
Sarah Pov :
"Aku akan menggunakan kamar, kau tidur di sofa saja." Kata Kun masuk kedalam kamar lalu menguncinya.
Aku mematung untuk beberapa saat karena tidak habis pikir, dia benar-benar kejam dan tak punya hati. Tak ada rasa kasihan sedikitpun untukku, dengan entengnya Kun menyuruhku tidur di sofa. Dasar lelaki menyebalkan. Malam ini rasa benciku padanya bertambah.
"Nona...saya..sudah..menye..lesaikan...semua..pekerjaan...rumah." Tiba-tiba saja Algard muncul di belakangku.
"Terimakasih." Kataku menghempaskan tubuh ke atas sofa. Ku nyalakan televisi untuk menemani malam sunyi ini. Sesekali aku melirik ke arah pintu kamar karena tidak mendengar suara didalam. Apakah Kun sudah tidur?.
Aku tidak tahu bagaimana semalam aku bisa tidur tapi yang pasti tubuhku pegal-pegal dan kram disana-sini karena tidur di atas sofa yang kecil. Sofanya memang empuk tapi tidak efisien dipakai tidur.
Satu hal saat terbangun, mengecek handphone barangkali ada pesan masuk. Mataku langsung terbuka lebar saat melihat pesan dari Lucas. Cepat-cepat aku mengecek jam tangan lalu berlari masuk kedalam kamar mandi yang tidak ku ketahui ternyata ada Kun disana. Sontak aku langsung berteriak begitupun dengan Kun. Ia langsung teriak-teriak memarahi aku.
Aku lupa kalau Kun menginap di apartemen.
"Cepatlah! Aku bisa terlambat menemui temanku!." Aku menggedor-gedor pintu karena Kun tidak kunjung keluar setelah 15 menit berlalu.
Saat ia keluar dengan cepat aku masuk kedalam mengabaikan ocehannya yang membuatku jengah pagi-pagi. Lucas tak suka dengan orang yang lambat maka dari itu aku memanfaatkan waktu yang tersisa. Aku tak mungkin keramas karena butuh waktu yang lama untuk mengeringkannya. Ku pakaikan saja vitamin rambut agar sedikit wangi dan tidak kusut.
Aku juga tidak punya kesempatan memilih pakaian yang cantik maka dari itu ku pilih dress yang ku pakai pada saat menghadiri pernikahan kakaknya Kun yang dimana itu juga adalah hari pernikahanku dengan Kun.
Ku poles wajahku dengan make up agar lebih cerah dan fresh, tak lupa menyemprotkan parfume ke seluruh pakaian.
"Bolehkah aku menumpang? sampai halte, setelah itu aku akan naik bus." Kataku terengah-engah setelah mengejar Kun yang berada di dalam lift.
Dia memperhatikan aku sejenak lalu mencubit hidungnya. "Parfumemu menyengat." Gumam Kun membuatku langsung mengendus-endus. Sial, yang dikatakan Kun benar. Aku terlalu banyak menyemprotkan parfume.
"Aku tak bisa memberimu tumpangan." Katanya keluar dari lift.
Aku melotot kesal. "Ayolah, jangan kejam sehari ini saja. Aku benar-benar butuh tumpangan." Dengan tergopoh-gopoh aku membuntuti Kun dari belakang. Tapi lelaki itu mengabaikan aku, dia masuk kedalam mobilnya lalu menyalakan mesin.
__ADS_1
"Yak! Beri aku tumpangan! Aku akan membayarmu! Ku mohon!. Hey! Kun! Ku mohon beri aku tumpangan!." Aku terus-terusan menggedor jendela mobilnya tapi ia tidak membukanya bahkan melirik ke arahku pun tidak.
Sampai pada akhirnya mobil itu melaju meninggalkan aku di basement. "DASAR PRIA MENYEBALKAN! KU SUMPAHI MOBILMU ITU MASUK JURANG!." Napasku terengah-engah karena berteriak dengan emosi.
Ku telan ludah agar tidak terlalu kesat. "Hah~ aku tak habis pikir dia itu adalah suamiku. Tidak~ tidak, dia bukan suamiku. Kami tidak pernah mendaftar ke KUA." Kakiku mulai melangkah berjalan menuju halte sembari mulut yang tidak berhenti mengoceh.
Aku tak bisa menggunakan taksi karena biayanya terlalu mahal. Aku butuh uang itu untuk membeli makanan sehari-hari karena Kun masih belum membayar upah ternak.
Sepertinya pertemuanku dengan Lucas akan sedikit kacau hari ini. Aku bersyukur karena sudah menyemprotkan banyak sekali parfume. Setidaknya keringatku tidak akan tercium oleh Lucas nanti. Aku turun dari bus lalu mulai berjalan menuju restoran titik utama kami bertemu.
