
Saat sedang memperhatikan robot-robot yang terpajang seseorang menghampiriku. Beliau memberi selamat atas pernikahan dan keberhasilannya Kun dalam menciptakan Iron Brain generasi kedua.
"Kau pasti menjadi perempuan yang paling beruntung." Katanya membuatku memiringkan kepala sedikit.
Aku tersenyum lalu meneguk kembali air putih. "Aku senang bisa bertemu om disini."
"Sayang sekali Lucas tidak bisa ikut padahal sebenarnya ia juga diundang oleh Nak Kun. Hanya saja Lucas punya jadwal operasi tadi pagi." Jelasnya membuatku mengerti.
Aku berbincang banyak hal tentang masa kecil aku dan Lucas. Sepertinya Om Hans sangat merindukan masa-masa pertumbuhan kami berdua.
Tiba-tiba saja Kun menghampiri kami berdua, ia memberi salam pada om Hans.
"Sudah lama sekali kami tidak bertemu." Sapanya dengan senyuman yang lebar.
Kun banyak tersenyum hari ini.
"Selamat atas keberhasilannya." Om Hans.
Kun mengangguk lalu menoleh padaku. "Kau mau pulang?" Tanyanya.
"Aku akan menunggumu." Jawabku membuatnya mengkedutkan alis. Reaksi macam apa itu? aku tidak paham.
"Kalau begitu saya permisi." Om Hans melenggang pergi lalu berbaur dengan para pembisnis yang lainnya.
"Kau bisa pulang kalau jenuh. Lagi pula, aku akan pulang larut malam karena harus menghadiri pesta keberhasilan yang diadakan para karyawan."
"Apakah aku tidak boleh ikut?" Tanyaku.
Kun meneguk minumannya sembari memasukkan tangan kedalam saku celana lalu perlahan tubuhnya mencodong padaku. "Aku tak bisa membawamu karena selingkuhanku akan datang." Ujarnya membuatku berdesis.
Dia tertawa melihat wajahku yang kesal.
"Kau senang?"
"Tentu saja. Kau pasti akan marah dan kesal setiap kali aku membicarakan wanita lain. Jangan sampai kau jatuh cinta padaku." Kali ini Kun tersenyum jahat.
"Terserah kau saja. Kalau begitu selamat bersenang-senang. Ayo Louis." Aku berjalan meninggalkannya, masa bodoh. Mau dia berselingkuh, menikah lagi atau apapun itu. Aku tidak peduli.
Mendadak moodku jadi rusak siang ini tapi sepertinya bukan hari ini saja aku kesal. Setiap mengobrol dengan Kun, pasti perasaanku jadi buruk. Pria itu memang tidak baik untuk kesehatan mentalku.
Argh! aku ingin sekali berteriak tapi tidak bisa.
Aku mengepalkan tanganku, lihat saja Kun aku juga pasti bisa membuatmu jengkel.
"Nona... ponsel nona menyala." Suara Louis menyadarkan aku.
Saat melihat layar ponsel, aku langsung tersenyum. Lucas menelfonku, ia bertanya dimana keberadaanku. Dan apakah aku sibuk atau tidak.
"Aku mau menepati janji." Katanya membuatku berpikir keras.
"Janji apa?" Tanyaku masuk kedalam lift.
"Janji mengenai kau jika sudah pulih. Kau ingat, beberapa waktu yang lalu aku mengajakmu untuk pergi jalan-jalan."
Aku langsung teringat dengan ucapan itu. "Kau mau membawaku kemana?"
"Rahasia, aku akan menjemputmu jam setengah 3 sore. Itu pun kalau kau mau."
"Tentu saja aku mau." Jawabku dengan antusias.
"Well~ sampai jumpa sore nanti." Lucas mematikan panggilannya.
Moodku yang buruk karena Kun sering kali disembuhkan oleh Lucas. Mungkin itu sebabnya dia menjadi seorang dokter.
__ADS_1
Sarah Pov End.
Suasana dilantai 5 masih sangat ramai, beberapa orang sudah mulai memesan Iron Brain Medis. Monitor hologram itu hanya di jual dengan jumlah yang sangat sedikit yakni 5 buah.
Dan Kun hanya akan menjual pada rumah sakit besar dan terpercaya oleh masyarakat. Sejauh ini beberapa dokter merengek untuk bisa mendapatkan Iron Brain Medis.
