
Seorang laki-laki berkebangsaan Belgia berjalan dari bandara ke parkiran rumah sakit, tempat sebuah taksi yang akan membawanya kembali ke mansion diparkirakan. Dia adalah Raize, pria tiga puluh tahun yang baru saja pulang dari Belgia dan kembali ke Indonesia untuk melanjutkan pekerajaannya.
"Selamat siang, Sir!" sapa supir taksi itu ketika melihat penumpangnya ternyata bukan orang lokal.
Raize mengangguk. Terlalu lama bekerja di Indonesia membuatnya bisa menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa serhari-hari.
"Mari Tuan, silahkan masuk."
Raize mengangguk. Masuk ke dalam taksi. Sementara sang supir membantunya memasukkan koper ke bagasi.
Udara Indonesia yang kini Raize hirup mengingatkannya pada sosok perempuan yang selama ini dia pikirkan. Wanita dari negara ini, yang berbeda keyakinan dengannya, yang hubungannya tidak direstui oleh kedua orang tuanya, dia adalah Kayla. Raize sangat berharap dia bisa bertemu sosok itu lagi meskipun hanya sekali seumur hidupnya.
Pria bermata biru itu mendarat di rumah lamanya. Rumah yang penuh kenangan. Masih teringat jelas dalam memori Raize kebersamaannya dengan Kayla di bawah atap ini menjadi pasangan suami istri bohongan hanya demi warisan yang kakek Yaris janjikan dan nilai kuliah Kayla yang sempat ia sabotase. Itu adalah hal konyol yang pernah terjadi dalam hidupnya. Sialnya, hal konyol itu membuatnya menaruh hati kepada Kayla dan dia rasa begitu pula sebaliknya.
Seharian penuh Raize beristirahat di dalam kamar. Memeriksa proposal pekerjaannya untuk memastikan dia tidak akan menganggur terlalu lama selama beberapa hari ke depan.
Sore Raize yang terasa sibuk terpecah dengan deringan ponsel dari arah tas. Raize baru ingat dia perlu mengecek ponselnya seteleh berjam-jam terbang. Dia melihat ada nama Bima di layar ponselnya.
"Halo, Razie!" sapa Bima setelah Raize menerima panggilan kurang dari lima detik setelah ponselnya berdering.
"Halo, Bim!"
"Sudah sampai di Indonesia?"
"Sudah."
Terdengar tawa bahagia dari teman seperejuangannya itu. "Gimana kabarnya?"
"Lumayan capek," sahut Raize membuat Bima semakin melebarkan tawanya.
__ADS_1
"Istirahat lah, bro. Oh ya, ada pelatihan baru di rumah sakit Cahaya Husada. Mau datang nggak?"
Raize seketika melirik kalender yang terpasang di dinding samping meja kerjanya. "Kapan?"
"Mulai besok."
"Saya usahakan datang," sahut Raize membuat Bima memekik senang. Beberapa saat kemudian, Bima menutup telefonnya karena bilang dia sedang sibuk bekerja.
Raize menghela napas panjang. Dia tau Kayla pasti sedang bekerja di salah satu rumah sakit di kota ini. Dia akan senang seandainya dia bisa bertemu wanita itu di rumah sakit yang sama. Dia mendudukkan diri di atas ranjang. Menatap layar ponsel tempat nomor Kayla berada. Dia baru saja ingin memencet tombol telepon, tetapi dia tidak berani melakukannya. Dia takut saat mendengar suara Kayla, rasa rindunya semakin menjadi-jadi.
***
Hari pertama Raize menjalankan kunjungan sekaligus pelatihan di rumah sakit, dia sempat mencari-cari tau beberapa perawat yang lewat. Siapa tau ada Kayla di antara para perawat itu. Tetapi karena rumah sakit ini cukup besar dan tidak mungkin baginya bisa melihat seluruh pegawainya satu persatu dalam waktu satu hari, dia tidak bisa menemukan Kayla dengan mudah.
Para dokter di sini sangat menerima kedatangan Raize, termasuk para pasiennya yang kesenangan karena yang memeriksa mereka adalah seorang bule. Raize merasa mendapatkan tempat di hati orang-orang Indonesia seperti saat ia pertama kali bekerja di sini. Tetapi tetap saja tidak ada yang membuatnya sebahagia ketika melihat Kayla.
