
"Saya mendapat kabar kalau nona Sarah kecelakaan. Saya tidak tahu kalau ternyata nona Sarah pergi keluar sendirian. Maaf kan saya tuan."
Mendadak aku terdiam, aku tidak bisa berpikir apapun. Kenapa Sarah harus kecelakaan disaat-saat jam penting begini. Sampai akhirnya aku mematikan panggilan dari Louis dan menelfon pelayanku yang lain. "Siapkan tiket pesawat sekarang juga, aku harus pulang ke Korea." Kataku tergesa-gesa.
"Tuan, anda akan pulang? Bagaimana dengan meetingnya?" Sekretaris Kim terkejut.
"Ku serahkan padamu." Kataku berjalan ke dekat mobil tapi Ayana menarik tanganku.
"Kau gila? Kau akan membiarkan kesempatan emas ini lebur begitu saja? bukankah kau ingin proyeknya berjalan dengan lancar?."
Aku terdiam lagi. Yang dibicarakan Ayana benar, kesempatan ini mungkin tidak bisa ku dapatkan dua kali. Tapi, bagaimana dengan keadaan Sarah? disana hanya ada nenek yang menggunakan kursi roda sementara Louis, bahkan dia tidak becus menjaga Sarah.
"Tuan~ Tiketnya sudah siap." Sekretaris Kim memberitahu.
Ku padangi Ayana dan sekretaris Kim secara bergantian. "Kalau begitu kita selesaikan meetingnya terlebih dahulu setelah itu aku akan pulang." Jelasku membuat keduanya merasa lega.
Sementara aku, selama meeting aku terus mengecek ponsel untuk mengetahui kabar dari Louis tentang Sarah. Ayana menegurku dan memintaku untuk fokus pada meeting.
Esoknya kami semua terbang untuk kembali ke Korea dan langsung pergi ke rumah sakit.
Louis membungkuk padaku, wajahnya tampak biasa saja. "Dimana Sarah?" Tanyaku.
"Nona Sarah sedang pergi ke toilet." Jawabnya.
"Apakah Sarah terluka parah?" Ayah bertanya.
"Nona Sarah tidak...
"Oh! kau sudah pulang." Kehadiran Sarah membuat bibirku terkatup.
Ku pandangi tubuhnya dari atas hingga bawah. "Kau bilang Sarah kecelakaan lalu kenapa dia terlihat baik-baik saja?" Aku meminta penjelasan pada Louis.
Sarah berjalan selangkah. "Ah~ biarku jelaskan.. Bukan aku yang kecelakaan tapi orang lain, aku membantunya dan ponselku tertinggal dijalanan sehingga saat Louis menelfon, seseorang yang menemukan ponselku memberitahu Louis bahwa aku kecelakaan. Itu hanya salah paham. Aku baik-baik saja." Jelas Sarah sembari tersenyum tapi tiba-tiba saja suara tamparan terdengar jelas.
Ayana menampar pipi Sarah dengan sangat keras.
Kun Pov End.
Sarah Pov.
Kupingku berdengung sangat kencang membuat kepalaku terasa sakit. Pipiku panas akibat tamparan dari Ayana. Kenapa dia menamparku tanpa sebab?.
"Kau bisa tersenyum seperti itu setelah menghancurkan harapan Kun? Karena kabar kecelakaanmu, Kun tidak berhasil bekerja sama dengan perusahaan Hikun II. Itu karena dia gelisah memikirkanmu sehingga pikirannya tidak berjalan dengan lancar saat meeting. Karena kau Kun tidak akan bisa mengerjakan projek robot barunya. Seharusnya kau malu bukannya tersenyum seperti itu!."
Kata-kata Ayana membuatku menyesal, aku tidak tahu bahwa kesalah pahaman itu bisa berdampak sangat buruk untuk perusahaan Kun. Aku mengusap air mata sembari menunduk, aku tidak bisa menatap mereka semua. "Maafkan aku." Gumamku menggigit bibir. Ya Tuhan, sepertinya aku memang pembawa sial untuk Kun.
"Aku tidak percaya kau menikahi wanita bodoh seperti dia!." Setelah mengatakan itu Ayana pergi.
"Sudah lebih baik kita pulang, jangan pikirkan ucapan Ayana. Dia hanya kelelahan makanya seperti itu." Ayah mertua mengusap pundakku lalu pergi menyusul Ayana.
Aku menyesal sudah tersenyum senang karena melihat kedatangan Kun tadi. Seharusnya aku cuek saja, setidaknya perasaanku tidak akan seburuk sekarang. Lalu bagaimana caraku mengatasi perusahaan Kun yang gagal bekerja sama dengan Hikun II. Ku dengar dari nenek kalau Kun sangat ingin bekerja sama dengan perusahaan senjata itu tapi ternyata kerja samanya ditolak karena ulahku.
