
Tiga hari setelah aku dan Kun berpisah, entah berpisah rumah atau berpisah sebagai pasangan suami istri. Semuanya terlalu membingungkan.
Aku mengurung diri dengan musik mellow yang nonstop menyala. Sesekali melihat televisi yang menayangkan keberhasilan penjualan Iron Brain Medis. Kun terlihat sangat senang di wawancara, apakah dia merindukanku?.
Astaga! buang jauh-jauh pikiran seperti itu. Seharusnya aku senang karena sudah tidak menjadi istri CEO sombong seperti Kun.
Sudahlah Sarah, kau menjadi gadis lajang sekarang. Benarkah? atau mungkin aku ini seorang janda?. Argh! kenapa jadi menyeramkan?.
Saat ponsel bergetar dengan cepat aku langsung meraihnya. Awalnya ku pikir itu adalah Kun tapi ternyata bukan. Temanku mengundangku ke sebuah bar, aku perlu mendinginkan kepala sehingga aku tak menolak ajakkannya.
Aku langsung pergi menggunakan bus, setidaknya malam ini aku tidak akan memikirkan tentang pernikahan yang membuat sakit kepala itu.
Sarah Pov End.
Kun Pov :
"Kau sudah jarang datang kemari." Gumam seorang perempuan duduk disebelahku.
Aku tersenyum sembari menghirup aroma minuman. "Aku cukup sibuk akhir-akhir ini." Kataku menawarkan rokok.
"Aku sudah berhenti."
"Benarkah?" Tanyaku tak percaya.
Dia mengangguk lalu memesan satu minuman.
Aku memicingkan mata memperhatikan Frischa. "Sepertinya kau bertemu dengan seorang pria."
"Tebakanmu tidak pernah meleset." Ujarnya.
Aku tersenyum bangga dan tiba-tiba saja kegaduhan terdengar di ruangan menari. Aku tidak tertarik sama sekali karena hal seperti itu sudah sering terjadi.
"Maaf aku tidak datang ke acaramu." Sesalnya membuatku langsung menggeleng. "It's okay, aku tahu dengan pekerjaanmu yang lebih sibuk dari pada diriku."
Ia mengangguk memperhatikan aku. "Kau semakin tampan, Kun." Katanya membuatku terkekeh.
"Sepertinya aku pernah lihat wanita itu ditelevisi."
"Dia mabuk berat, perlukah aku memanggilkan taksi?"
"Ish~ sudah biarkan saja itu bukan urusan kita."
"Tapi tangannya terluka bahkan ada pecahan kaca yang menusuk."
Aku sedikit menoleh saat beberapa orang mulai membicarakan kegaduhan disana. Aku tidak pernah ingin tahu dengan urusan orang lain namun kali ini aku sangat tertarik untuk melihat kegaduhan disana.
Aku pergi untuk melihat apa yang terjadi, orang-orang yang mengetahui aku langsung menyingkir memberi akses jalan. Dan tiba-tiba saja mataku membelalak saat melihat kepala Sarah berada di pundak seorang lelaki. Aku bisa melihat kalau Sarah tengah bergumam.
Lelaki itu mencoba untuk menggendong Sarah, keningku berkerut ingin tahu siapa pria tersebut.
"Kasihan sekali." Seru orang-orang.
Perlahan aku bisa melihat Sarah membuka matanya dan ia melihat ke arahku.
"KUN~!." Wanita itu berteriak memanggil namaku. Melepas pelukannya lalu berlari kearahku.
Tubuhnya menghantam tubuhku. "KAU JAHAT! KENAPA BARU MUNCUL SEKARANG!." Rengeknya membuatku malu dilihat banyak orang. Sepertinya Sarah benar-benar mabuk.
"Astaga!." Gumamku menarik napas.
__ADS_1
Dengan sorot lampu berwarna lilac aku bisa mengetahui bahwa pria yang tadi mencoba menggendong Sarah adalah Lucas. Dia tengah menatapku dengan tajam, aku tersenyum padanya memberitahu Lucas bahwa ia tidak akan pernah bisa melampaui diriku dari segi apapun bahkan seorang wanita sekalipun.
"Kau kenal wanita ini?" Tanya Frischa.
Aku mengangguk. "Dia istriku."
Frischa membelalak. "Benarkah? dan kau membiarkan istrimu ini berkeliaran di bar?"
Aku menarik napas lagi sembari melihat keadaan Sarah yang sepertinya tertidur. "Kami bertengkar beberapa hari yang lalu, itu sebabnya dia ada disini." Jawabku dengan sedikit kebohongan.
"Aku harus membawanya pulang." Ku raih kedua kaki Sarah lalu membawanya keluar dari bar.
Merepotkan sekali, ku pikir dia bukan gadis pemabuk ternyata sama saja seperti semua wanita yang lainnya.
Ku hempaskan tubuhnya ke atas kasur, untung saja semua orang dirumah sudah tidur. Jika tidak esok pagi nenek pasti akan mengomel. Ku lepas kedua sepatunya dan meletakkannya dibawah ranjang. Mataku tertuju pada tangannya yang terluka.
"Bawakan kotak p3k." Pintaku pada Algard.
Ku bersihkan darah yang bercecer dijarinya, untung saja hanya serpihan kaca kecil yang tertancap dilengannya jika tidak mungkin lukanya perlu dijahit. Tiba-tiba saja Sarah terbangun, ia mengusap matanya lalu membuka jaket dan sesekali menggaruk tubuh.
"Kenapa disini panas sekali?!." Katanya kesal.
Aku tertawa melihatnya dipengaruhi alkohol.
"Apa ini? kenapa ditanganku ada perban?" Tanyanya memutar-mutar tangan.
"Tanganmu terluka." Ujarku menyimpan kotak p3k dinakas.
