benar-benar memberi fasilitas mewah untukku. Penjaga itu bernama Louis yang kepanjangannya adalah Louis Eiden.


"Panggil saya jika nona membutuhkan sesuatu." Katanya menutup pintu.


Aku tidak tahu harus bersyukur atau mungkin merasa terpuruk dinikahi oleh Kun. Kehidupanku benar-benar menjadi sangat mewah terlebih saat aku mengalami sakit seperti ini. Dia membayar biaya rumah sakit, memberi ruangan yang berkelas dan juga seorang penjaga lelaki dengan tubuh yang tegap dan atletis. Aku benar-benar tak punya rasa senang mendapatkan kehidupan kaya seperti ini, aku merasa berhutang padanya.


Kayaknya aku benar-benar seorang beban.


Beberapa menit kemudian Lucas tiba untuk mengecek keadaanku. Sebenarnya dia bukan dokter yang mengurusi aku tapi aku senang karena Lucas begitu peduli dan perhatian.


"Uangku kembali, apakah ada seseorang yang membayar biaya operasimu?" Tanyanya langsung. Ia mengecek infusanku.


"Ya~ bosku yang membayarnya." Jawabku berbohong.


"Ah, aku pikir kekasihmu." Seru Lucas membuatku hampir bereaksi terkejut.


"Bagaimana? apakah sudah membaik?"


"Tidak juga, perutku masih sakit dan sepertinya sekujur tubuhku juga ikut di operasi."


Lucas terkekeh mendengar candaanku. "Tubuhmu pegal-pegal karena efek samping dari operasi yang lama. Kau harus banyak istirahat." Lucas mengusap kepalaku dengan lembut.


Tatapannya selalu membuatku hanyut dalam kenyamanan, aku tahu bahwa aku mencintai Lucas tapi setelah pernikahan konyol itu, aku merasa bahwa perasaanku pada Lucas adalah sesuatu yang tidak wajar. Seolah aku harus berhenti mencintainya.


Aku belum memberitahu tentang pernikahanku, aku benar-benar takut kalau Lucas membenciku. Apa yang harus aku lakukan?.


"Kau harus cepat pulih agar kita bisa pergi jalan-jalan." Tangannya masih mengelus kepalaku.


"Memangnya kau mau membawaku kemana?"


"Rahasia." Katanya menempelkan jidatnya di jidatku. Dan kalian tahu bagaimana jantungku? tentu saja tidak aman. Bagaimana jika jantungku copot karena wajah Lucas begitu dekat dengan wajahku?.


"Nona~ Tuan Kun berada disini." Suara Louis mengagetkan aku dan Lucas.


Kun tengah berdiri diambang pintu memperhatikan aku dan Lucas. Wajahnya datar seperti biasa.


"Apakah aku mengganggu pemeriksaannya?" Kun meledek.

__ADS_1


"Sedang apa kau disini?"


Aku terkejut untuk kedua kalinya, apakah Lucas mengenal Kun?.


"Menjenguk istriku."


Mataku langsung melotot, bodoh kenapa Kun mengatakan itu?!.


"Istri? Sepertinya kau salah ruangan." Ujar Lucas memasukkan kedua tangannya kedalam saku jas putih.


Kun tersenyum kecil lalu berjalan mendekat keranjangku, ia juga mengisyaratkan pada Louis untuk menutup pintu.


"Kau tidak memberitahu dokter ini kalau kau sudah menikah dengan seorang pria kaya raya?."


Aku mengatupkan bibir tidak menjawab pertanyaannya Kun, bisa-bisanya dia sombong dalam keadaan seperti ini.


Keduanya saling menatap dengan tajam, sebenarnya apa yang ada dibenak Kun? Kenapa dia membuatku marah. Suara alarm dari jam tangan Lucas membuyarkan atmosfer dingin ini. "Aku butuh penjelasanmu, Sarah." Katanya menundukkan kepala lalu melenggang pergi.


Setelah Lucas pergi, aku menatap Kun, marah. Dia berlagak seolah tidak terjadi apapun. "Kenapa kau berbuat seperti itu?" Tanyaku menyentuh perut yang terasa sakit.


"Apa? memangnya aku berbuat apa?" Ia berlagak tidak melakukan kesalahan.


Aku sangat marah tapi lagi-lagi harus ditahan karena dia sudah berjasa untukku.


"Kenapa kau kembali?"


"Kau punya bisnis disini?" Tanyaku lagi, dengan susah payah aku membuka kantung tersebut. Disana terdapat sebuah kotak berwarna hitam.


"Apa ini?" Ku buka kotak tersebut dan terkejut dengan apa yang aku lihat. Sebuah ponsel unik yang sering ku lihat di film-film ada dalam genggamanku sekarang.


"Ponsel ini baru keluar dari pabrik teknologi milikku. Masih tahap percobaan, dan aku ingin kau memakainya."


Aku berdesis. "Kau menyuruhku menggunakan barang yang belum sempurna? sebegitu bencinya padaku?." Aku langsung sewot saking kesalnya.


"Penggunaan barang dari tangan wanita dan laki-laki itu berbeda. Sejauh ini wanita bisa menggunakan barang dengan sangat apik. Dan aku ingin tahu sekuat apa ponsel ini ditanganmu. Kau tidak perlu khawatir jikalau ponselnya meledak, kantorku akan langsung ganti rugi." Jelasnya meraih ponsel yang sedang ku genggam. Ia memberitahu aku bagaimana cara menggunakannya.


