
Kun Pov :
"Kau sudah dapat data dari rumah sakit?" Aku bertanya pada Hendery lewat telfon.
"Kita bicarakan ini lagi nanti. Aku sudah sampai kantor." Ku matikan panggilan sembari memutar stir menuju basement kantor.
Tempat parkirku terbilang pribadi dan privasi sehingga agak jauh dari parkiran biasanya. Aku tak mau ada yang menggores atau menyentuh mobil kesayanganku. Begitupun dengan lift. Lift khusus untukku berwarna keemasan, tentunya akses tersebut hanya untukku.
Seharusnya aku diantar oleh supir tapi karena semalam menginap di apartemen jadinya aku menyetir sendiri.
Ku tekan tombol lantai delapan, perlahan liftnya bergerak. Ku lirik jam tangan menunjukkan setengah delapan pagi.
"Kenapa Sarah buru-buru sekali tadi?" Aku bergumam sendirian mengingat tadi pagi Sarah begitu sibuk dan buru-buru.
"Kenapa pula aku harus memikirkannya." Kakiku melangkah keluar dan bertemu dengan beberapa robot yang bertugas di lantai khusus untukku.
"Selamat pagi tuan Kun, bagaimana pagi anda? apakah anda sudah sarapan?" Iron Brain dengan suara perempuan menyambut pagiku.
Robot ini adalah robot yang masih dalam masa percobaan. Ku pikir cara bicaranya benar-benar seperti manusia, terlebih ku program suara Iron Brain perempuan dengan suaranya Ayana.
"Pagiku baik-baik saja. Apakah ada seseorang yang mengunjungi lantai ini?" Aku berjalan menuju meja kerjaku.
"Tidak ada." Jawabnya mengikuti langkahku.
"Well~ biarku lihat program apa yang benar-benar bekerja didalam dirimu." Ku masukkan password setelah itu layar hologram cukup besar muncul dihadapanku.
Aku mengerutkan alis saat melihat sebuah file dengan judul "Pertahanan Diri". Seingatku, aku tak pernah merancang Iron Brain yang masih dalam tahap demo dengan program "Pertahanan Diri".
Mungkinkah Ayden yang memasukkan programnya?. Aku mengangkat bahu tidak peduli. Setelah ku lihat-lihat, banyak sekali yang harus di perbaiki. Bahkan menurutku Algard lebih sempurna dari Iron Brain yang ini. Ya walaupun Algard hanya di rancang sebagai robot rumahan biasa.
Aku berjalan menuju pantry untuk membuat kopi, aku sengaja tidak menggunakan segala teknologi canggih agar tubuhku tetap bergerak. Saat sedang menyeduh, mataku jatuh pada box kecil. Tidak ada nama pengirim dan informasi lainnya. Ku bawa kopi dan box ke meja, ku raih pisau untuk membuka lakban. Tapi tiba-tiba saja Iron Brain mendeteksi sebuah kejahatan. Sontak, aku refleks melihat ke arah pintu masuk. Tak ada apapun.
"Kejahatan Terdeteksi." Katanya lagi. Iron Brain terdiam menatapku dengan sinar mata yang berubah menjadi merah.
Mataku membelalak baru sadar bahwa kejahatan yang terdeteksi oleh robot itu adalah diriku.
Salah satu tangannya mengangkat, jari-jarinya mengepal. Dan..
__ADS_1
"Oh ****!." Aku menundukkan kepala menghindari serangan dari Iron Brain. Suara ledakan kecil terdengar, peluru itu menghantam lemari buku.
Dia berjalan ke arahku dengan tangannya yang sibuk mengisi peluru. Sial, siapa yang merancang robot ini menjadi robot perang?.
Aku berlari menuju meja letaknya tombol darurat. Lantai khusus ini di bangun dengan tembok yang kedap suara. Bahkan kaca-kacanya tidak tembus pandang dari luar.
"Kejahatan Terdeteksi." Iron Brain terus mengeluarkan kalimat ancaman. Aku mencari tahu apa penyebab ia menyerangkanku.
"Mungkinkah karena aku memegang pisau?" Tanyaku saat sadar masih menggenggam pisau.
"Kau marah karena ini?"
"Kejahatan Terdeteksi." Jawabnya kembali mengulurkan tangan lalu menembakkan beberapa peluru padaku. Aku tak bisa menghindari serangannya sehingga beberapa peluru masuk kedalam lengan kiriku.
Aku berlari untuk kembali menghindarinya, tepat di meja tombol darurat. Aku menunduk lalu menekan tombol tersebut untuk memberi sinyal pada Ayden bahwa aku butuh bantuan.
