
Aku berjalan masuk kedalam pesawat tidak memperdulikan Kun. Aku masih kesal dengan perbuatannya semalam. Ah! karena dirinya badanku pegal-pegal.
"Kau mau makan apa?" Tanyanya tapi aku tidak menjawab.
"Bawa makanan enak saja kalau begitu." Ujar Kun pada pelayan.
Aku meraih headphone dan menyalakan layar mini, menonton film sebentar sebelum pesawat mulai terbang. Samar-samar aku bisa melihat Kun sedang memperhatikan diriku.
Astaga itu membuatku tidak nyaman. Aku melepas headphone dan memarahinya.
"Berhenti melihat padaku!." Gerutuku agak melotot.
Kun malah tertawa ringan, ia meneguk minumannya lalu mengunyah cokelat bulat seperti kelereng.
"Berkasnya tidak ada yang tertinggalkan?" Tanya Kun pada sekretaris Kim.
"Semuanya sudah aman."
Kun mengangguk lalu kembali menatapku. "Bagaimana? semalam menyenangkan bukan?"
Aku langsung syok. "Menyenangkan katamu? Kau menyuruhku tidur di sofa dan menggunakan ranjang besar itu sendirian, kau memang pria yang egois."
Kun tidak keberatan dengan cibiranku, mungkin karena apa yang ku katakan adalah fakta. Bahwa ia pria egois yang ingin menang sendiri.
"Oh ayolah~ aku sudah lama tidak tidur diatas ranjang sendirian. Di Korea nanti, ranjang milikku bahkan kau pakai sementara aku tidur disofa."
"Aku tidak menyuruhmu untuk tidur disofa itu kan keinginanmu." Kataku langsung.
"Ah~ kalau begitu mulai sekarang aku dan kau akan berbagi ranjang." Kun tersenyum penuh arti.
Senyuman macam apa itu? kenapa sangat menjijikan.
Tiba-tiba saja sekretaris Kim berdeham membuatku tersadar bahwa sedari tadi kami berdua bertengkar dihadapan beliau, Louis dan bodyguard yang lainnya.
"Saya pikir saya dan yang lain akan naik pesawat ekonomi saja, agar tidak mengganggu tuan dan nona." Seru sekretaris Kim meledek.
Kun tersenyum semakin lebar. "Keberadaan kalian tidak mengganggu sama sekali, jika ingin menggunakan pesawat ekonomi kenapa tidak mengirim Sarah saja kesana. Kalian tetap disini bersamaku."
Mulutku langsung menganga. Aku menggigit bibir sembari memutar bola mata. Masa bodoh! aku tidak akan mendebatnya lagi. Tidak akan ada ujungnya jika aku membalas perkataan Kun.
...****...
__ADS_1
Perjalanan berjam-jam membuatku mabuk. Sesampainya dirumah aku langsung muntah-muntah, kepalaku pusing luar biasa. Nenek mengkhawatirkan keadaanku, beliau menggenggam dan sesekali mengusap kepalaku.
"Nenek juga perlu istirahat, ini sudah hampir subuh. Sarah hanya kelelahan diperjalanan." Kun membujuk nenek dan pada akhirnya beliau menurut.
"Tidurlah dengan nyenyak, suruh Kun saja jika kau butuh sesuatu." Nenek mengusap kepalaku lagi. Aku mengangguk sembari tersenyum lemah.
Ya Tuhan, memalukan sekali. Kenapa tubuhku jadii lemah seperti ini.
Setelah nenek keluar dari kamar Kun langsung berkacak pinggang sembari mengoceh. "Kau pura-pura sakitkan agar bisa tidur diranjang?".
Lagi-lagi aku terdiam karena ucapan pria si*lan itu. "Terserah kau saja." Ujarku malas, aku turun dari ranjang dan berjalan menuju sofa.
"Nah, kau bisa menggunakan ranjangmu itu. Ck, ck, aku tak percaya orang kaya sepertimu ternyata miskin nurani."
"Apa kau bilang? Hah! ucapkan sekali lagi!." Kun berjalan ke dekatku sembari marah, dia membentakku dan anehnya aku tidak merasa takut.
"Yang ku ucapkan itu benar, kau kaya harta tapi miskin hati, miskin attitude, miskin pikiran. Astaga, bisa-bisanya aku menikah dengan lelaki sepertimu."