Kun tidak bisa menjual banyak-banyak itu karena ia hanya membuat sesuai kebutuhan dan jumlah rumah sakit terkenal dalam pelayanan yang sangat baik. Maka dari itu Iron Brain generasi kedua ini hanya di buat 5 buah saja.
Selain itu, Kun akan menyeleksi setiap rumah sakit. Rumah sakit yang layak dan memadai akan mendapatkan Iron Brain Medis. Sejauh ini sudah terdaftar sekitar 102 rumah sakit di seluruh dunia yang ingin membeli benda jenius itu.
Hari menjelang malam tapi jadwal hari ini masih belum selesai.
Kun Pov :
Suara alunan musik terdengar di kupingku, aku mencoba untuk tidak meminum lagi anggur namun teman kerjaku terus memaksa agar aku terus meneguk air hangat tersebut.
Mataku sudah terasa berat.
"Kau benar-benar pria hebat Kun." Seseorang mengobrol denganku namun penglihatanku sudah buram. Aku tidak bisa mengenali lelaki disebelahku.
Sepertinya aku sudah terlalu banyak minum.
Aku berusaha untuk berdiri dan keluar dari tempat ini dengan akal sehat yang mungkin hanya tinggal 5% dalam diriku.
"Kau mau kemana?" Tanya seorang perempuan yang sedari tadi menemani aku duduk.
"Aku ingin pulang." Gumamku berjalan sempoyongan. Aku tidak tahu harus berjalan ke arah mana. Beberapa orang ku tabrak karena menghalangi jalanku.
"Biar aku bantu." Kata perempuan itu namun dengan cepat aku mendorongnya.
"Jangan menyentuhku." Ujarku kasar.
Sial, aku tak suka dengan orang asing yang sembarangan menyentuh tubuhku. Aku terus berjalan mencari pintu keluar, sampai akhirnya seseorang menarik tanganku dan aku tak ingat apapun.
Aku langsung terdiam saat tahu bahwa dibawah daguku ada kepala seseorang. Aku mengintip melihat dibalik selimut bahwa diriku tengah memeluk tubuh perempuan.
"Siapa wanita ini?" Tanyaku dalam hati.
Wanita itu bergerak membuatku langsung sedikit menjauhkan diri.
"Sarah?!" Gumamku terkejut.
Aku berada dikamarku? Astaga, bagaimana bisa aku sempat tidak mengenali Sarah.
Tunggu, kenapa pula aku memeluknya? Dan kenapa aku tidur satu ranjang dengannya?. Aku mencoba untuk mengingat kejadian semalam sampai-sampai kepalaku sakit karena terlalu dipaksa mengingat.
"Aw!." Pekikku sedikit berteriak.
Sarah terbangun, ia melihat ke arahku dengan wajah yang lucu. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Sampai akhirnya suara ketawaku membuat Sarah benar-benar terbangun.
"Apa yang kau lakukan di ranjangku?!" Tanyanya terkejut.
"Aku yang mengeluarkan uang untuk ranjang ini." Jawabku tak mau kalah.
Sarah memutar bola matanya untuk yang ke dua kali, jujur saja aku tak suka melihat perempuan menggerakkan matanya seperti itu padaku. Sangat tidak sopan. Tapi kali ini aku membiarkannya.
Wanita itu turun dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi. Astaga, aku masih tidak habis pikir kenapa aku bisa tertidur sembari memeluk Sarah dan siapa yang mengantar aku pulang?.
Aku meraih ponsel dan menelfon Louis, bodyguard itu mengatakan bahwa aku diantar oleh seseorang. "Kalau begitu siapkan rekaman cctv semalam. Aku ingin tahu siapa yang mengantarku." Kataku lalu menutup panggilan.
Ku simpan ponsel dan ku raih tablet untuk melihat perkembangan Iron Brain Medis. Hologram itu menjadi hologram yang paling terkenal diantara hologram-hologram lainnya. Aku tersenyum bangga saat membaca artikel menuliskan hal-hal baik tentang ciptaanku itu. Disana juga terdapat foto Sarah, dia menjadi sasaran kedua yang menarik perhatian setelah Iron Brain Medis.
Artikel mengatakan, "Sarah Arne Qian seseorang yang memperkenalkan Iron Brain Medis sekaligus istri Sah dari sang pencipta yakni Kun Qian. Diketahui keduanya menikah dihari yang sama saat Dylan Qian yang tidak lain adalah sang kakak dari Presdir II Kun Qian menikah."
