
Sarah Pov :
"Terimakasih sudah membantuku, akh~." Aku langsung menyentuh perutku yang terasa sakit.
"Lebih baik nona istirahat saja, saya dan Algard yang akan menyelesaikan ini semua." Louis memboyongku untuk duduk di sofa.
Rasanya perutku tersayat setiap kali bergerak, astaga kapan jahitannya akan kering. Aku sangat tidak suka dengan keadaan yang lemah seperti ini. Tiba-tiba saja aku teringat dengan ponsel pemberian Kun.
Ku raih ponsel tersebut dan ku tekan tombol plus lalu mulai mengetik kata 'Usus Buntu' namun layar ponsel itu memberi jawaban.
"NOT FOUND."
Aku langsung melempar ponsel itu ke sofa. "Tidak berguna." Gumamku menyandarkan kepala.
...****...
Kedatanganku membuat nenek senang dan khawatir, sepertinya Kun memberi tahu beliau bahwa aku sudah menjalani operasi. Begitu pun dengan Ayana dan ayah mertua, mereka berdua menyambutku dengan senyuman. Kecuali si pria sombong yang sedang bermain golf. Dia bahkan tidak menyapa aku, ya seharusnya aku tidak heran toh sifatnya memang seperti itu.
"Ponselmu tidak bekerja." Kataku meletakkannya dimeja.
"Benarkah?" Tanyanya sembari mengayunkan stik golf lalu memukul bola kecil itu hingga melayang jauh.
"Kalau begitu ponsel itu produk gagal." Ia meraih sebotol minuman lalu meneguknya.
Aku terdiam saat melihat keringat mengalir ke pipinya dan pandanganku jatuh pada mulutnya yang tebal juga berwarna pink. Bagaimana bisa seorang lelaki memiliki bibir secantik itu?.
"Kau suka dengan bibirku?"
Aku langsung tersadar lalu memalingkan wajah. "Apa yang kau bicarakan." Kataku salah tingkah.
"Karena kau sudah disini sebaiknya kau langsung membersihkan kandang kuda, kasihan kuda-kudaku belum dimandikan."
Ucapan Kun lagi-lagi membuatku terkejut. Dia berhasil membuatku syok.
"Apa? kenapa menatapku seperti itu?."
"Rasakan ini!." Ku injak kakinya sekuat tenaga, Kun berteriak kesakitan dan aku tidak peduli. Aku melangkah masuk kedalam rumah tanpa tahu bahwa Kun mengejarku, dia menarik tanganku dan membenturkan punggungku ke tembok. Tak lupa meletakkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri kepalaku.
Perbuatannya yang kasar membuat jantungku berdetak kencang, takut. Dia menatapku seperti tadi pagi, dimana tatapannya membuatku ciut.
"Kau benar-benar perlu dihukum." Gumamnya terus mendekatkan wajah hingga hidung kami bersentuhan. Sontak aku langsung memejamkan mata, takut.
Aku bisa merasakan napasnya menerpa mulutku. Apa yang akan dia lakukan padaku?!. Aku tidak berani membuka mata dan saking takutnya aku menggigit bibir dalamku hingga berdarah.
"Akh!." Pekikku sakit.
Saat aku membuka mata, Kun tengah memandangi bibirku yang mengeluarkan darah. Dia juga terkejut. "Kenapa kau melukai mulutmu sendiri?." Tanya Kun.
"Utu Karunu kou!." Kalimat yang keluar dari mulutku tidak bisa dimengerti. Aku langsung berlari ke kamar mandi untuk membasuh darah.
__ADS_1
Sialan! Karena Kun aku jadi melukai bibirku. Lagi pula apa yang dia lakukan?. Dia mau membuatku takut atau justru mau menciumku?. Ku raih tisu untuk menyendat darah yang terus keluar.
Saat keluar dari kamar mandi aku tidak menemukan keberadaan Kun. Syukurlah, jika sekarang dia ada dihadapanku sudah ku pastikan Kun tidak aman.
