
"Halo tuan kaya raya yang sombong."
"Begitukah cara kau menyapa bos mu?" Tanyaku pada Hendery yang sedang cengengesan.
"Astaga semakin tua kau semakin menyebalkan ya."
"Kau yang menyebalkan!." Kataku sedikit membentak.
Hendery hanya tertawa menanggapi aku.
"Bagaimana liburannya? membuahkan hasil?."
Hendery merogoh saku hoodie. "Andai saja itu benar-benar liburan sepertinya aku tidak mau pulang ke negara ini." Dia memberiku sebuah flashdisk, ku terima dan ku masukan ke dalam saku celana.
"Kau boleh ambil cuti sekarang."
"Benarkah? Ehey~ kenapa tiba-tiba jadi baik begini? Kau pasti sedang merencanakan sesuatu kan?" Hendery curiga.
"Tidak ada, sudah lah aku banyak kerjaan. Anggap saja cuti yang kuberikan itu adalah tanda terimakasih." Aku masuk ke dalam lift meninggalkan Hendery yang sedang melambaikan tangan.
Tidak lama ponselku berdering. "Jangan merencanakan yang aneh-aneh!." Tulis Hendery lewat pesan elektronik.
"Astaga kenapa semua temanku curiga sekali padaku." Gumamku keluar dari lift.
Seperti biasa robot demo menyapaku dan aku menghiraukannya. Ku nyalakan komputer dan memasukkan flashdisk, beberapa folder muncul dengan isi ratusan foto, potret seorang lelaki dan perempuan yang diambil secara diam-diam oleh Hendery. Aku sengaja mengirimnya ke Hawaii untuk membuntuti seseorang, Hendery pergi ke sana dengan kedok liburan.
"Buktinya sudah cukup hanya saja aku masih ragu." Kataku memandangi wajah bahagia seorang lelaki dilayar hologram.
Aku tak bisa sembarangan menggugat seseorang, apalagi orang itu adalah manusia terkenal. Akan jadi pencemaran nama baik nanti. Aku duduk diatas kursi lalu memutarnya untuk menghadap ke kaca menjulang tinggi. Ku pandangi gedung pencakar langit didepan sana, gedung nya sangat tinggi hampir menyentuh awan.
"Kenapa mereka berlomba-lomba membangun gedung yang tinggi sementara aku menggali tanah untuk membuat pabrik." Aku bergumam sendirian, bertanya pada diri sendiri dan tentu akan dijawab oleh diri sendiri.
Sudah lama sekali aku tidak sesantai ini, aku berdiam diri melamun sampai tak sadar bahwa aku tertidur. Aku mengecek jam tangan sudah menunjukkan jam setengah 3 sore.
"Bisa-bisanya aku ketiduran." Aku bergegas mencuci muka lalu turun menuju pabrik untuk mengecek perkembangan Drone yang masih dalam tahap rancangan kasar.
__ADS_1
Ku pakai kacamata, masker dan helm pelindung, diujung tepat dibawah ruangan chip Ayden tengah melakukan las pada besi. Dia sangat sibuk. Aku berputar-putar sejenak melihat keadaan pabrik yang berisik sangat berisik. Alisku sedikit berkedut saat menyadari bahwa ada banyak sekali bangkai robot yang gagal produksi. Salah satunya robot demo yang waktu itu menyerang diriku.
Saat aku hendak berbalik arah tubuhku bertabrakan dengan tubuh seorang pria. Tampaknya dia sangat terkejut, lelaki itu meminta maaf lalu melenggang pergi. Aku bisa melihat ada luka didekat lehernya, seperti luka bekas sayatan.
Aku tidak terlalu memikirkan pekerja itu, kakiku kembali melangkah menuju ruangan selanjutnya. Ruangan dimana kerangka robot dipasang.
"Selamat datang Mr. Qian." Para pekerja langsung menyapaku.
"Lanjutkan saja, jangan merasa terganggu, aku hanya mau melihat-lihat." Kataku mulai mengecek kerangka-kerangka besi Drone.
Mendadak aku tidak mau melanjutkan produksi Drone nya, perasaanku berubah jadi malas dan tidak tertarik. Apakah karena ucapan Sarah saat di Seattle?.