Sarah berkedip beberapa kali sembari menatapku. "Kenapa kau sangat tampan?" Katanya mulai membual. Tangannya menyentuh wajahku. "Hm~ kau punya kulit yang lebih bagus dariku. Kau pasti sering ke salon." Tangannya bergerak ke bibirku. "Bibirmu tebal." Gumamnya benar-benar mabuk, rambutnya berantakan juga ada sedikit lingkaran hitam dimata Sarah. Sepertinya dia tidak tidur dengan nyenyak.
"Kun?..." Sarah memanggilku.
"Apa?" Tanyaku masih senantiasa memperhatikan wajahnya.
Perlahan wajahnya mendekat ke wajahku saking dekatnya aku bisa menghirup aroma alkohol yang menyengat.
"Jika kau menciumku kau dalam masalah malam ini." Kataku dan satu detik kemudian mulut Sarah menyemburkan 'cairan limbah'. Dia muntah tepat dipakaianku. "****." Aku mengumpat tidak tahan dengan aromanya.
"Lega sekali." Gumam Sarah kembali tertidur.
Kun Pov End.
Langkah kaki seorang bocah membuatnya tersenyum senang. Sarah merentangkan tangannya lalu memeluk bocah tersebut. Bocah empat tahun dengan rambut yang dikuncir dua bagaikan tanduk.
"Mama~."
Sarah Pov :
Mataku langsung terbuka dan menyadari bahwa yang tadi itu hanyalah mimpi.
"Kenapa aku bermimpi mempunyai seorang anak perempuan." Gumamku menyentuh kepala yang pening. Aku mendudukkan tubuh diatas kasur. Kasur yang sangat empuk dan nyaman.
Ku usap rambut dan pandanganku jatuh pada seorang pria dewasa dengan rambut hitam sedikit kecokelatan. Dia sedang memandangi aku.
"Kenapa aku ada disini?" Tanyaku setelah sadar bahwa aku berada dikamarnya Kun.
Kun tidak mengeluarkan sepatah kata pun, tangannya menyilang didada sembari berjalan kearah ranjang. Dia mendekat.
Perlahan bokongnya mendarat disisi ranjang, dia masih menatapku dengan tajam. Matanya memicing menelisik setiap wajahku.
__ADS_1
"Sepertinya kau bersenang-senang setelah tidak menjadi istriku." Katanya membuatku berpikir. Apa maksudnya?. Aku memiringkan kepala dan bertanya padanya. "Apakah sesuatu terjadi padaku? Kepalaku sangat pusing seperti dipukul. Aw!." Aku berteriak saat Kun menyentil dahiku.
"Kau mabuk berat semalam, tidak ingat atau pura-pura tak ingat?. Kau bahkan muntah seperti air terjun."
Aku bergeming syok, benarkah semalam aku seburuk itu? sampai akhirnya aku sadar bahwa pakaianku sudah berubah. Sekarang aku bisa ingat dengan jelas, aku berada di bar bersama teman-teman kuliahku dulu. Lalu mereka memaksaku untuk minum dan aku tidak ingat kejadian selanjutnya.
"Siapa yang mengganti pakaianku?"
"Kau mau menebaknya?" Kun tersenyum mencurigakan.
Tidak mungkin Kun yang mengganti bajuku.
"Pasti pelayanmu yang mengganti pakaianku." Jawabku dan Kun tidak menjawab menandakan bahwa dugaanku benar.
Suara ketukan pintu membuat fokus ku teralih, Algard membuka pintu dan nampaklah seorang pelayan membawa nampan untukku.
"Selamat menikmati." Ujar pelayan lalu kembali keluar ruangan.
Tumben sekali seseorang membawakan makanan ke kamar. Aku melirik Kun.
"Perlu ku suapi?" Dia mulai menggodaku.
"Aku bisa sendiri." Kataku meraih sendok lalu mengaduk sup.
"Kau tidak makan?" Aku memasukkan satu suapan pertama.
"Aku ingin makan dari mulutmu."
Sontak makanan yang baru saja masuk di mulutku langsung keluar lagi. Kejadian itu membuat aku teringat dengan semalam. Mataku membelalak saat tahu bahwa aku mencoba untuk mencium Kun. Aku berteriak syok merasa malu, kenapa aku melakukan itu?.
Aku bisa mendengar kalau Kun tertawa. "Kau sudah ingat?" Kun memindahkan nampan ke meja kecil lalu tubuhnya mendekat membuat jantungku langsung berdetak kencang.
"Kau menyukaiku?" Pertanyaan itu sedikit menggangguku.
Kun terus mendekat sampai kepalaku menyentuh headboard dan tidak bisa pergi kemana pun. Aku terjebak.
"Semalam saat dibar, aku tidak pernah berpikir akan bertemu denganmu ditempat yang buruk itu. Dugaanku salah mengenai dirimu, tenyata kau wanita yang nakal, Sarah."
Aku sedikit mengerucutkan bibir tidak setuju.
"Aku pergi kesana untuk bertemu temanku." Jawabku meluruskan.
Kun tersenyum. "Maksudmu Lucas?"
Aku berkedip. "Seingatku tidak ada Lucas disana, aku bertemu dengan teman perempuanku. Sungguh."
Tiba-tiba saja Kun terkekeh. "Kenapa kau mencoba menjelaskannya padaku?."
"Huh? Aku.. aku tidak tahu." Kataku kikuk.
Kun menatapku cukup lama, dia beberapa kali berkedip seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Kau berat." Seruku mencoba mendorongnya namun tidak bisa.
"Setelahku pikir-pikir lagi, aku akan mendaftarkan pernikahan kita ke KUA."
Sarah Pov End.
to be continue....
__ADS_1
(Sumber Picture : Kun WayV - Pinterest.)