Senyumku merekah saat melihat Lucas dari kejauhan, ia sedang duduk sembari melihat ke arah ponsel. Ia tampak sangat tampan dengan stylenya yang fashionable. Lucas seperti model walau kenyataannya ia adalah seorang dokter.
Itu sebabnya aku tak bisa terlambat karena Lucas pasti akan segera kembali ke rumah sakit.
Lucas melempar senyumannya padaku, ia berjalan menghampiriku lalu memboyongku sampai ke meja makan. "Terimakasih." Seruku tersipu malu.
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama." Kataku menyesal.
Aku terdiam memikirkan jawaban apa yang harus aku berikan pada Lucas. Dia belum tahu kalau aku menjalankan sebuah pernikahan konyol dengan Kun. Aku bersyukur karena Lucas tak punya waktu untuk melihat televisi atau bermain sosial media, bagaimanapun juga hubunganku dengan Lucas tidak boleh berakhir. Ya walaupun kami masih berteman sekarang ini.
"Kau baik-baik saja?" Lucas menyentuh keningku.
"Aku baik-baik saja, maaf sebelumnya karena aku jarang mengabari dan memberitahu kau tentang kepindahanku. Aku hanya merasa harus hidup mandiri mulai saat ini." Jelasku dengan sangat hati-hati. Lucas memperhatikan aku lalu mengangguk mengerti.
"Kau sudah dewasa sekarang." Pujinya mengusap kepalaku dengan lembut.
Aku selalu senantiasa mendengarkan cerita dari Lucas. Kesehariannya sebagai dokter dan juga menceritakan pertemuannya dengan bermacam-macam pasien yang membuatku tertawa. Katanya, dia lelah tapi senyuman dari para pasien membuatnya selalu kembali semangat.
Lucas menceritakan banyak hal padaku, sampai pada akhirnya jam tangannya berbunyi memberitahu bahwa ia harus segera pergi bekerja. Walaupun sedang terburu-buru, Lucas bersikeras mengantarku pulang. Aku tak bisa memberi alamat apartemen sehingga aku meminta untuk diantar kerumah ibu saja.
"Aku senang karena bisa berbagi cerita lagi denganmu." Katanya berhenti tepat di gerbang putih rumahku.
__ADS_1
Aku tersenyum lembut menanggapi Lucas. "Tidak perlu sungkan, aku juga senang karena bisa mendengarkanmu."
Lucas mengangguk lalu menyentuh tanganku. "Kau sangat cantik hari ini." Kata Lucas lambat-lambat.
Aku terdiam untuk beberapa saat. Rasanya seperti tersambar petir saat mendengar Lucas memujiku.
Sepertinya aku tak bisa menahan rasa bahagia, aku tersenyum malu-malu dihadapannya dan itu membuat Lucas gemas. Aku keluar dari mobilnya lalu melambaikan tangan saat mobil merah itu melaju pergi.
Aku masih terbawa arus kesenangan sampai-sampai tidak menyadari keberadaan ayah. Beliau tengah berdiri disampingku sembari memperhatikan mobil Lucas yang terus menjauh.
"Apakah dia suamimu?" Tanyanya membuatku langsung membelalakkan mata.
"Em..oh... ya dia suamiku." Oh Tuhan dan ayah maafkan aku karena sudah berbohong.
"Kenapa tidak kau ajak masuk kedalam?"
"Ah~ Kun itu orang yang sibuk. Ayah tahu sendirikan bagaimana pekerjaannya."
"Jika memang dia sesibuk itu, kenapa memiliki waktu untuk menikahimu?"
"Ehh?!." Suaraku melengking karena terkejut. "Kenapa ayah berkata begitu? memangnya orang sibuk tidak boleh menikah?"
"Bukan itu yang ayah masalahkan. Suamimu itu tidak punya sopan santun sama sekali. Dia tidak pernah menghadap pada ayah dan ibu untuk izin menikahimu. Astaga~ dia pikir negara ini adalah negara bebas? setidaknya hargai ayah dan ibumu. Bagaimanapun juga kau masih punya orang tua, dan restu orang tua itu penting." Jelas ayah dengan nada marah namun santai. Beliau masuk kedalam rumah sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Bagaimana caranya aku mengatakan pada ayah kalau pernikahanku dan Kun itu hanyalah untuk status dimedia. Aku sudah tidak khawatir dengan ibu karena beliau tahu tapi ayah? tadi saja reaksinya sangat menyeramkan.
Selain itu sepertinya aku akan kesulitan untuk meminta Kun menjelaskannya pada ayah. Jika dilihat-lihat kepribadian ayah dan Kun itu mirip. Sama-sama tidak mau kalah.
Sarah Pov End.
to be continue...
__ADS_1