Sampai tiga hari kemudian, Raize sama sekali tidak melihat Kayla sampai laki-laki bermata biru itu pasrah kalau dia tidak satu rumah sakit dengan Kayla.
"Iya?" sahut Bima yang sedang menikmati teh hijaunya.
"Kamu hafal nama perawat-perawat yang ada si ini?"
Bima mengerling tak mengerti. "Perawat? Tau beberapa, sih. Memangnya kenapa?"
Raize menelan saliva. Untuk pertama kalinya setelah dia kembali ke Indonesia dia akan menyebut nama Kayla, nama yang membuatnya jiwanya bergetar. "Kamu tau ada perawat yang namanya ... Kayla?"
Bima mengerling. Mematung selama beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan santai. "Oh, si Kayla,. Tau, lah."
Hati Raize melompat kegirangan. Dia sudah tidak sabar mendengar lebih banyak penjelasan dari Bima. Tetapi dia berusaha mengendalikan diri agar tidak terlihat mencurigakan. "Jadi, dia bekerja di sini?"
__ADS_1
"Iya, sudah lama bekerja di sini. Kenapa nanyain dia?"
Raize menggeleng. "Kenapa aku nggak pernah lihat?"
"Kebetulan aja nggak pernah lihat. Aku yang tiap hari di ruangan aja sering lihat dia lewat sini."
Raize merutuki kelalaiannya. "Iya, kah?"
"Ya iyalah. Kalau mau ketemu dia, coba deh pergi ke ruangan pasiennya masih di bawah umur. Dia suka banget anak kecil."
Raize mengangguk mengerti. Rasa antusiasnya mendorongnya untuk bangkit dari duduknya sesegera mungkin dan pergi ke ruangan tempat salah satu pasien di bawah umur berada.
"Hari ini dia dapat sift pagi. Dia pasti sudah pulang. Kalau mau ketemu dia, besok aja sekalian."
Raize menghela napas kecewa. Tetapi dia tidak sepenuhnya kecewa, karena masih ada harapan yang membuatnya menunggu. Besok dia akan berangkat dengan antusias besar untuk berjumpa dengan Kayla setelah sekian lama.
Selama sisa hari itu, Raize susah untuk berkonsentrasi karena sudah tak sabar melihat wajah yang membuat seluruh hidupnya berubah bahagia. Dia sudah tidak sabar menunggu esok pagi. Berangkat bekerja dan bertemu dengan Kayla. Dia sangat berharap semuanya akan berjalan sesuai impiannya.
Keesokan harinya, Raize berangkat sift pagi. Dia berusaha mendapatkan izin untuk menggantiakn dokter yang menangani pasien di bawah umur agar kesempatannya bertemu dengan Kayla semakin banyak. Tetapi dari sekian banyak ruangan, Raize sama sekali tidak menemukan keberadaan Kayla.
Raize nyaris putus asa. Dia menyempatkan diri pergi ke ruangan Bima untuk mencurahkan kekhawatirannya. "Kok Kaylanya nggak ada, Bim?"
Bima menoleh ke arah Raize. "Lah, kamu cari Kayla sejak tadi?"
Raize mengangguk. Tidak perlu lagi menyembunyikan rasa sukanya kepada Bima. Bima bukan orang yang suka mengejek, jadi dia aman.
"Dia dapat sift siang hari ini."
Raize keluar ruangan Bima dengan hembusan napas kecewa. Merasa bersalah karena tidak konsisten dalam pekerjaannya hanya karena memikirkan masalah pribadi. Dia ingin membelok untuk menuju ke ruangan pasien berikutnya sampai ada seorang dokter memanggilnya dari koridor.
__ADS_1
"Raize, bisa kamu pergi ke ruangan 487? Saya ada operasi mendadak."
Raize mengangguk menyetujui dan mendatangi ruangan baru baginya, karena belum pernah dia datangi sebelumnya. Raize sama sekali tidak berharap lebih untuk melihat Kayla di koridor maupun di ruangan. Dia akan melakukan pekerjaannya dengan porfesional. Tetapi saat dia membuka ruangan 487, dia melihat sosok yang ia cari sedang menenangkan tangisan anak kecil berusia kurang lebih dua belas tahun. Ya, sosok itu adalah Kayla yang menoleh ke arahnya dengan ekspresi terkejut. Sementara Raize tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya karena berhasil bertemu dengan orang yang ia cari.