__ADS_1
Aku terkekeh membaca betapa sulitnya si penulis memilih kata dan kalimat.
Suara pintu mengambil alih perhatianku. Aku yang masih berbaring diatas ranjang terpaku saat melihat Sarah hanya menggunakan handuk. Rambutnya diikat memperlihatkan lehernya yang cantik, aku juga bisa melihat kaki Sarah yang jenjang.
"Kau sedang menggodaku?" Tanyaku dan Sarah tidak peduli. Ia berjalan menuju koper lalu mulai mencari pakaian.
Fokusku benar-benar tertuju pada tubuh Sarah. Sial, kenapa pula aku tergoda dengannya. Aku mencoba kembali membaca artikel tapi lagi-lagi aroma sabun yang digunakan Sarah membuat aku tak fokus. Ku simpan tablet di atas ranjang dan memilih untuk memperhatikan wanita dua puluh empat tahun itu. Dia masih sibuk mencari pakaian, tangan kirinya memegangi ujung handuk yang tergulung didada.
"Kau sudah sembuh?"
"Hm~ makanya aku bisa mandi." Jawabnya tak melihat ke arahku.
Terlintas dalam benakku untuk mengajak Sarah melakukan hubungan suami istri. Tapi dengan cepat aku menepis pikiran mesum itu.
"Cepatlah berpakaian! kenapa lama sekali." Tegurku membuat Sarah menoleh ke arahku.
"Kenapa kau tiba-tiba kesal?" Tanyanya lalu mendelik.
Astaga, matanya itu, aku benar-benar ingin menghukumnya.
Setelah 10 menit akhirnya ia mendapatkan pakaiannya lalu menyuruhku untuk keluar.
"Pakai saja didepanku, kenapa harus malu, kita kan sudah menikah." Ujarku membuat Sarah melotot.
"Menikah katamu? Pernikahan kita saja tidak tercatat di KUA." Katanya berjalan menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Sarah keluar dengan dress putih bercorak bunga. Rambutnya masih tergelung tinggi-tinggi.
"Kau cantik." Kataku lalu masuk kedalam kamar mandi.
Dan tiba-tiba saja aku menyesal dan malu karena sudah memuji Sarah. Kenapa mulutku mengeluarkan kata-kata menggelikan seperti tadi?.
Ku guyur tubuhku menggunakan air dingin agar kepalaku kembali jernih. Aku juga memejamkan mata agar bisa mengingat segala yang sudah terjadi semalam. Tapi tetap saja aku tak bisa ingat apapun kecuali aku ingat bahwa aku tidak bermimpi buruk. Seperti sesuatu yang ajaib jika aku tidak mimpi buruk. Aku belum membeli lagi obat tidur. Mungkinkah karena aku mabuk, makanya aku tidak mimpi semalam?.
Sekitar jam dua siang, aku memutuskan untuk pergi memancing dengan ayah. Tumben sekali ayah mengajakku untuk bermain bersama.
"Aku ingin menagih hutangmu." Seru Sarah saat aku sedang bersiap-siap.
"Hutang apa?"
"Lebih tepatnya syarat saat aku menjadi pemandu acara kemarin."
"Iya apa?" Tanyaku mulai kesal.
"Aku ingin kau memberikan kamar kosong untukku." Katanya membuatku terdiam.
"Aku tak bisa mengabulkannya." Jawabku meraih tas lalu pergi keluar dari kamar.
"Kau sudah berjanji akan menepatinya." Sarah mengikuti.
"Aku tak bisa memberikan kamar kosong untukmu, pilihlah yang lain maka aku bisa mengabulkannya." Kataku memberikan tas alat-alat pancing pada supir.
"Kenapa kau tidak bisa mengabulkannya? permintaanku itu sederhana dan sepele. Ayolah~ jika kau tidak mengabulkan keinginanku maka aku akan.....
Aku langsung mendaratkan bibirku dibibirnya Sarah. Aku tak suka mendengarnya terus mengoceh dan juga Ayana sedang berjalan menuju kemari bersama dengan ayah. Maka dari itu aku mencium Sarah.
"Kau cerewet sekali." Gumamku membuat Sarah terdiam. Ia masih menatapku syok.
"Aku pergi dulu." Kataku mengecup pipi Sarah lalu berpamitan pada Ayana dan Nenek.
Kun Pov End.
to be continue....
__ADS_1