Kun mengangkat sebelah alisnya. "Kau sendiri tak bersyukur dinikahi oleh diriku. Memangnya kau yakin kau bisa menikah? kau pikir ada laki-laki yang mau menikahi perempuan sepertimu? berpendidikan tapi tidak seperti di didik, lulus terlambat dan berharap bisa bekerja dikantor Qian II, lalu bisanya menghakimi orang. Kau pikir diluar sana ada yang mau dengan perempuan seperti dirimu.....
Suara nyaring terdengar, tanganku langsung bergetar setelah menampar wajah Kun. Napasku tersengal-sengal seperti habis lari maraton. Ada air menetas ke pipiku.
"Kau keterlaluan, KAU KETERLALUAN!" Teriakku membuat Kun tersentak kaget.
Setiap kata yang dilontarkan olehnya bagaikan pisau yang menusuk organ hati dan jantungku.
Sarah Pov End.
Kun Pov
Mendadak aku sangat merasa bersalah pada Sarah saat dia berlari keluar rumah. Ayah dan Ayana menyaksikan pertengkaran kami berdua.
Aku berlari untuk mencegah Sarah pergi. Kenapa selalu masalah kecil yang membuat kami bertengkar tapi ku pikir ucapan Sarah tadi itu memang agak keterlaluan.
"Kau mau kemana? ini sudah larut malam dan kau dalam ke adaan tidak sehat." Kataku mencengkram tangannya.
"Bukan urusanmu." Katanya menghempaskan tanganku. Mata Sarah sudah sembab itu karena ia sedang sakit ditambah lelah dan menangis.
Sebelum keluar dari gerbang aku menarik tangannya dan langsung memeluk Sarah. "Aku bersalah." Ujarku mendekapnya.
Aku tahu bahwasanya aku memang kesal dengan sikapnya Sarah tapi entah mengapa aku tidak bisa lagi kasar padanya. Setelah bertengkar aku sering sekali merasa bersalah.
__ADS_1
"Maafkan aku sudah keterlaluan." Gumamku. Sarah tidak bergerak didalam pelukkan ku, dia masih sesegukan menangis kecil.
"Maaf.." Tiba-tiba saja Sarah bersuara.
"Aku juga sudah keterlaluan." Ucapnya mengusap mata dan hidung.
Aku tersenyum saat melihat hidungnya sangat merah.
"Kau ingusan." Aku menggodanya dan Sarah langsung memukul pelan dadaku.
"Mau menyebalkan lagi?" Tanyanya kesal.
"Kenapa? bukannya aku memang menyebalkan?"
"Lalu untuk apa minta maaf?." Sarah melepas pelukan.
"Formalitas saja agar kau tidak mengadu pada ayahmu." Jelasku membuatnya menautkan alis.
"Dasar pria berengsek!." Umpatnya mau memukul tapi tidak jadi karena aku berhasil menghindar, aku berlari untuk tidak kena pukulannya Sarah.
Kami tertawa bersama dibawah rembulan yang berawan, angin yang dingin berhembus menusuk tubuh kami. Namun itu tidak mengganggu momen kami berdua.
...***...
Syukurlah malam kemarin bisa dilewati dengan baik.
"Jika dipikir-pikir lagi ternyata kemarin aku sangat keren." Pujiku untuk diri sendiri.
Aku terkekeh mengingat betapa hebatnya aku bisa menyelesaikan masalah semalam. Astaga mengapa aku sangat berbunga-bunga. Sial aku tidak bisa berhenti tersenyum. Beruntung sekali Sarah menikah denganku karena ia memiliki suami yang bisa memecahkan pertengkaran.
"Sarah bisa jatuh cinta betulan padaku jika aku bersikap seperti semalam." Gumamku menggigit bibir menahan senyuman yang semakin lebar.
Satu detik kemudian aku tersadar dan kembali menjadi Kun yang dingin. Kenapa aku berpikir begitu? tentu saja seharusnya aku mencegah Sarah untuk jatuh cinta padaku. Tapi tunggu dulu, lantas mengapa aku menikahinya secara sah di KUA?.
Apakah aku jatuh cinta padanya? TENTU SAJA TIDAK.
Kau harus sadar Kun bahwa ada tujuan lain dari menikahi Sarah secara Sah. Yaitu memperalat Sarah untuk mengungkap kasus kematian ibu.
To be continued....
__ADS_1
Sumber :
(Foto - Pinterest)