
Keesokan paginya, Kayla membuka mata. Ia mengerjab, mendapati tubuh dalam pelukan sang suami membuat dirinya sangat malu. Terlintas akan penyatuan mereka semalam, semakin membuat wajah Kayla menghangat. Mata Kayla memandang wajah suaminya, jemari wanita itu terangkat menyentuh hidung Avan, berpindah ke alis yang tebal, lalu berpindah lagi pada bulu mata suaminya. Gadis yang tak lagi menyandang gadis itu, sangat menikmati wajah lelap Avan yang tenang.
Jari Kayla bergeser turun ke bawah, menyusuri hidung dan berakhir pada bibir pria itu. Terlintas dalam ingatannya, bagaimana bibir itu telah menjamah dirinya. Wajah Kayla kembali menghangat, mengingat bagaimana mereka membaur semalam.
Bulu mata Avan tampak bergerak, dengan cepat Kayla menarik tangan hingga ke depan wajahnya, lalu memejamkan mata berpura-pura masih tidur. Mata Avan terbuka, melihat wajah tidur Kayla untuk kedua kalinya begitu membuka mata. Hal yang membuat Avan sangat bahagia, penuh syukur dan merasa di berkahi.
Pria berambut gondrong itu menyingkirkan anak rambut Kayla ke belakang telinga, dan menahan tangannya di sana. Perlahan wajah Avan mendekat, memberi kecupan di kening kayla. Avan bangkit dari tidurnya, dan mulai berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat mendengar suara pintu kamar yang di tutup, Kayla membuka matanya. Wajah Kayla terasa hangat, merasa perlakuan Avan semakin lembut dan manis usai penyatuan mereka semalam.
"Rasa nya malu sekali, apakah aku masih sanggup bertatap muka dengan nya?" Gumam Kayla terus merasai wajahnya menghangat.
Suara pintu kamar terbuka, Kayla cepat-cepat memejamkan matanya lagi. Rasa malu dan canggung terus Kayla rasakan. Dalam hati bertanya-tanya apa yang sedang Avan lakukan? Apa yang akan suaminya lakukan? Dengan mata terpejam, Kayla hanya bisa menajamkan telinga. Sembari terus menikmati degub jantungnya yang tak karuan.
"Ila,"
Kayla merasakan goncangan pelan di lengannya yang terbuka. Usapan lembut dari tangan Avan yang berpindah ke wajahnya. Semakin membuat jantung Kayla berdetak kencang. Wajahnya memerah, bingung haruskan membuka mata, di saatnya hati dan pikirannya di penuhi rasa malu. Kayla tak dapat mengontrol diri untuk tidak berdebar.
"Ila, bangun La. Sudah subuh."
Kayla menghela nafas pelan, sudah begini, tak mungkin ia akan terus berpura-pura tidur. Akhirnya, ia membuka mata juga. Wajah Kayla sudah sangat memerah oleh rasa malu karena semalam. Avan tampak duduk di pinggiran ranjang, memakai kaus hitam dan sarung bermotif wayang. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah sang istri.
"Kamu sakit?" Avan tampak sangat cemas melihat wajah Kayla yang memerah. Pria berambut gondrong itu menyentuh kening kayla, hal itu semakin membuat sang istri tersipu.
"Nggak panas kok."
Kayla membisu, tanpa tau bagaimana mengatasi perasaan nya yang tak karuan ini.
"Mandi dulu gih, udah mas siapin air panas di bak." Ucap Avan dengan lembut, sambil berdiri.
__ADS_1
Kayla bangun dan duduk. "Iya mas," akhirnya, ia dapat mengeluarkan sepatah kata.
"Bisa jalan?"
Kayla mengangguk ragu, mencoba menuruni tempat tidur dan menapak di lantai kamar yang terasa dingin.
"Bisa jalan?"