"Kau akan terus menunduk seperti itu?" Kun bertanya.
Aku mengangguk sembari mengusap air mata yang terus mengalir.
"Ayo pulang kerumah." Katanya menarik tanganku tapi aku enggan untuk bergerak.
"Harus ku gendong atau kau jalan kaki sendiri?"
Kakiku langsung melangkah saat ia berkata demikian. Akan sangat canggung jika Kun benar-benar menggendongku.
__ADS_1
Di dalam mobil aku terus memandangi jendela yang lalu lalang kendaraan,benda itu terlihat buram kabur karena bergerak. Dalam benakku, aku tidak mungkin pulang kerumah Kun sebab disana ada Ayana. Mendadak aku jadi takut pada wanita itu terlebih dia berkata dengan penuh emosi padaku. Jika dipikir-pikir kenapa dia semarah itu padaku sementara sang presdir biasa saja. Kun tidak terlihat marah padaku atau mungkin dia menyembunyikannya?.
Aku menoleh padanya sedikit. Sepertinya Kun sangat kelelahan, dia tertidur dengan kedua tangan yang melipat diperut dan tiba-tiba saja perutnya berbunyi. Dia membuka mata dan kami saling menatap dengan cepat aku menghamburkan pandangan kesembarang arah.
"Aku lapar, bagaimana jika kita makan dirumahmu. Aku rindu masakan ibumu."
Sontak aku langsung menoleh sembari menyipitkan mata. "Kau bergurau?" Tanyaku.
"Oh ayolah~ bagaimana mungkin aku bercanda tentang masakan ibumu."
"Bukan, maksudku sejak kapan kau ingin pergi kerumahku? Kau kan takut pada ayahku."
Kun menyentil pelan kupingku membuatku terkejut. "Aku bukan takut pada ayahmu hanya... hanya, sepertinya kami tidak bisa bersama. Ayahmu cerewet dan tidak mau kalah seperti dirimu."
Aku berdesis dan tidak menanggapinya.
Pada akhirnya kami benar-benar pergi kerumah orang tuaku. Kun sangat berbeda, terakhir kali kemari dia bersikap dingin dan cuek. Tapi sekarang, dia berbaur dengan ibuku bahkan membantu beliau memasak. Sementara aku, aku menonton tv bersama ayah sembari menikmati kacang goreng.
"Sepertinya ibumu sangat menyukai si bocah sombong itu."
Aku langsung tertawa mendengar ucapan ayah.
"Kenapa? ayah cemburu?" Tanyaku.
"Tidak sama sekali. Ayah senang karena sepertinya dia mulai berubah." Ujar ayah membuatku langsung memperhatikan Kun.
Mungkinkah yang dikatakan ayah benar? sejak mendaftarkan pernikahan ke KUA, Kun memang sedikit berbeda. Hanya sedikit.
...****...
Karena sudah larut malam dan Louis ada urusan pada akhirnya kami bermalam dirumah orang tuaku.
Aku naik keatas ranjang sembari menarik selimut. "Kau akan tidur diruang tamu?" Tanyaku mulai berbaring.
"Untuk apa? aku bisa tidur disebelahmu." Katanya benar-benar berbaring disisiku.
Tiba-tiba saja detak jantungku bertalu-talu bagaikan drum yang dipukul. Ukuran ranjang dirumahku tidak sebesar dirumah Kun sehingga lengan kami bisa bersentuhan. Aku bisa merasakan kelembutan kulitnya yang dingin. Tubuhku mendadak langsung merinding, aku mengarahkan tubuh ke sisi kanan untuk menghindari Kun.
"Selamat malam." Aku mematikan lampu.
Aku memejamkan mata mencoba untuk tidur tapi upayaku sia-sia, aku tidak bisa tidur satu ranjang dengannya. Beberapa kali aku menarik selimut membuat Kun mendecak kesal.
"Kau ingin menggunakan selimutnya sendirian?" Gertak Kun.
"Maaf." Kataku melonggarkan selimut.
Suasana kembali hening hanya suara jangkrik dan dentingan jam yang terdengar jelas.
"Kau sudah tidur?" Tanyaku sedikit mengintip.
"Belum." Jawabnya menoleh.
"Maafkan aku." Ujarku menyesal perihal pekerjaannya yang menjadi berantakan karenaku.
"Lupakan~ lagi pula itu bukan salahmu." Gumam Kun menyimpan kedua tangannya dibawah kepala. "Jangan pikirkan perkataan Ayana, dia memang seperti itu kalau sedang emosi."
"Sepertinya kau tahu banyak tentang Ayana." Aku menggesekkan kaki ke kakiku.
"Tentu saja karena aku ini pernah menjadi kekasihnya." Aku bisa mendengar nadanya bergetar.
