
"Hey~." Sapaku pada Mark dan Lucas.
Senyumku melebar saat bertatapan dengan Lucas. Dia spesial.
"Istri macam apa yang bangunnya selalu siang?" Mark mulai mengoceh.
"Jangan banyak bicara, makan saja ini." Aku menyumpal mulutnya dengan dessert.
"Sarah adalah istri konglomerat, makanya dia bisa berleha-leha." Lucas ikut-ikutan tapi aku tidak menyumpal bibirnya melainkan hanya tersenyum.
"Kau tidak bekerja?" Tanyaku pada Lucas.
"Aku sedang ambil libur." Katanya menyeruput teh mint.
Kami berbincang banyak hal mengenai masa kuliah dulu terlebih Mark. Dia sangat semangat karena dulu Mark adalah idaman para wanita di kampus. Ya walaupun tidak sepopuler Lucas.
Sementara aku, aku hanya mahasiswa biasa yang telat masuk sehingga umurku diatas mereka saat itu, sekarang juga. Aku malu~ tapi akan lebih malu lagi jika aku tidak kuliah.
"Bagaimana kabar suamimu?" Tiba-tiba saja Mark menanyakan itu.
Aku melirik Lucas sekilas. "Dia baik-baik saja." Ujarku memakan cemilan.
"Kalau boleh tahu, apa pekerjaan suamimu?"
Aku diam sebentar. "Em~ Pencip..ta robot." Kataku memiringkan kepala. Apakah jawaban ku benar? aku tidak tahu pekerjaannya apa, yang ku tahu dia adalah presdir II.
"Lebih tepatnya seorang pengusaha dan orang-orang memanggilnya bos muda." Lucas membantuku.
Mark membelalak. "Pencipta robot? Bos Muda? Pengusaha? Woah~ kau beruntung sekali Sarah." Tampaknya Mark sangat tercengang.
"Kau tahu suami Sarah itu siapa?"
"Siapa?"
"Qian Kun." Lucas memberitahu nama suamiku pada Mark.
"WHAT THE FEEE~ Qian katamu? Qian yang menciptakan Iron Brain?"
Lucas mengangguk, mulut Mark terbuka semakin lebar.
"OH MY GOD! Aku tidak percaya kalau ternyata lelaki yang ku temui beberapa hari yang lalu adalah Qian Kun. Kau hebat Sarah! Kau hebat!." Mark mengacungkan jempolnya padaku.
"Apakah Kun seterkenal itu?" Tanyaku polos.
"Ya! Dia terkenal di Amerika, aku sering mendengar namanya. Hanya saja penglihatanku buruk sehingga waktu itu aku tidak dapat mengenali wajahnya dengan baik. Kau tidak tahu bahwa suamimu itu terkenal?."
Aku menggeleng pelan. "Ku pikir dia hanya terkenal di Korea."
"Tidak-tidak, dia sangat terkenal didalam bisnis." Seru Mark meraih gelas minumannya.
Aku tidak tahu bahwa ternyata nama Kun terkenal sampai ke luar negeri. Lalu apakah kabar pernikahan kami juga sampai ke telinga orang Amerika?. Woah~ aku sendiri tidak bisa membayangkan betapa banyaknya perempuan yang patah hati karena Kun menikah denganku.
"Ngomong-ngomong bagaimana dengan ayahmu, apakah beliau masih mencoba untuk menciptakan robot medis?" Mark bertanya pada Lucas.
"Tempat praktek ayahku sudah sepi, jadi beliau masih sering menghabiskan waktu di laboratoriumnya." Jawab Lucas.
"Kenapa tidak melamar saja ke perusahaan suaminya Sarah. Ayahmu itu jeniuskan, otaknya akan sangat terpakai."
Mendadak perasaanku tidak enak setelah Mark berkata begitu.
"Kau tahu, ayahku tidak mau bergabung dengan siapapun. Dia hanya akan mengerjakannya sendirian sampai berhasil." Ucap Lucas santai.
"Persis sepertimu." Ujar Mark dan Lucas tersenyum.