"Dasar robot sialan, kenapa pula dia menyerang majikannya!." Gerutuku melempar pisau kesembarang arah. Napasku terengah-engah, jantungku masih berdetak dengan kencang merasa takut dengan ancaman dari robot yang belum sempurna.
"Akh!." Aku meringis merasakan sakit.
Pandanganku masih waspada barang kali Iron Brain berada tepat dibelakangku. Aku tak mendengar suara tembakan kecuali roda kaki robot. Aku mengintip dan mendapati Iron Brain berada di dekat pisau yang ku lempar. Satu detik kemudian, robot itu meledakkan pisaunya. Aku menganga tidak percaya, kenapa dia begitu sensitif dengan benda tajam sekecil itu?.
Dia menganggapku sebagai tuan tapi tetap menyerang diriku?. Aku yakin ada yang salah dengan programnya.
"Mungkinkah file 'Pertahanan Diri' itu penyebabnya?. Aw!." Aku kembali merasakan denyutan dilengan.
Ku buka jas dan juga kemeja untuk melihat seberapa parahnya luka yang ditorehkan oleh Iron Brain. Lukanya tidak besar tapi cukup dalam.
...**** ...
"Untung saja jenis pelurunya adalah peluru kecil yang biasa digunakan untuk berburu tikus atau mungkin burung liar, sebab jika peluru besar kemungkinan besar darah Tuan Kun akan habis." Jelas Dr. Trian
"Lalu kenapa sangat sakit?"
Dr. Trian tersenyum. "Yang namanya luka pasti akan sakit, tuan. Walaupun pelurunya kecil, sepertinya kekuatan pistol tersebut besar, sehingga lukanya bisa sangat dalam. Beruntung tuan tidak terluka parah."
Aku mengangguk mengerti. Ku pakai kembali kemeja putih yang sekarang tak lagi bersih karena ada bercak darah.
__ADS_1
"Kau yang memberi program pertahanan diri padanya?" Aku berjalan mendekati Ayden dan Felix yang sedang menelanjangi tubuh Iron Brain.
"Kami tak menambahkan program yang buruk seperti ini." Jawab Ayden membuatku semakin bingung.
"Lantas siapa yang melakukannya? tidak mungkin robot itu membuatnya sendiri."
"Bagaimana jika ternyata Iron Brain ini mengalami kesalahan yang membuatnya memiliki otak melewati batas program?" Pernyataan Felix membuatku menghela napas.
"Kau terlalu banyak menonton film. Itu tidak akan benar-benar terjadi." Ujarku meraih tangan kanan Iron Brain dan memperhatikan pistol yang tertanam disana.
Di setiap kantor pastinya perlu izin terlebih dahulu untuk membuat robot yang memiliki senjata dan aku tak mendapat laporan mengenai robot yang dibuat dengan pistol didalamnya. Apalagi robot ini masih tahap demo, sistemnya belum benar-benar 100%. Seandainya robot itu mengalami kerusakan, sudah di pastikan tak main-main resikonya.
Yang membuatku kebingungan adalah, kenapa dia mendeteksi diriku sebagai ancaman? sudahku katakan aku adalah tuannya, sekalipun aku memegang pisau atau mungkin pistol. Dia tak akan menyerangku.
"Lepas pistol ini. Aku perlu membawanya." Perintahku pada Ayden.
Sesampainya dirumah, aku langsung merebahkan diri. Aku dilarang untuk mandi dengan alasan luka yang masih basah. Padahal, aku ingin sekali merendam tubuh.
Tiba-tiba saja pintu kamarku terbuka, aku menoleh dan mendapati Ayana tengah berdiri diambang pintu. Dia tersenyum padaku.
"Aku membawakan makan dan minum untukmu." Katanya menutup pintu lalu berjalan ke dekatku dan bergabung duduk di atas ranjang.
"Kau tak seharusnya melakukan ini padaku." Aku langsung menggertaknya.
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya seorang ibu lakukan."
Aku langsung tertawa hambar mendengar ucapannya. "Kau menganggap dirimu seorang ibu? Astaga~ aku benar-benar tidak percaya kalau perempuan yang bahkan lebih muda dariku bisa menjadi ibuku." Ayana menundukkan wajahnya setelah mendengar jawabanku. Secercah rasa bersalah langsung menyelimuti diriku, sepertinya aku tidak mengontrol kekesalanku.
"Maaf, karena aku sudah mengkhianatimu." Katanya tiba-tiba.
"Kau boleh marah dan tidak percaya lagi padaku tapi satu hal yang perlu kau tahu. Aku tetap akan mencintaimu, sampai kapanpun..."
Kun Pov End.
to be continue...
__ADS_1
(Sumber : Pinterest - Hologram Sci-fi)