"Kau masih mencintai Ayana?" Tanyaku yang seketika menyesal. Bodoh! kenapa aku harus bertanya begitu, sudah pasti Kun masih mencintainya. Astaga kenapa kau menyakiti dirimu sendiri Sarah!.
__ADS_1
"Sedikit." Jawaban Kun membuatku terkejut.
Untung saja aku mematikan lampu sehingga Kun tidak tahu ekspresiku.
Aku memandangi Kun dengan seksama, sekalipun dalam keadaan gelap seperti ini. Aku masih bisa melihat dengan jelas bahwa Kun itu tampan.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Apa?"
"Em.. tapi janji untuk tidak marah."
Kun mendesah. "Jangan seperti anak kecil. Kau mau bertanya apa?"
"Ish~ janji dulu." Aku memaksa.
"Okey~ janji." Ujarnya pasrah.
Aku tersenyum sedikit lebar. "Kalau boleh tahu~ kenapa Ayana bisa menikah dengan ayahmu?" Tanyaku dan lelaki berkaos putih itu tidak berkutik membuatku takut. "Kau tidak perlu menjawabnya kalau tidak mau." Imbuhku.
"Aku juga tidak tahu, mungkin karena aku tidak sekaya ayahku makanya Ayana lebih memilih beliau." Katanya menguap.
"Hey~ kau merendah untuk meroket kan? Sudah jelas kalian berdua itu sama-sama kaya. Tidak mungkin Ayana memilih ayahmu karena alasan harta."
"Lalu menurutmu Ayana memilih ayahku karena apa?" Kun menguap lagi untuk yang kedua kali.
Aku terdiam ketika Kun melempar pertanyaan seperti itu. Perlahan aku mengangkat bahu. "Tidak tahu~." Kataku menyunggingkan gigi.
Kun tersenyum lalu menarik tubuhku kedalam dekapannya. "Aku sangat lelah karena perjalanan berjam-jam, bagaimana jika kita lanjutkan obrolannya besok pagi, hm?."
Sial, rasanya jantungku mau copot. Kenapa Kun memelukku?. "Em~ okey.. kalau begitu, bisakah kau melonggarkan sedikit pelukkannya?" Tanyaku dan Kun menurut. Dia menarik selimut sampai ke leherku lalu menepuk-nepuk punggungku.
Aku mencoba untuk mengontrol jantung. Kenapa hanya detak jantungku yang berdegup kencang sementara Kun biasa saja. Dia tidak canggung sama sekali. Mungkinkah efek ngantuk berat? entahlah yang pasti kami melewati malam dengan tidur bersama untuk pertama kalinya.
Suara ponsel membangunkan aku. Aku meraba nakas mencari dimana letak ponsel. "Siapa?" Tanyaku masih memejamkan mata.
"Kau belum bangun? ini sudah jam 10 pagi, dasar tukang tidur." Suara Mark membuat mataku terbuka.
Aku langsung melihat jam dan ternyata benar, ini sudah siang. Aku bahkan tidak menemukan keberadaan Kun. Kenapa dia tidak membangunkan aku?. Aku turun dari ranjang lalu berlari keluar kamar tanpa menggunakan alas kaki.
"Kemana perginya Kun?" Tanyaku pada ayah yang sedang menyemprot tanaman.
"Dia sudah pergi dari tadi pagi, astaga lihat anak ayah ini. Seperti beruang yang baru hibernasi."
Aku berdesis ketika ayah meledekku.
"IBU~ Kenapa ibu tidak membangunkan aku tadi pagi?" Aku berjalan ke dapur.
"Kenapa pula ibu harus membangunkanmu? Kau itu seharusnya bangun sendiri. Kau kan sudah menjadi seorang istri, jangan karena suamimu itu memiliki banyak pelayan dirumah, kau malah jadi istri yang pemalas."
"Bu~ aku bukan istri yang pemalas." Kataku meraih piring lalu meletakkan nasi disana.
"Lihat, baru bangun tidur langsung makan. Pergi mandi dulu sana!." Ibu mendorong tubuhku.
Dikamar mandi aku melamun. Apakah aku ini benar-benar sudah menikah dan menjadi seorang istri?. Jika diingat-ingat, kami tidak pernah berhubungan intim. Berciuman pun hanya dua kali dan tidur bersama baru terjadi kemarin malam. Aku juga tidak pernah memasakkan makanan untuknya.
"Astaga apa yang kau harapkan dari pernikahan giveaway ini!." Aku mengacak-acak rambut.
Kau harus ingat Sarah, sekalipun kau dan Kun mulai dekat. Hubungan kalian tak akan lebih dari teman walaupun berstatus sepasang suami istri.
to be continue....
__ADS_1