"Biarku jelaskan terlebih dahulu, ponsel ini bukan ponsel pada umumnya. Didalam ponsel ini terdapat gps dan nomor darurat. Nomor daruratnya adalah 272, nomor itu akan langsung terhubung pada Louis, Sekretaris Kim, dan aku. Kau hanya perlu tekan tombol 1 saat dalam keadaan darurat. Kau juga bisa menekan tombol 3 disaat kau tersesat, maps didalam ponsel ini memiliki fitur yang realistis. Terakhir, jika kau dalam keadaan terluka dan sebagainya kau hanya tinggal menekan emotikon +. Disana akan keluar cara mengatasi semua luka bahkan patah tulang sekalipun...."


Aku hanya berkedip selagi mendengarkan penjelasan yang begitu panjang. Aku tidak paham sepenuhnya tapi aku mengangguk saja.


"Apakah aku akan dalam bahaya?" Tanyaku karena sepertinya ponsel itu dirancang untuk keadaan darurat saja.


"Entahlah~ kau sudah menikah denganku dan aku ini memiliki musuh yang banyak. Mungkin saja kau diculik lalu disandera dan dibunuh, itu bisa saja terjadi padamu."


Ku lempar kantong cokelat padanya, bisa-bisanya dia dengan santai menjelaskan hal buruk padaku.


"Well~ aku harus pergi ke suatu tempat di rumah sakit ini. Nikmatilah ponsel barumu." Kun beranjak dari kursi lalu pergi keluar ditemani oleh seseorang yang pasti bukan Louis.

__ADS_1


Aku memperhatikan ponsel tersebut, sesekali memijat-mijat tombol yang tidak aku ketahui. Jujur saja, aku agak takut menggenggamnya karena ponsel ini setengah kaca dan transparan. Hebat sekali pabrik teknologi milik Kun itu, aku jadi penasaran dengan IQ yang dimiliki olehnya. Mungkinkah melewati batas cerdasnya Lucas?.


Ah! aku lupa dengan Lucas. Aku harus segera menjelaskannya sebelum Lucas benar-benar marah padaku. Aku memanggil Louis untuk membantuku, awalnya dia enggan mengikuti permintaanku tapi pada akhirnya menurut juga.


"Nona.. Nona baru saja selesai menjalani operasi, tidak seharusnya nona berkeluyuran seperti ini." Louis mengomeli aku.


"Ada yang lebih penting dari pada keadaanku sekarang." Ucapku mencari keberadaan Lucas.


Louis mendorong kursi rodanya dengan lambat dan aku tidak suka. Tapi jika cepat-cepat, maka Louis bisa dimarahi oleh suster dan dokter.


Tepat di penghujung lorong, aku melihat punggung Lucas. Dia sedang sibuk membaca sebuah kertas. Ku panggil namanya dan Lucas memberi reaksi terkejut. Ia marah karena aku turun dari ranjang, Lucas sama seperti Louis. Mengomeli aku sampai aku kesal. Kenapa hari ini semua orang mengomel padaku?.


"Louis, bisakah kau meninggalkan kami?"


"Maaf nona saya tidak bisa menuruti keinginan nona. Tuan Kun melarang saya meninggalkan nona dengan orang asing." Katanya membuatku terkesiap.


"Lucas bukanlah orang asing, dia temanku. Kau harus percaya padaku."


Akhirnya Louis mengangguk, ku pikir dia benar-benar pergi tapi ternyata tidak. Louis memantau dari kejauhan.


"Sepertinya penjagamu itu menganggap aku seorang penjahat." Lucas berkata dengan wajah yang muram.


"Ah~ itu karena Louis baru berkerja hari ini. Itu sebabnya dia sangat hati-hati." Aku mencoba memperbaiki suasana hatinya.


Lucas terdiam menatap lurus ke arah gedung rumah sakit diseberang. Sepertinya dia benar-benar marah padaku.


"Cuaca malam ini enak sekali...


"Sejak kapan kau dan Kun menikah?" Sergah Lucas.


Aku bergeming sesaat mencoba merangkai kata agar tidak salah tanggap.


"Sekitar lima hari yang lalu."


"Apakah itu perjodohan atau kalian memang saling mencintai?" Lucas menoleh ke arahku.


Aku menggeleng pelan. "Tidak keduanya."


Aku bisa melihat kalau keningnya Lucas berlipat-lipat kebingungan.


"Aku tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa, pernikahan itu terjadi begitu saja. Kami tidak benar-benar saling mengenal, kau tahu? Pernikahan itu terjadi bersamaan dengan pernikahan kakaknya Kun. Dia menarik tanganku ke altar dan menyuruhku untuk mengucapkan janji. Setelah itu kami resmi menjadi sepasang suami istri. Aku sendiri sulit mengartikannya."


Lucas masih senantiasa menatapku, ia tersenyum seolah memahami perasaanku. Perlahan, Lucas memelukku menarik tubuhku kedalam dekapannya. "Kau pasti melewati hari yang sulit." Gumamnya membuatku menangis karena terbawa suasana.


Mendadak perasaanku menjadi sedih saat Lucas memelukku. Sepertinya aku terlalu sering menyembunyikan rasa sedih sehingga saat seseorang memeluk tubuhku, rasanya begitu nyaman dan hangat.


Sarah Pov End.

__ADS_1


To be continue....


__ADS_2