Kayla membungkam mulutnya, saat merasakan nyeri luar biasa di bagian sensitif nya. Ia tanpa sengaja meringis,
"Sakit ya?" Tatapan mata Avan mengarah pada wajah Kayla, hingga ia tak melewatkan sedikitpun ekpresi wajah Kayla yang meringis nyeri.
"Maaf ya, La." Ungkap Avan, lalu mengangkat tubuh Kayla yang memekik karena terkejut.
Avan membawa Kayla berjalan keluar dari kamar, dengan tubuh yang berbalut selimut. Wajah Kayla terus menghangat oleh perlakuan Avan. Sebenarnya, Avan tak pernah luput memperlakukan Kayla dengan baik. Hanya, kali ini, lebih terasa bagi Kayla. Mungkin karena semalam. Kayla menyenderkan kepalanya di bahu Avan. Memejam untuk menikmati suasana dan degub jantungnya sendiri.
Avan mendudukkan Kayla diatas kloset. Lalu menatap wanitanya dengan lembut.
"Masih hangat kok, La." Ucanya.
Avan lalu mengambil wudhu, dari tempat Kayla duduk. Mata indah itu terus memperhatikan gerak sang suami membasuh wajah, tangan, dan rambutnya. Setiap gerakan yang Avan hasilkan terlihat indah dan mempesona. "Kenapa aku baru menyadari ia seindah ini." Batin Kayla mengagumi.
Selesai berwudhu, Avan tersenyum memandang Kayla yang terbengong melihat ke arahnya."Mas tunggu, sebentar lagi waktunya subuh. Jangan terlalu lama melamun di kamar mandi."
Wajah Kayla semakin memerah, "aku nggak melamun kok." Kilahnya.
"Mas keluar ya," pamit Avan berjalan keluar dari kamar mandi, lalu menutup pintu tanpa suara.
***
__ADS_1
"Ila, joging yuk? Skalian nanti cari sarapan." Ajak Avan melipat sajadahnya seusai subuh berjamaah dengan makmumnya.
Kayla mengangguk menyetujui walau bagian sensitifnya masih terasa sedikit sakit.
Langit sudah berubah warna ketika Avan dan Kayla keluar dari rumah. Avan hanya menggunakan kaus hitam dan celana training, Kayla pun sama, hanya berkaus putih dan celana training hitam yang senada dengan warna jilbab bergonya yang gelap. Mereka berlari kecil mengelilingi komplek perumahan.
Satu jam berlalu, perut pun sudah terasa melilit minta di isi.
"Ila mau sarapan apa?"
"Terserah mas," jawab Kayla mengatur nafasnya yang memburu oksigen.
"Soto mau?"
Kayla mengangguk,
"Masih kuat lari nggak?" Tanya Avan menatap yang masih tampak ngos-ngosan mengatur nafas. Kayla mengangguk lagi tanpa menjawab, Avan tersenyum kecil, merasa tak tega dengan sang istri yang kelelahan sehabis pertempuran pertama mereka paginya masih joging.
Avan membelakangi Kayla dan berjongkok di depan nya. "Naiklah."
"Nggak usah mas, Ila masih kuat kok." Tolak Kayla tersipu dan menggeleng pelan.
"Mas pingin Gengdong dek Ila. Ayo naik dek."
Wajah Kayla seketika berubah warna. Untuk pertama kalinya di panggil dek, membuat bungah sekaligus malu.
"Cepat naik, nggak jauh kok warung sotonya, cuma di RTH komplek, warung Bu Ayu. Enak soto di sana, kamu belum pernah coba kan?"
Tak mendapat respon apapun dari sang istri, Avan tersenyum lagi,"buruan, capek jongkok kek gini, La."
__ADS_1
Kayla memeluk leher Avan, dan memposisikan tubuhnya di punggung pria berambut gondrong itu. Avan mulai melangkah, "rasanya nyaman seperti ini," gumam Avan dalam hati, apalagi saat Kayla menyenderkan kepala di bahunya. Avan tak henti-hentinya melekukan senyuman.
"Hal seperti ini, aku mohon jangan cepat berakhir."