__ADS_1
"Lagi pula ada aku, akhir-akhir ini aku juga sering membantu beliau menciptakan inovasinya." Lucas melirikku lalu tersenyum lembut.
"Hey~ kau tidak boleh melakukan itu pada Sarah. Dia sudah menikah." Tegur Mark membuat kami saling menghamburkan pandangan.
Yang dikatakan Mark benar, aku tidak boleh meneruskan perasaanku pada Lucas. Bagaimana pun juga, aku sudah menikah.
Tiba-tiba saja ponselku berdering. Ada panggilan masuk dari Kun. Aku langsung permisi sebentar untuk mengangkat telfon.
"Halo?"
"Kau dimana?"
"Aku, aku sedang bertemu dengan teman-teman. Ada apa?" Aku mendorong pintu restoran.
"Mark? Lucas?"
"Keduanya." Jawabku singkat.
"Beritahu aku dimana kau sekarang?"
"Untuk apa? Bukankah kau sedang bekerja?"
"Aku sedang istirahat. Jadi dimana kau sekarang?"
Astaga~ kenapa Kun sangat memaksa.
"Aku di Villium." Kataku malas.
Dan tiba-tiba saja panggilannya terputus, aku mendesah kesal. Dasar pria aneh!.
Aku kembali bergabung dengan Mark dan Lucas. Tidak berapa lama, kekasih Mark datang. Dia berambut panjang dengan warna cokelat alami dan blasteran seperti Mark.
Namanya adalah, Viola. Wanita itu punya tahi lalat dipipi sebelah kiri dekat bibir. Sangat cantik.
Selang lima belas menit, Kun tiba. Dia benar-benar datang kemari. Aroma parfumenya sudah tercium ketika ia membuka pintu.
"Selamat siang." Sapa Kun pada kami semua.
"Maaf mengganggu, aku kemari untuk menjemput Sarah." Katanya membuatku terkesiap.
"Acaraku belum selesai."
Kun tersenyum. "Kau lupa dengan janji kita?"
Keningku mengkerut. "Janji apa? kita tidak punya janji sama sekali." Ujarku ketus.
"Kita berjanji untuk merencanakan bulan madu hari ini."
"Aku tidak ingat." Jawabku dan tiba-tiba saja Kun menarik tanganku. Aku tidak percaya dia berani berbuat seperti itu ditempat umum. Untung saja restoran ini sepi.
"Lepaskan aku." Kataku menggerakkan pergelangan tangan tapi seseorang di belakangku menarik tanganku yang lain.
Lengan kiriku dipegang oleh Kun sementara lengan kananku dipegang Lucas. Astaga drama macam apa ini.
"Jangan memaksa Sarah." Ujar Lucas pada Kun.
Mereka saling menatap membuatku takut akan terjadi keributan. "Well~ ayo kita bicarakan rencana bulan madu. Lucas, lepaskan aku. Aku tidak apa-apa." Aku tersenyum padanya dan Lucas melepaskan genggamannya.
Pada akhirnya aku mengalah, aku mengikuti keinginannya Kun. Aku masuk kedalam mobil dan terkejut saat tahu bahwa Kun menyetir sendiri. Tapi aku tidak terlalu peduli dengan itu.
"Kenapa kau mengganggu pertemuanku ke dengan teman-teman?" Tanyaku marah.
"Aku tidak suka kau bertemu dengan Lucas."
__ADS_1
"Kenapa ? Kau cemburu?"
Kun terkekeh, "Tentu saja tidak." Ia menoleh padaku. Lalu tiba-tiba saja wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Aku bisa melihat dengan jelas bibirnya yang pink.
"Aku bisa menggunakan sabuk pengaman sendiri." Kataku mendorong Kun untuk menjauh.
Setelah memasang seatbelt, Kun mulai melajukan mobilnya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku." Aku mengingatkan.
"Lucas berbahaya." Ujarnya membuatku kaget lalu tertawa.
"Tahu apa kau tentang Lucas?"
Kun menoleh sebentar lalu kembali fokus ke jalanan.