Aku berjalan menuju perkebunan dan peternakan kuda, para pegawai yang sudah mengenalku langsung berseru riang. Aku tidak tahu siapa yang memberitahu mereka tentang operasiku yang pasti mereka mengkhawatirkan aku.
"Untung saja nona tidak sedang hamil, pasti akan sulit menjalankan operasinya kalau sedang hamil."
Aku bergeming, benarkah begitu?.
"Ngomong-ngomong darah bekas apa ini?"
"Ah~ bibirku berdarah karena digigit." Jawabku membuat mereka saling memandang. Aku mencerna lagi ucapanku sampai akhirnya aku sadar apa yang mereka pikirkan.
"Aku yang menggigit bibirku sendiri bukan Kun." Jelasku dan mereka malah tersenyum meledek.
"Astaga~ nona ini lucu sekali jika sedang malu."
Pada akhirnya aku tersenyum kecut menanggapi mereka.
"Nona bisa menunggangi kuda?" Salah satu dari mereka bertanya.
Aku menggeleng dan mereka terkejut.
"Benarkah? Ey~ nona jangan berbohong."
"Tidak, sungguh aku tidak bisa menunggangi kuda." Kataku lalu tiba-tiba saja mereka membungkuk. Aku langsung menoleh kebelakang dan ikut memberi hormat pada ayahnya Kun.
Sementara sang kakak, Dylan Qian menjadi manusia biasa yang tidak mencolok seperti Qian yang lainnya. Ia fokus membuka sebuah restoran yang sekarang sudah bercabang di beberapa negara. Bahkan namanya tidak seterkenal Kun.
Ku akui, keluarga Qian benar-benar keluarga yang sukses. Sekalipun kakaknya Kun hanya membuka restoran, tapi bisnisnya sudah ku pastikan besar.
Aku tersenyum saat ayah mertua melihat ke arahku.
"Sedang apa kau di peternakkan?" Tanyanya membuatku terdiam. Haruskah aku mengadu pada beliau bahwa Kun mempekerjakan aku sebagai peternak?. Tentu saja tidak boleh, Kun bisa mengamuk seperti gorila nanti.
"Aku hanya sedang melihat-lihat Presdir." Jawabku sopan. Samar-samar aku bisa mendengar beliau terkekeh.
"Jangan menyebutku presdir saat dirumah, kau harus memanggilku ayah kecuali ketika kita bertemu di kantor." Jelasnya menyentuh pundakku, sontak aku sedikit terkejut namun tetap tersenyum. Sepertinya aku tidak terlalu suka dengan tatapan beliau, agak mengintimidasi dan.... aku tak mau menyebutnya.
Sekitar 15 detik berlalu akhirnya beliau menjauhkan tangannya di pundakku. Astaga, tubuhku langsung merinding. Aku langsung berpamitan untuk kembali kedalam rumah, aku tak bisa dekat-dekat dengan beliau.
Dan setelah masuk kedalam rumah, aku tersenyum karena melihat Algard. Dia tengah berdiri dengan keadaan yang mati. Aku juga bisa melihat kalau Kun tengah membongkar tubuh belakang Algard.
"Nona, saya sudah memindahkan semua barang nona ke dalam kamar tuan Kun."
"Apa maksudmu kamar Kun?" Tanyaku.
Louis terdiam sembari mengangkat alisnya.
__ADS_1
"Kau tidak memberi kamar terpisah untukku?" Aku langsung bertanya pada Kun.
"Untuk apa? Nenek akan curiga kalau kita tidak sekamar." Katanya masih sibuk pada Algard.
Sial, tahu begini aku tidak akan pindah kerumah ini. Padahal dulu aku dapat kamar sendiri saat pertama kali tinggal dirumah ini tapi sekarang... membayangkannya saja membuatku jengkel. Aku tidak mau tidur satu ranjang dengan Kun.