Rasanya aneh jika aku membuat robot senjata secara terang-terangan akan ada banyak sekali pihak yang mencoba untuk menjatuhkan diriku nanti. Perlukah aku menjadikan Drone ini sebagai robot rahasiaku dimasa depan nanti?.
"Bos, bolehkah aku memberitahu sesuatu?"
"Ada apa?" Tanyaku penasaran.
"Ku dengar Dr. Hans baru saja mengumumkan tanggal launching untuk memperkenalkan robot anak." Ujar karyawan.
"Berita mengabarkan bahwa robot anak itu akan bekerja dirumah sakit khususnya untuk pasien anak-anak, semacam penghibur."
Aku mengangguk ragu. "Akhirnya dia berhasil menciptakan robot." Gumamku keluar dari ruangan, meninggalkan para pekerja yang sedang sibuk.
Ku raih ponsel dan menelfon sekretaris Kim untuk memberitahu perusahaan Hikun II bahwa ada yang harus dibicarakan.
**Kun Pov End.
Sarah Pov**.
Aku tersenyum bangga melihat Lucas menemani Om Hans di acara konferensi pers.
Apakah kalian ingat saat acara launching nya Iron Brain Medis setelah acara tersebut selesai, aku pergi bertemu dengan Lucas. Bagaimana sudah ingat?. Pada saat itu Lucas memberitahu aku bahwa ayah dan dirinya tengah mempersiapkan robot mungil yang akan menjadi teman para pasien anak-anak nanti.
Dan robot bocah itu kini sudah siap di kenalkan ke seluruh dunia. Lucas mengundangku bahkan dia juga mengundang Kun lewat diriku.
__ADS_1
Aku ragu Kun akan ikut karena sepertinya dia membenci Lucas walaupun aku tidak tahu apa alasannya. Yang berkaitan dengan Lucas akan membuat Kun muak dan naik pitam.
Tapi nyatanya dia dengan antusias senantiasa hadir ke acara tersebut. "Kau yakin?" Tanyaku memastikan.
"Kenapa? Kau sudah bertanya itu sebanyak tiga kali." Katanya Menuruni tangga.
"Aku hanya tidak percaya saja, kau kan tidak suka pada Lucas."
"Dia mengundangku kan, akan tidak sopan jika aku tidak hadir. Toh aku penasaran dengan sesuatu." Kun Berhenti tepat di anak tangga terakhir.
"Apa?" Tanyaku karena tiba-tiba dia memperhatikan diriku.
"Kau mulai terlihat mewah."
Sontak aku langsung melotot, apakah selama ini aku terlihat miskin dan lusuh?. Bersabarlah Sarah, jangan sampai kau meledak-ledak hanya karena kalimat menyebalkan dari Kun.
Om Hans kenal dengan ayahnya Kun maka dari itu beliau ikut berserta istrinya, Ayana. Kami pergi dengan dua mobil meninggalkan nenek dan seluruh pelayan dirumah.
Aku memasang sabuk pengaman lalu mengecek riasan wajahku.
"Ada yang kurang." Kata Kun membuatku menoleh.
Dia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kotak berwarna biru tua. "Kita sudah menikah dengan sah kan." Imbuhnya membuka kotak tersebut.
"Ambillah dan pakai." Kun mengambil cincin bagiannya lalu memakainya dijari manis.
Aku masih terdiam karena tidak percaya, apakah ini sungguhan? Rasanya aku benar-benar menikah.
"Jangan berharap aku akan memakaikan nya."
"Astaga, kau ini menyebalkan sekali padahal aku tidak berpikir seperti itu." Kataku mengambil cincin tapi sebelum ku pakai aku melihat ada sebuah ukiran dibagian dalam cincin. Yang bertuliskan Mrs. Qian Kun. Aku langsung melirik padanya namun Kun sedang menutup matanya sembari bersandar.
Ya Tuhan rasanya jantungku mau meledak. Aku tak kuasa menahan senyuman sampai-sampai aku harus menutupnya dengan tangan.
Dengan adanya cincin ditanganku dan Kun, aku merasa kami benar-benar sepasang suami-istri. Aku ingin sekali memeluknya namun tidak bisa, Kun akan marah jika aku melakukan itu. Lagi pula itu hal yang memalukan, aku tidak boleh melakukannya.
__ADS_1
to be continued...