"Dengar Kun, aku sudah mengenal Lucas sejak kecil. Jadi, kau tidak boleh mengatakan hal buruk tentangnya dihadapanku. Perlu kau tahu, Lucas bahkan lebih baik darimu." Tubuhku agak terhempas kedepan lalu punggungku membentur kursi. Rambutku langsung acak-acakkan.
"Apa yang kau lakukan!." Tegurku murka karena Kun nge rem mendadak.
Pria itu memandang lurus kedepan dengan kedua tangan yang menggengam stir. Dia tampak marah. Aku melihat lampu lalu lintas berwarna hijau, kenapa Kun tidak melajukan mobilnya?.
Kendaraan di belakang sudah berisik membunyikan klakson meminta mobil Kun untuk melaju atau menyingkir dari hadapannya.
"Kau gila? kau ingin dikeroyok massa?" Tanyaku panik melihat beberapa pengendara keluar dari mobil menuju mobil yang kami tumpangi.
Lalu.. aku menyengkram keras sabuk pengaman. Kun melajukan mobilnya bagaikan orang gila. Samar-samar aku bisa melihat ia melaju di kecepatan 150 Km/jam. Jantungku terasa tertinggal dibelakang saat mobilnya melesat. Aku tak mampu membuka mata lagi, aku memejamkan mata sembari berdoa untuk keselamatan.
Apa yang merasuki dirinya sehingga ia sangat aneh hari ini.
Setelah beberapa menit memejamkan mata, aku tidak lagi mendengarkan kebisingan. Perlahan ku buka mata dan melihat sekeliling ternyata kami sudah berada di basemant. Aku memperhatikan Kun yang sedang menatap lurus.
"Kau gila? Apakah kau ingin mati? jika memang kau ingin mati, mati saja sendiri. Jangan bawa-bawa aku!." Aku berteriak sembari memukulinya. "Kau lelaki gila Kun! Aku tidak ingin naik mobil lagi bersamamu! Kau gila! Kau gila!." Aku terus memukulinya sembari menangis.
"Berhenti memukulku!." Katanya mencengkeram kedua tanganku. "Kau menangis?" Tanyanya, aku bisa melihat kalau Kun khawatir.
Tubuhku mendadak bergetar hebat, aku sangat takut. "Kau jahat!." Lirihku menunduk. Air mataku terus mengalir, dadaku mulai terasa sesak.
Ya Tuhan, aku tidak mau membayangkan kejadian yang baru saja terjadi.
"Maafkan aku." Katanya membuka sabuk pengaman lalu memelukku. "Aku kesal karena kau membandingkan diriku dengan Lucas." Ujarnya membuatku paham. Ternyata Kun marah karena ucapanku.
Ia mengelus rambutku sembari menepuk-nepuk punggungku. "Aku tidak suka dibandingkan dengan siapapun apalagi dengan temanmu itu." Imbuhnya membuatku menyesal.
Aku tidak mengatakan apapun kecuali hanya menangis dalam kedekapannya.
...**** ...
Aku dan Kun masuk kedalam rumah. Mendadak perasaanku jadi tak enak saat melihat Ayana. Dia memasang wajah yang sangat galak padaku. Astaga, aku benci hari ini.
"Perusahaan Hikun II menelfonku kemarin. Mereka ingin memberi kesempatan untukmu. Ini kabar yang baik, aku harap kau bisa menggunakannya dengan baik." Jelas Ayana pada Kun.
"Kalau begitu aku akan terbang ke Seattle."
"Aku ikut." Ayana langsung menjawab.
"Aku akan pergi bersama Sarah dan Sekretaris Kim. Kau diam saja dirumah, lagi pula kau tidak punya urusan apapun lagi kan dengan perusahaan Hikun II."
Ada secercah rasa senang didalam diriku saat Kun menolak Ayana.
"Em.. Okey, good luck kalau begitu." Jawab Ayana dengan kikuk.
Ia berjalan ke arahku dan tepat saat kami berdekatan aku bisa mendengar kalau Ayana berkata.
__ADS_1
"Awas saja kalau kau mengganggu pekerjaan Kun lagi. Kau akan tamat!."
to be continued...