Malamnya, aku keluar dari kamar mandi dan mendapati Kun sudah tertidur diatas ranjang. Dengan ragu-ragu aku melangkah mendekatinya dan mendaratkan bokong dikasur.
"Tidurlah di sofa~ aku tak bisa tidur dengan orang asing." Gumamnya dengan mata yang masih tertutup tapi bukan itu yang aku masalahkan. Apakah Kun benar-benar tak punya hati? dia selalu menyuruhku tidur di sofa dan ingin menggunakan ranjangnya sendirian.
"Dasar pria brengsek!." Gerutuku nyaris tanpa suara.
"Aku mendengarnya." Kata Kun membuatku mendelik.
Aku beranjak dari kasur ke sofa, baru saja meraih remot tv.
"Jangan nyalakan televisinya, berisik." Serunya menjengkelkan. Aku kembali meletakkan remot dan mulai membaringkan tubuh di atas sofa. Memandangi layar televisi yang tidak menyala.
Hidupku lebih bahagia di apartemen dibandingkan dirumah ini. Sialan, dasar lelaki menyebalkan. Sepertinya Kun memang ingin sekali ku sumpah serapahi.
Aku membulak-balikkan tubuh mencari posisi yang nyaman untuk tidur tapi sepertinya sofa ini memanglah tidak membuatku nyaman.
"Tidak bisakah kau diam? kenapa berisik sekali?."
"Aku tak bisa tidur di sofa!." Ujarku kesal.
"Diamlah, maka kau bisa tidur." Kun memberi solusi yang bahkan tidak bermanfaat untukku.
Setelah 20 menit berakhir dan aku tetap tidak bisa tidur, pada akhirnya aku menghiraukan ucapannya Kun. Aku pergi ke atas ranjang dan berbaring disisinya. Kalian tahu apa reaksi Kun?. Dia menendang bokongku hingga aku terjatuh ke lantai.
"Sudahku katakan aku tidak bisa tidur dengan orang asing!." Lelaki itu, dia melotot padaku.
"Yak! Kalau begitu beri aku kamar terpisah. Kau pikir aku juga bisa tidur disebelahmu? tentu saja tidak." Aku melipat kedua tanganku dibawah payudara.
"Ish! Sudahku katakan nenek akan curiga jika kau tidak sekamar denganku."
"Itu bukan urusanku! Jika kau tidak memberi kamar terpisah untukku maka aku akan tidur diranjang ini." Aku kembali naik ke atas ranjang dan kali ini Kun melempar sebuah bantal kecil ke perutku. Aku langsung berteriak karena merasakan sakit.
Tanganku dengan refleks memegangi perut bagian lain yang tidak dijahit. "Akh." Kataku melihat bercak darah dipiyama abu-abuku.
Aku tidak tahu kemana perginya Kun, yang pasti dia sudah tidak ada dikamar. Dengan susah payah aku membaringkan tubuh agar darahnya berhenti keluar, aku menyibak piyama dan melihat jahitan di perutku terbuka.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku menahan rasa sakit diperutku. Yang pasti Kun kembali dengan seorang dokter dan beberapa anggota keluarga yang lain. Dokter langsung menangani aku dengan cepat. Ia juga memberi sedikit efek bius yang menurutku rasa sakitnya tetap terasa. Kun menatapku dengan raut wajah menyesal. Benarkah dia menyesal sudah melempar bantal ke perutku?.
"Astaga, kenapa jahitannya bisa terbuka seperti ini? Kau harus hati-hati, Sarah." Kata nenek meraih tanganku.
"Itu salahku bukan salah Sarah." Ujar Kun membuat keningku berkedut.
"Ya ampun~ kau harus menahan dirimu, jangan memaksa Sarah untuk 'melakukannya' dia itu baru saja melakukan operasi."
__ADS_1
Aku terkejut mendengar ucapan ayah mertua. Sepertinya mereka semua salah tanggap.
to be continue....